Nada Siasat Vol. 1.6 - Kami, Tetap Bergerak

Masih banyak pekerjaan rumah yang harus segera dibereskan untuk menutup bulan ini dengan sedikit tenang. Sebab, pekerjaan tak selalu mudah untuk dikerjakan. Apapun itu, nikmati selagi bisa. Sama seperti minggu-minggu sebelumnya. Di akhir pekan ini kami kembali dengan daftar putar mingguan yang menjadi favorit untuk selalu didengarkan saat bekerja maupun saat bersantai. Kami selalu menikmati tiap sisi dari lagu yang kami dengarkan. Daftarnya tidak mesti harus yang baru, mendengarkan musik lama pun rasa-rasanya sah. Karena, di tiap musik yang kalian atau kami dengarkan pasti selalu ada memori tersendiri yang akan terbuka saat mendengarkan lagu tersebut.

Aamaga – Sepi

Masih membawa bendera Aamaga, Dhandy kembali meluncurkan single sekaligus sekuel kedua. Lagu ini ditulis berdasarkan pengalaman pribadi saat mengolah rasa “Sepi” di mana ia dihantam rindu, dibuai pengakuan, bahkan “dikhianati” diri sendiri. Dengan bekal bahwa semua perasaan itu “Valid” Aamaga percaya setiap orang punya ironinya masing-masing, terutama ketika mengecap rasa. Kerangka lagu disusun minimalis nir-instrumen dengan alasan setiap rasa sepi tidak bisa dibandingkan. “Bisa berupa sepi sebagai tidak berbunyi, sepi sebagai tidak berteman, sepi sebagai tidak diterima, sepi sebagai tidak dimengerti. Semua adalah hal yang sah, semenjak semua rasa itu ‘Valid’,” beber Dhandy. Dari segi lirik, ‘Sepi’ ditulis dengan kesederhanaan, tidak banyak perumpamaan agar lebih mudah menyalurkan perasaan Aamaga terhadap rasa sepi. Sedangkan komponen musik yang hadir dalam lagu ini berupa suara ?Ambience ?dibalut dengan Instrument Fretless Bass yang dimainkan oleh ?Danny Eriawan Wibowo?.

Diamente – Swiss Van Java

Jika Krontjong Toegoe melagukan semangat nostalgia melalui Oud Batavia, Diamente pun hendak mengadopsi semangat yang sama melalui lagu Swiss Van Java –sebuah komposisi musik Kroncong yang akan mengajak Tuan dan Puan mengecup eksotisme bentang alam dan sejarah kota Garut di masa lampau. Lirik lagu ditulis oleh bung Dicki. Judul lagu ‘Swiss Van Java’ tentu bukan tajuk yang sembarang dipilih. Selain erat kaitannya dengan kota kelahiran, judul ini pun diambil atas kerinduan Diamente akan kondisi kota Garut di masa lalu, seperti yang tersampaikan di dalam lirik yang syarat akan patahan sejarah. Selain lirik yang cukup nostalgis, keseluruhan komposisi aransemen dari single ini diramu dalam balutan musik yang harmonis. Lagu ini juga turut mengundang kolaborator musisi diluar personil, yaitu Bani Ambara yang mengisi Flute. Swiss Van Java – Diamente; Simplex Veri Sigillum (Simplycity is the sign of truth), merupakan sajian musik yang cukup sederhana namun berdenyut. Proses di baliknya tentu saja tak sesederhana menanggalkan segelas kopi yang sudah habis di atas meja.  Meski demikian, single ini merupakan refleksi kesederhana dari rumitnya pergerakan musik di kota kecil bernama Garut.

Dippydoo – Emotional Suffering

Setelah meluncurkan single debut pertama berjudul “Somebody Help Me to Fallin’ in Love” pada April kemarin, kini Dippydoo kembali merilis single keduanya ini. Bercerita tentang kondisi seseorang yang merasa sangat down setelah pasangannya memilih untuk mengakhiri hubungan mereka. Alasannya, hubungan ini sudah terlalu jauh berjalan dan banyak faktor yang membuat mereka tidak bisa bersama. Yap, perpisahan menjadi jalan terbaik untuk keduanya. Tentunya tidak mudah untuk menjalani dan beradaptasi setelah kandasnya sebuah hubungan. Rasa emosi, down, sakit hati, kesepian campur aduk menjadi satu. “Emotional Suffering” menjadi lagu yang menyedihkan namun dikemas dengan sangat groovy & chill, tentu saja dengan signature Dippydoo.

The White Flakes – When The Light Goes Out

Bercerita tentang seseorang yang membuat orang disekelilingnya ketergantungan terhadap dirinya. Lewat lagu ini, pendengar diharap bisa menemukan cara untuk menyikapi hal- hal tersebut. Seluruh bagian proses rekaman single ini dilakukan di Gumbreg Studio (Home Recording) pada bulan Maret 2020. Sedangkan konsep Artwok dikerjakan oleh Hafiz Ramadhani serta bagian fotografi dikerjakan oleh Zaka Setiaputra. Latar belakang terbentuknya band ini diawali saat Hafiz Ramadhani memiliki beberapa materi yang dirasa kurang cocok untuk projek sebelumnya, yaitu Sweet After Tears, bertemu Zaka Setiaputra yang juga punya minat di band, keduanya mengajak Ragil Panuntun dan Helmi Said hingga pada akhirnya mereka ber-4 memutuskan membentuk sebuah band pada tanggal 2 February 2020. Nama The White Flakes dipilih oleh Hafiz yang terinspirasi dari serial Narcos. Setelah berhasil melepas single ini ke pendengar, proyeksi The White Flakes berikutnya adalah fokus pada pembuatan Clip Video dan bisa merilis sebuah album ditahun 2021.

Fis Duo – Rajut Rindu

Rajut rindu merupakan satu lagu yang ada pada album merawat dendam. Lagu ini ditulis oleh Ferdy Soukotta dan dikerjakan bersama dengan rico matahelumual Zifyon Pattinama, Yabes Aunalal dan kekasihnya Chrisema Latuheru. Kota berusaha menceritakan pengalamannya menjajakan ingatan pada musik-musik Ambon pada era Hawaiian yang pekat dengan tema perpisahan dan rindu. Lagu ini juga mengembalikan kenangan kita akan lantai dansa era hawaiian, gerakan dansa katreji yang begitu lekat serentak mengajak kita untuk berdendang. Beginilah bentuk lagu party anak muda Ambon di era hawaiian dan untungnya masih dijaga sampai saat ini. Jika dilihat dari liriknya, lagu ini bercerita tentang pengalaman perpisahan tahun 80an saat dimana rindu tak pernah mati begitu pula dengan jarak. Banyak yang pergi merantau ke jawa dan Jakarta dengan tujuan merubah nasib mereka walaupun yang dipertaruhkan ialah cinta dan kekasih. Lalu semua hanyalah masalah waktu, pulang atau lupa, pulang dan kembali. Bisa dibilang ini adalah kisah nyata yang terjadi pada era tersebut.

Harum Manis – Gelandang

Single ini adalah awal baru dari perjalanan musik Harum Manis, setelah sempat beberapa kali merekam demo dan bereksperimen dengan sound dan genre pada kurun waktu 6 tahun sejak band didirikan. Pada single ini, Harum Manis mengusung genre pop yang dikemas secara soulful dan dreamy. “Gelandang” menceritakan tentang sebuah hubungan unrequited dari sudut pandang yang submissive, seperti yang dijelaskan oleh penulis lagu Sulthon Kamil “(tentang) Relevansi tubuh dan perinciannya di dalam ketertarikan satu sisi, dimana persembahan seluruh badan untuk dipergunakan dalam bentuk apapun tidak digubris, namun, badan-badan lain-yang tingkat apresiasinya tidak setinggi badan ini-disentuh; memberikan kesan bahwa untuk dapat disentuh, mungkin badan dan bakti ini berada di paling belakang antrian.” Pada awal dibentuk, Harum Manis beranggotakan 4 orang dan sempat mengalami beberapa kali pergantian personil pada perjalanannya hingga kini menyisakan dua orang yaitu Kamil dan Adib. Setelah merekam beberapa demo sepanjang 2013-2019, mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan Harum Manis ke tahap produksi musik yang lebih serius hingga akhirnya single pertama ini.

Purpla – Ayolah…!

Setelah sukses merilis single bertemakan nostalgia “Timur Jakarta” pada akhir Maret lalu, Purpla kembali meluncurkan single terbarunya yang kali ini bertemakan sepak bola. Purpla adalah band beraliran Alternative Rock/Pop yang berbasis di Jakarta dengan beranggotakan Danar Astohari (vokal), Dewandra Danishwara (gitar/keys), Bayu Malindo (bass) dan Dioma Asatsuku (drum). Pada single terbarunya ini, mereka mencoba untuk mengeluarkan sisi sepak bola yang selalu mereka tampilkan pada band dari awal terbentuk. Bukan tanpa alasan Purpla merilis single bertemakan sepak bola, karena memang semua personil Purpla adalah pecinta sepakbola baik liga lokal maupun internasional. Dalam penulisan  lirik, “Ayolah…!” mencoba memberikan energi untuk tetap semangat dalam menghadapi tantangan. “Lekas berdiri, jangan biarkan dirimu tersungkur di tanah” adalah potongan lirik yang dapat diterapkan baik di lapangan sepak bola maupun kehidupan sehari-hari. Purpla berharap lewat single baru ini dapat menjadi ‘anthem’ baru bagi para penggemar sepakbola Indonesia. Dengan lirik yang bercerita tentang perjuangan menghadapi tantangan di dalam lapangan, lagu ini memang ditujukan bagi seluruh penggemar sepakbola nasional maupun internasional.

Cumb – Do You Like it Like This

Pernahkah kalian merasa seperti sendirian di dunia ini, dan juga muak untuk menggapai serta mengejar sesuatu yang belum pasti? Lagu ini kemungkinan sangat pas untuk merespon perasaan dan situasi yang sedang dirasakan itu. Lagu ini adalah hasil produksi secara kolektif antara pihak band dan diproduksi oleh Orgasm Records. Cumb adalah band beraliran Britrock kontemporer yang berasal dari Tenggara pulau Sulawesi, yaitu Kendari. Terbentuk di tahun ini, mereka adalah Adhewans (vocal), Vebri (gitar), dan Lerry (drum). Dalam lagu ini, mereka menyematkan banyak harapan agar kehadiran mereka bisa menjadi angin segar bagi industri musik Indonesia, khususnya di kota Kendari itu sendiri.

Teks: Adjust Purwatama
Visual: Arsip dari Berbagai Sumber

The Box Perkenalkan Formasi Baru Lewat Live Session

Pandemi yang sudah berlangsung selama dua tahun ini telah membuat kita semua kembali dari awal. Menyusun ulang rencana dan mulai menata kembali langkah-langkah yang akan diambil. Kini industri sudah mulai...

Keep Reading

Sajian Ska Berbeda dari Slowright

Slowright, unit ska dari kota Malang baru-baru ini telah melepas album mini teranyarnya bertajuk Believe. Dirilis oleh label rekaman yang bermarkas di Yogyakarta, DoggyHouse Records, lewat rilisannya kali ini Slowright...

Keep Reading

Zizi yang Menyapa Kampung Halaman Lewat Hometown Tour

Setelah menyelenggarakan showcase perdananya yang bertajuk Unelevated Intimate showcase di Bandung pada akhir Februari lalu. Kini, Zizi kembali ke rumah tempat ia tumbuh dan menemukan passion terbesar dalam dirinya. Ia...

Keep Reading

Realita Kaum Pekerja di Nomor Kolaborasi Dzulfahmi dan Tuantigabelas

Dzulfahmi, MC dari kolektif Def Bloc dan Dreamfilled yang bermukim di Jakarta baru-baru ini (6/5) telah memperkenalkan karya terbarunya bertajuk “Rotasi”. Lewat rilisannya kali ini Dzulfahmi menggaet salah satu nama...

Keep Reading