Nada Siasat: untuk Hari Musik Nasional

Penetapan tanggal 9 Maret sebagai Hari Musik Nasional dilakukan setelah mempertimbangkan bahwa musik adalah ekspresi budaya yang bersifat universal dan multidimensional.

Musik dianggap mempresentasikan nilai-nilai luhur kemanusiaan, serta memiliki peran strategis dalam pembangunan nasional. Di momen ini kami mencoba memberikan beberapa rentetan lagu yang merepresentasikan Indonesia dari berbagai sudut, berikut pilihan siasatpartikelir:

 

Life Cicla – Artikain

Life Cicla Hadir di Kota Cibinong Bogor, pada tahun 2013. berawal dari proyek solo Yos Bonar yang berambisi dalam idealisnya untuk membuat sebuah wadah bermusik.

Dengan visi misi yang sama siapa saja bisa ada di dalamnya. Setelah dua tahun lalu merilis single ‘Api’ akhirnya mereka bersepakat menjadikan Life Cicla sebagai band dengan personil tetap. Nama Life Cicla sendiri berarti  “Siklus Kehidupan”, diambil dari konsep musik yang berisi tentang bagaimana memandang dan menjalani hidup. Unsur Ethnic & Rockoustic tidak lepas dari karya-karyanya. Sentuhan Gamelan dan instrumen – instrumen tradisional lain lahir ketika mereka menyadari mengagumi keragaman dan keunikan di Indonesia.

Setelah vakum selama hampir dua tahun, unit Folk-Rock, Life Cicla kembali dengan single terbaru berjudul “Artikain”. Single ini jadi rilisan terbaru mereka setelah terakhir merilis “Api” yang di tahun 2018 silam. “Artikain” mencoba mengupas makna kain (pakaian) melaui beberapa kiasan. Salah satunya adalah gambaran ketika manusia kehilangan dua fungsi indranya, yaitu mata dan telinga.

Senyawa – Tanah

Senyawa Jogjakarta yang digawangi oleh Rully Shabara dan Wukir Suryadi menjadikan unsur musik tradisional Indonesia, eksperimental, dan menciptakan warna musik baru di Indonesia yang benar-benar kontemporer. Teknik vokal Rully Shabara yang khas dan terdengar hingar-bingar. Instrumen yang diciptakan oleh Wukir Suryadi ‘Bambu Wukir’ yang menjadikan musik Senyawa menjadi ‘megah’. Sejak awal terbentuk, karena pertemuamn antara Rully Shabara dan Wukir Suryadi pada tahun 2010 silam. Melalui lagunya yang berjudul “Tanah” senyawa menyajikan sentuhan yang unik pada instrumen musik dan gaya vokal Rully Shabara.

Hanyaterra – Hidden Sound #1

Band folk Hanyaterra asal Jatiwangi ini digawangi oleh Tedi En (vocal, guitar, octarina), Andzar Fauzan (Bass, Vocal), Ami Iyang (Sadatana, Vocal)   merupakan salah satu band yang mumpuni dalam mengeksplorasi kekayaan budaya lokal secara inovatif.

Menyadari akan tanah liat yang sangat melimpah di Jatiwangi, Hanyaterra akhirnya bereksperimen membuat alat musik dengan memanfaatkan tanah liat bahan dasar kramik dan genteng.

Pada bulan Oktober 2014  Hanyaterra menjajal Eropa dengan ‘Tour To Polandia’, kemudian pada bulan April 2015 Hanyaterra membuat album bertajuk “Janji Tanah Berani”. Hanyaterra mulai melambung setelah di undang ke beberapa Stasiun TV

Terdapat hal yang menarik di salah satu lagu mereka “Hidden Sound #1”, lagu ini menyuguhkan pengalaman berbeda dan magis untuk pendengarnya, Tedi En sebagai vokalis, bermonolog  tentang asal-usul Jatiwangi dengan diiringi alunan instrumen musik yang terbuat dari tanah liat khas mereka. Hidden Sound #1 berhasil mendistribusikan pesan kebudayaan daerah Jatiwangi.

Rubah Di Selatan – Mata Air Mata

Rubah Di Selatan datang dari Yogyakarta yang dibentuk pada tahun 2015, beranggotakan 4 orang, Malinda (Vokal), Ronie Udara (Perkusi), Gilang (Gitaris) dan Adnan (Piano).

Mengusung musik Folk, Rubah Di Selatan kental akan budaya di setiap elemen lagu maupun penampilannya-nya, menggunakan beberapa alat musik tradisional seperti Saluang alat musik khas Sumatera Barat, Karinding dan kendang.

Rubah Di Selatan resmi mengeluarkan album pertama mereka pada Awal Bulan Februari 2019 dengan bertajuk  ANTHERA.

Album pertama Rubah Di Selatan berisi 10 lagu di dalamnya yang bercerita tentang langkah awal Rubah Di Selatan, dan dua diantaranya diangkat dari tragedi letusan Gunung Merapi “Merapi Tak Pernah Ingkar Janji”, dan “Mata Air Mata” yang mengisahkan daerah selokan Mataram, yang terinspirasi dari cerita tragedi masa lampau saat masih diberlakukannya Romusha saat penjajahan jepang.

Theory Of Discoustic –  Lengkara

Sejarah panjang tentang Kerajaan Gowa, kehebatan Sultan Hasanuddin yang senantiasa direproduksi dari masa ke masa, hingga anggapan bahwa wilayah ini merupakan wajah dari kemaritiman Nusantara merupakan elemen-elemen yang membentuk Makassar menjadi tak sekadar sebuah kota.

Unsur-unsur tulah yang kemudian mengalir dalam setiap nadi kehidupan orang Makassar. Ia ada di spektrum sosial, politik, sampai seni. Dan ketika berbicara dalam konteks seni, terutama musik, Theory of Discoustic adalah representasi yang tepat untuk memperlihatkan keotentikan Makassar. Band yang terbentuk pada tahun 2010 ini terdiri dari Megawati (Vokal), Reza dan Nugraha (Gitar), Fadly (Bass),  Hamzarulla (Keyboard) dan Adrian (Drum).

Merilis sebuah album pendek pada tahun 2013 yang bertajuk Dialog Ujung Suar. Album ini memuat dua komposisi: “Teras Khayal” dan “Bias Bukit Harapan”. Tak lama berselang, Theory of Discoustic kembali melepas album yang diberi judul: Alkisah (2014). Empat balada, dari “Lengkara” hingga “Satu Haluan”, mengisi album tersebut. Sebelum akhirnya album mereka menjadi satuan yang utuh ‘La Marupe’ demikian tajuk album itu, sukses menyampaikan visi kreatif Theory of Discoustic. Delapan lagu di dalamnya adalah bukti yang kongkrit.

Theory of Discoustic tidak bertumpu pada satu dimensi belaka. Ia melebur dengan elemen lainnya seperti sampling dan musik etnik khas Bugis—menciptakan harmoni yang indah dan juga membuai.

Y-DRA – Kombatan Aspal Gronjal

Y-DRA adalah Yennu Ariendra yang kerap dikenal melalui Melancholic Bitch dan Belkastrelka, seorang musisi dan seniman yang memiliki project musik solo. Y-DRA merilis album elektronik ini bertajuk ‘No Brain dance’ sebagai bagian dari penelitiannya yang berfokus pada musik Electronic Dance lokal. Salahsatu yang tidak bisa dihiraukan begitu saja dari album berisi 13 Trek ini adalah ‘Kombatan Aspal Gronjal’, sejak awal dimulai lagu ini saya disuguhkan dengan knalpot racing bor up ala motor 2 tak yang sering ditemui di ajang kontes balap illegal di sisi kota, lalu disusul dengan perpaduan remix yang mengambil sample gendang yang berbaur. Lagu ini jelas merepresentasikan isu-isu masalah budaya pinggiran Indonesia. Sangat sulit memilih salah satu lagu dari keseluruhan album ‘No Brain Dance’ Y-DRA untuk mewakili isu-isu yang sering kita jumpai di Indonesia baik di kota urban, maupun daerah, karena hampir dari tiap trek dari ‘No Brain Dance’ merepresentasikan itu semua.

 

Teks: Rizky Akbar

Visual: Arsip dari Berbagai Sumber

My Bloody Valentine Kritik Spotify Soal Lirik yang Salah

Di antara kalian pasti ada dong yang pernah memutar lagu di Spotify sambil menikmati fitur lirik yang disediakan. Lewat fitur ini, para pengguna Spotify bisa sambil bernyanyi sesuka hati. Tapi,...

Keep Reading

Patahan Imajinasi Masa Kecil di Nomor Terbaru Latter Smil

Latter Smil, duo asal kota Palu yang dihuni oleh Dian dan Eko, dipermulaan tahun 2022 ini kembali melepas karya teranyarnya bertajuk “Kalila”. Lewat single ini Latter Smil mencoba untuk memberikan...

Keep Reading

Perjalanan Skena Musik Ambarawa dalam Album Kompilasi They Hate Us

Terlihat dalam beberapa tahun terakhir, produksi album kompilasi skena musik lokal mulai kembali marak. Tercatat ada beberapa deretan kompilasi yang terbit pada setahun-dua tahun ke belakang, seperti Bikin Kompilasi: Bless...

Keep Reading

Dua Album Milik Semiotika Akhirnya Dilepas Secara Digital

Usai merilis album penuh bertajuk Eulogi, unit post-rock asal Jambi, Semiotika akhirnya merilis dua album terdahulunya Ruang (2015) dan album mini Gelombang Darat (2018) ke dalam format digital. Sementara album...

Keep Reading