Nada Siasat: Suara dari Tanah Borneo

Mungkin tidak banyak yang membicarakan kancah musik Kalimantan sebanyak yang membicarakan hal sama di kota-kota besar pulau Jawa. Borneo terdengar seperti negeri antah berantah dalam hal ini bagi beberapa telinga. Saat Skid Row datang ke Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur untuk bermain di Rock in Borneo 2017 silam saja, sang vokalis mengatakan hal seperti ini, “Kami pernah mendengar soal Borneo. Tapi itu terdengar seperti negeri yang jauh, seperti ada di negeri dongeng.”

Akan tetapi, sebenarnya banyak sekali musisi asal Borneo yang bisa diperhitungkan. Skena permetalan Tenggarong yang sebelumnya dibahas misalnya, punya banyak sekali nama yang bisa bersaing seperti Kapital. Lalu, dari Samarinda, Murphy Radio muncul dengan perkembangan postrock, mathrock, yang bahkan jarang ditemukan di kota-kota besar.

Selain itu, ada banyak musisi lain yang menyebar di tanah Borneo. Siasat Partikelir mencoba merangkum beberapa rilisan dari tanah tersebut. Berikut kami hadirkan Nada Siasat spesial pulau Kalimantan. Selamat mendengarkan.

Rio Satrio – “Melati”

Setelah mencuri perhatian dengan “Senja, Diaksara Bintang”2018 silam, Rio Satrio muncul kembali dengan single “Melati”. Ini merupakan nomor kedua Rio tahun ini setelah sebelumnya merilis “Saling Menuntun”. Musisi asal Samarinda ini kembali mengangkat tema keluarga dalam liriknya. Jika dalam “Senja, Diaksara Bintang” dibuat untuk anaknya, “Melati” menceritakan tentang mimpi kakak kandung Rio menjadi orang besar.

Fajar Afdau – “Keheningan”

Progresi-progresi tak biasa khas grunge aliran Chris Cornell sedikit terasa dalam lagu ini. Pemilihan nada vokal Fajar Afdau juga lumayan unik, biarpun terasa lumayan mengejar ke progresi akor yang tidak begitu biasa. “Keheningan” merupakan single debut solois asal Pontianak ini. Lagu tersebut merupakan tabungan sang musisi sejak 2013 namun baru digarap tahun ini.

SVN – “Distance”

“Distance” merupakan karya terbaru dari band asal Pontianak, Svn. Lagu ini kelanjutan dari single debut mereka yang dirilis tahun lalu, “Feels”. Seperti judulnya, Billy Ditya (vokal), Yudi Puguh (gitar), Fahmi Husaini (bass & sequencer) mencoba mengangkat lirik yang dibuat oleh rekan mereka Victoire Vissia Vanessa tentang hubungan yang dilaksanakan jarak jauh.

Yurigarins – “Tiba”

Yurigarins merupakan kombinasi yang pas antara musik slow rock Malaya macam Iklim dan Amy Search berpadu dengan band-band pengiring anime lawas macam Saint Seiya. Coba saja dengar lagu mereka yang bertajuk “Tiba”. Tanpa bisa terlalu menjelaskan, permainan kuintet asal Balikpapan ini sungguh memberi nuansa nostalgia yang sudah dibahas sebelumnya. Selain itu, liriknya pun jika ditilik sama filosofisnya dengan serial Neon Genesis Evangelion.

“Di dalam lirik ini bercerita dari dua sudut pandang, yang pertama dari sudut pandang janin (masih dalam kandungan) yang baru saja ditiupkan ruh, lalu yang kedua sudut pandang orang tua yang sedang menantikan kelahiran anaknya. Saat-saat janin akan dilahirkan dan dia telah mengikrarkan janji-janji merdu, yang bisa berangsur-angsur terlupakan saat dia sudah merasakan kesadaran penuh dan beranjak dewasa,” tulis mereka dalam siar pers.

Summer in February- “Tentang Kita”

Skena pop punk dan skateboard Kalimantan merupakan hal yang lumayan berjalan beriringan. Summer in February pun menyatukan keduanya dalam klip untuk lagu mereka, “Tentang Kita”. Para pemuda asal Kota Manis, Pangkalan Bun, Kalimantan tengah ini ingin menceritakan soal romansa. Namun, ternyata sang penulis lirik sekaligus vokalis, Ricoe, bukan menceritakan tentang sepasang kekasih tetapi bromance antar skateboarder.

Derana ft. Ozane Bill – “Indonesiaku”

Yang ini datang dari bagian utara Kalimantan. Unit pop asal Tarakan, Derana, merilis lagu nasionalis berjudul “Indonesiaku” menjelang datangnya hari kemerdekaan. Dalam lagu tersebut, Derana mengajak musisi sekampung, Ozane Bill, untuk mengisi vokal. “Indonesiaku” merupakan kelanjutan dari single selftitled mereka yang dirilis dengan bantuan musikus etnis dari Yogyakarta, Adam Alydrus, Juli lalu.

Biru Tamaela – “Kunang-Kunang”

“Binatang kunang-kunang, hanya hidup untuk memberlangsukan kehidupan itu sendiri. Pejantannya, akan rela menjadi makanan bagi nutrisi anak-anaknya. Cinta yang bisa dikatakan begitu tulus, namun di sisi lain, cukup kurang ajar,” tulis Biru Tamaela dalam siar pers.

Kesetiaan dan pengorbanan kunang-kunang di atas memberi ide bagi unit folk asal Balikpapan ini untuk menulis lagu berjudul, tentunya, “Kunang-Kunang”. Ini merupakan karya pertama mereka tahun ini. Sebelumnya, mereka telah meluncurkan sebuah EP bertajuk Gadis Kecil pada 2018 dan single dengan judul “Tak Mampu” tahun lalu.

 

Teks: Abyan Nabilio
Visual: Arsip dari berbagai sumber

Persembahan Dhira Bongs Pasca Pandemi

Dhira Bongs, solois pop asal Bandung yang makin melebarkan gaung dengan merilis album studio baru bertajuk A Tiny Bit of Gold in The Dark Ocean. Album penuh ketiga setelah My...

Keep Reading

Kejutan Dari Bas Boi Yang Menggandeng Feel Koplo

Melangkah tanpa henti, Basboi kembali merilis materi yang sudah beberapa kali iya bawakan sebagai kejutan di konser-konsernya berjudul U DA BEST. Sebelumnya, solois ini sukses menggelar tur albumnya di enam...

Keep Reading

Merekam Dinamika Perjalanan Hidup

The Skuy memutuskan untuk terus berproses. Setelah sebelmunya sudah merilis dua single berjudul “Pak Budi” dan “Senandung” akhirnya The Skuy mengeluarkan debut albumnya dengan tajuk “SALINDIA”. Nama tersebut adalah sebuah...

Keep Reading

Agresi Menjelang Akhir Pekan

Tidak terasa sudah memasuki penghujung September. Selain meluangkan waktu menyiapkan segala keperluan untuk berakhir pekan sendiri atau bersama yang tersayang, ada baiknya jika menyediakan space untuk mengisi amunisi baru bagi daftar...

Keep Reading