Nada Siasat: Sajian Segar di Akhir Pekan

Oktober sudah berlangsung lebih dari setengah jalan. Para musisi tidak henti-hentinya menelurkan karya biarpun badai belum berlalu. Cercah harapan sedikit terlihat dengan diperbolehkannya acara berskala besar untuk diselenggarakan, seperti PON Papua 2021. Semoga harapan ini berlanjut menjadi rezeki untuk para musisi yang tidak menyerah di masa sulit agar karyanya tidak menguap begitu saja.

Dari sekian deretan musisi yang merilis karya, Tim Siasat Partikelir merangkum beberapa nama yang menarik untuk di dengar. Mereka memainkan beragam genre musik dan berasal dari berbagai belahan Indonesia pula. Berikut nada pilihan Siasat Partikelir pekan ini.

Viori – Kesan

“Kesan” merupakan lagu ceria tentang pandangan pertama. Lagu ini berangkat dari seorang pria yang jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap sosok wanita yang ia lihat. Namun, sang penulis lagu justru menulis lagu ini memposisikan subjek yang jatuh cinta pada pertama ialah wanita tersebut. Representasi melalui lirik yang diputarbalikan dari fakta yang sebenarnya merupakan harapan yang besar bahwa wanita tersebut juga memiliki perasaan yang sama seperti pria tersebut.

Lagunya sendiri diciptakan oleh produser Viori, Hary Hutajulu. Dalam pembuatannya, ia terinspirasi oleh Guruh Soekarno Putra, Yockie Suryaprogo, Fariz RM, dan Chrisye dengan kejelimetan pop kreatif mereka yang tidak begitu diterapkan dalam lagu ini.

Narnia – Terlarut

Perjalanan unit pop alternatif asal Banjarnegara, Narnia terus berlanjut dengan dirilisnya “Terlarut” pada Jumat (15/10) di semua digital platform. Lagu tersebut menjadi lagu ketiga setelah “Tak Kan Kembali” dan “Akankah Datang”.

Single ketiga ini pun menjadi bukti akan produktifitas band yang beranggotakan Agung Pertiwi pada vokal, Babran dan Eybemat pada gitar, Rizalpras pada kibor, serta Rosiamade pada drum. Produktifitas dan kebersamaan inilah yang akhirnya membuat mereka terlarut bersama.

Sama seperti single sebelumnya, untuk proses produksi dari “Terlarut” masih tetap melibatkan orang-orang terdekat dan penggarapan aransemen pun dilakukan bersama semua personel Narnia. Dengan adanya tiga lagu yang sudah dirilis, diharapkan nantinya dapat terbentuk album yang dapat dinikmati bersama.

Untuk pendistribusian secara digital, Narnia masih mempercayakan kepada Acarakita Indonesia yang merupakan media dan jaringan distribusi digital yang berbasis di Purwokerto. “Terlarut” sudah dapat dinikmati di digital platform seperti Spotify, iTunes, Deezer, Youtube Music, dan lainnya terhitung Jumat (15/10).

Lullavile – Bianca

Lullavile adalah duo indie pop asal Pontianak dengan gaya musik yang mengambil banyak inspirasi dari aliran shoegaze atau dream pop, namun juga tidak sepenuhnya jatuh ke dalam dua genre spesifik tersebut, dengan berkiblat pada grup-grup musik seperti My Bloody Valentine, Kinoto Teikoku, Westkust, dan Sonic Youth.

Grup yang merupakan buah pikir dan kreasi dari dua sahabat yang tengah kebosanan ini pun memulai langkah perdananya dengan terjun ke dunia perekaman melalui lagu “Bianca“, sebuah lagi yang bercerita dan mengambil perspektif seorang gadis yang pernah menjadi korban tindak kekerasan dan pelecehan. Bait “I’m mot ashamed, ‘coz I can stand it” menunjukan sisi gentar dari gadis tersebut, “Menjadi korban dan bertahan bukan lah hal yang memalukan, melainkan kekuatan”.

Shellin – Tantrum

Shellin tebentuk sejak 2016 dan beranggotakan empat anak muda, Ryan Abo (vokal, gitar), Dwiky (gitar), Rifqy (kibor), dan Icang (drum). Setelah merilis single yang bertajuk “Opia” pada bulan Juni lalu dan merilis trilogi “Interpretasi” dalam bentuk Session, Shellin memasuki babak kedua dari kampanye menuju album kedua mereka, Tanah Terik untuk Berdiri dan Mati.

Hal yang mendasari dari pembuatan single “Tantrum” ini adalah kondisi di masa pandemi, banyak orang yang mengalami kesulitan dan menghadapi musibah yang sama, banyak orang yang mimpi dan tanggung jawabnya dipaksa berhenti, dan banyak juga menimbulkan rasa frustrasi kepada beberapa orang. Bahkan semenjak pandemi banyak kasus orang yang mengalami sebuah sindrom bernama Post Power Syndrome, di mana banyak orang yang merasa frustrasi karena kehilangan pekerjaannya karena kondisi pandemi ini,

“Pada babak kedua pandemi ini, kita semua sedang mengahadapi masalah dan musibah yang sama. Rasa frustrasi menanti kapan kondisi ini akan berakhir, lama-kelamaan menimbulkan amarah pada beberapa orang yang mimpi dan tanggung jawabnya terpaksa terhenti oleh pandemi” Ujar Ryan Abo selaku penulis single ini.

SMSR – Pollyana

Band dari Jakarta, SMSR kembali menyajikan asupan untuk telinga dengan merilis single terbarunya berjudul “Pollyana” pada Jumat (15/10). Setelah perilisan tiga single sebelumnya, “Pollyanna” merupakan rentetan dari perjalanan menuju album pertama SMSR. 

“Lagu ini memiliki nuansa yang lebih ceria dibandingkan lagu-lagu di album. Bercerita tentang pikiran optimistis yang bergesekan dengan realistis sehingga sadar bahwa semua keadaan dapat mengarah menjadi buruk ataupun baik,” ujar sang pemain synth sekaligus vokalis, Rerez. 

SMSR juga sedang mempersiapkan Egress, sebuah album debut yang bisa dinikmati pada bulan November mendatang. 

Sun D – Famous

“Famous” adalah lagu ketiga dari EP Go Crazy yang berkolaborasi bersama Masak Musik, setelah sebelumnya SunD merilis “Go Crazy” dan “IFeelGood”. Lagu ini bercerita tentang keresahan Sun D terhadap orang-orang yang melakukan apa saja demi viral dan terkenal melalui  media sosial.

Sun D sendiri berharap melalui lagu ini orang-orang akan sadar bahwa mungkin mencari rezeki itu sulit, tapi masih banyak cara lain yang lebih baik dibanding melakukan hal-hal yang mungkin akan merugikan diri sendiri di kemudian hari.

Siska Kabur – Hanya Kata-Kata

Namanya mungkin merupakan hasil pelesetan dari band death metal asal Jakarta. Namun, musik yang Siska Kabur bawakan begitu jauh dari metal. Duo asal Tangerang ini merupakan unit folk yang mengandalkan gitar akustik, bisa terdengar dari lagu terbaru mereka “Hanya Kata-Kata”.

“Hanya Kata-Kata” merupakan keluhan Siska Kabur tentang keberadaan orang-orang yang mereka anggap sahabat di waktu sulit. “Di mana sabatku di saat aku susah? Di saat aku sedih? Di saat aku sendiri?” tanya mereka di awal lagu. Lagu ini juga dirilis bersamaan dengan sebuah video pendek yang diciptakan oleh Jason Ranti.

Teks: Siasat Partikelir
Visual: Arsip dari berbagai sumber

Libido Bermusik Muto dalam EP Debut

“Dalam proses penciptaan lagu-lagu Muto, kata ‘yeah yeah yeah‘ juga merupakan ekspresi kepuasan mereka terhadap lagu-lagu yang mereka ciptakan; seperti merasakan nikmatnya masturbasi,” jelas keterangan pers yang dikirimkan Muto mengenai...

Keep Reading

Urban Sneaker Society Akhirnya Kembali Secara Luring

Kabar gembira bagi para fesyen enthusiast, Urban Sneaker Society 2021, event Sneakers tahunan yang diadakan USS Networks sejak 2017, kembali hadir secara offline di Jakarta Convention Center (JCC) pada tanggal...

Keep Reading

Nuansa Abad Pertengahan Progresif di Karya Baru Tara Sivach

Tara Sivach merupakan seorang solois asal Jakarta yang mencoba masuk dalam ranah goth. Dengan nuansa abad pertengahan kelam khas gotik yang dicampur dengan rok semiprogresif dan gaya vokal klasik, ia mencoba...

Keep Reading

Garside Masih Berlirik Emo di EP Terbaru

Kuintet asal Medan, Garside, baru saja melepas sebuah album mini dengan tajuk Not My Tea. Biarpun tak mengusung musik emo namun lirik mereka terlihat mengarah ke sana. Hal tersebut terlihat dari penjelasan mereka...

Keep Reading