Nada Siasat: Pilihan Eka Annash

Kamu mungkin punya kawan yang bermusik sekaligus kerja kantoran di sebuah agensi. Nampaknya, ini lah cara hidup paling populer yang dijalankan anak band generasi ini. Namun, ada nama generasi sebelumnya yang terselip di kepala jika membahas band dan agensi, Eka Annash.

Sukses malang melintang menjadi pengarah kreatif di skena agensi, Eka lebih dikenal sebagai pentolan dari The Brandals. Persona serampangan rock & roll khas Jakarta Timurnya begitu melekat biarpun di usia yang sudah memasuki kepala empat kini, ia jauh terlihat lebih kalem.

Sebelum aktif di The Brandals, ia merupakan satu dari dua vokalis unit punk/ska legendaris Waiting Room. Memimpin di depan mikrofon bersama Buluk (Superglad, Kausa), ia setidaknya terlibat dalam album perdana self titled Waiting Room yang lebih dikenal sebagai BuayaSka.

Ia hengkang dari Waiting Room untuk melanjutkan studi ke Australia. Selesai mengejar gelar, mendiang adiknya, Rully Annash, mengajaknya untuk bergabung dengan apa yang nantinya bakal jadi The Brandals, The Motives yang waktu itu masih dipimpin suara Edo Wallad (The Safari). Eka pun masuk menggantikan Edo dan mengganti nama band tersebut menjadi seperti yang sekarang dikenal.

Di akhir dekade lalu, Eka sempat bikin heboh dengan proyek noise rock barunya, Zigi Zaga. Bersama band tersebut, Eka merilis album penuh bertajuk Psycho Mob pada 2019 sebagai pembetot bas.

The Brandals sendiri masih aktif hingga kini, biarpun sempat bongkar pasang personil. Mereka telah setidaknya telah merilis dua single, “The Truth Is Coming Out” dan “Belum Padam”, untuk mempersiapkan album mendatang, menandakan album penuh pertama mereka setelah jarak waktu yang cukup lama dari DGNR8.

Di sisi lain, pria berdarah Garut ini juga seorang penulis lepas. Tulisannya bisa dibaca di media subkultur independen. Sekarang, ia lebih sering menggunakan sisi jurnalistiknya ini untuk membangun Diskas Media. Di sana, ia berperan menjadi pemandu acara, mewawancarai beberapa tokoh dengan bahasan yang menarik.

Selain The Brandals dan Zigi Zaga, Eka juga dikabarkan tengah mempersiapkan album solo. Tidak seperti beberapa proyek lain yang pernah ia kerjakan, album tersebut akan lebih mengarah pada musik-musik kulit hitam seperti soul, R&B, dan funk. Melansir NME, Eka bahkan menyebutkan Motown sebagai referensinya. Jika album ini dirilis kelak, Eka akan membuktikan bahwa dirinya tidak melulu rock & roll. 

Dan ternyata memang begitulah Eka Annash. Tim Siasat Partikelir sempat meminta beberapa lagu lokal pilihannya beberapa waktu lalu. Pilihan Eka tampak begitu beragam kalau dilihat dari genre musik. Berikut lagu pilihan Eka Annash beserta pendapatnya terhadap masing-masing lagu.

1. Rhosy Snap – Rap Monster

Rapper asal Papua yang ngejungkir balikin mitos kalo best hip-hop act sumbernya dari kota besar/urban. Check out his super-tight rhymes! The illest MC right now.

2. Bonga-Bonga – Suara Sudra

Ekspersonel formasi klasik Deadsquad reuni dengan misi bersenang-senang. I love it when a band formed by members who got nothing to lose. They’d create exciting music with fuck-off attitude level turned on to the max.

3. BAP – Painting with Suwage

Bagian dari rentetan single yang sepertinya akan bermuara di album penuh nanti. Excellent Mowax/DJ Shadows vibe. Eksistensi musisi kayak BAP yang bikin gue yakin kalau masa depan musik Indonesia akan selalu keren.

4. Voice of Baceprot – God Allow Me (Please) to Play Music

Oh yes.. do believe the hype. I mean c’monThree hijab-wearing rural girls playing loud-as-fuck metal? You gotta give them some credits. And they’re from my fucking hometown (Garut). I’m sold.

5. Lelaki di Ujung Tanduk – Aku Berkawan dengan Burung Nasar

Proyek kolab ciamik dari Jawa (vokalis The Stockers/The Raws) yang menyadur teks dari ilustrator Amenkcoy. Diadaptasi dalam lagu berbasis folk yang dingin, tajam, dan kritis.

6. Streetwalker – The Sun

Psychedelic stoner yang ngingetin gue sama Kyuss dan early Soundgarden. Groovy and hypnotic. Highly recommended!

7. Avhath – Felo De Se

Can’t get enough of these guys. They’re one of a kind. Sax in a doom metal track? Why the hell not?

8. Dive Collate – Myopic Feelings

Makin banyak band noise/shoegaze bermunculan. Makin banyak juga band bagus muncul dari Bali. This band is a culmination of both factors.

Catatan: Nomor “Rap Monster karya Rhosy Snap dan nomor  “Aku Berkawan dengan Burung Nasar” karya Lelaki di Ujung Tanduk tak ada di platform Spotify. 

Oh ya, Eka Annash juga menjadi host dalam program Room To Room Gigs Season 2 besutan Siasat Partikelir. Penasaran dengan perbincangan Eka Annash? Langsung saja menuju link di bawah ini.

Teks: Dicki Lukmana dan Eka Annash
Visual: Arsip dari berbagai sumber

Kolaborasi Semiotika Dan Iga Masardi

Menggunakan moniker Sagas Midair, Iga Massardi yang merupakan gitaris sekaligus vokalis grup Barasuara merilis single kolaborasi bersama Semiotika, unit Instrumental Rock dari Jambi. Diberi tajuk Iskaashi, rencananya single ini akan...

Keep Reading

Nyala Api Dari Angkatan Baru Hip-Hop Jakarta

Berawal dari hal yang tidak direncanakan, La Munai Records, label rekaman Jakarta, Pesona Experience dan Bureau Mantis kolektif dan manajemen musik dari kota yang sama akhirnya menemui kesepakatan untuk merilis...

Keep Reading

Plvmb Memulai Debut Dengan Blue

Bandung kembali memiliki kuintet indiepop yang terdiri dari Vina Anesti (Vokalis), Azka Aulia Rachman (Bass), Diaz Febryan (Drum), Salman Wahid Putra Kamaludin (Gitar), Irfan Zahid Abdussallam  (Gitar). Mereka tergabung ke...

Keep Reading

Superglad Yang Kembali Melangkah

Superglad adalah band yang namanya tidak perlu lagi dipertanyakan di kancah musik tanah air. Setelah diterpa berbagai permasalahan yang sempat terjadi di dalam tubuh mereka, band yang terbentuk sejak tahun...

Keep Reading