Nada Siasat: Oktober 2018

Selamat datang di Nada Siasat edisi Oktober 2018. Ini kali kedua kami memilihkan sejumlah lagu yang ada di sekitaran, lalu merekomendasikannya pada kamu. Supaya dicek. Syukur-syukur bisa juga ikut menyukainya.

Di bulan ini, ada beberapa kumpulan orang lama kembali ke arena. Tapi, pengenalan talenta baru yang lebih luas daya jangkaunya, terus dilakukan. Dua hal ini, suka tidak suka, akan mendominasi metode bagaimana daftar bulanan ini akan diisi.

Secara khusus, editor Felix Dass menemukan Holaspica yang teduh serta menyambut kembali Angsa dan Serigala yang bangun dari tidur lumayan panjang. Selamat mendengarkan. Selamat mencari tahu lebih banyak. (*)

01. Holaspica – The Dying Sky

Penyanyi solo ini berasal dari Lampung di Tanah Sumatera. Ekspor bagus yang harus dinikmati dengan santai oleh orang-orang di luar pulau. Teduh, kendati bicara tentang langit yang runtuh.

02. Monkey to Millionaire – Envy

Terlepas dari akan seperti apa album barunya nanti, menemukan Monkey to Millionaire ke arena merupakan indikator bagus bahwa mereka masih merasa perlu main musik.

03. Angsa dan Serigala – Biru

Biru diambil dari Ruang Waktu, album kedua Angsa dan Serigala. Album pertama mereka dirilis tahun 2011. Kini, tujuh tahun kemudian, mereka kembali. Line up asli Angsa dan Serigala hanya menyisakan Araji dan Meyga Sukmana, dua vokalis utama mereka. Selebihnya, ada tiga orang personil baru masuk dan menyederhanakan musik band ini. Hasilnya, menyegarkan. Bukan berarti yang dulu tidak bagus dan yang sekarang jadi lebih bagus. Tapi, musik mereka berubah arah sedikit; masih ada napas lama, terutama pada harmoni vokal yang ikonik itu, namun menyimpan energi besar yang beda frekuensi dengan era album pertama. Sangat-sangat-sangat direkomendasikan.

04. Rock N Roll Mafia feat. Petra Sihombing – Intoxicated

Intoxicated diambil dari Unison EP, rilisan terbaru milik Rock N Roll Mafia. Transformasi band elektronik ini terus bergerak seolah belum menemukan format yang final. Tugas kita semua, ya tinggal menyaksikannya. Seru kok, perjalanannya.

05. Belantara – Communion

Keras. Padat. Rapat. Harapan. Rock generasi baru. Setelah The Kuda, mereka ikut-ikutan meletakkan Bogor di peta musik rock Indonesia. Tentu saja, harus disyukuri, mengingat kota mereka yang sejuk itu, penuh sesak akan berbagai macam kepentingan golongan. Jika ada kesempatan menyaksikan mereka bermain di kotamu, segeralah dicari. Sebelum nanti kehilangan romantisme menyaksikan band rock penuh talenta seperti ini di tempat kecil. Belantara sangat mungkin jadi band rock arena yang diberkahi ladang bermain seluas lapangan badminton.

06. Grrrl Gang – Guys Don’t Read Sylvia Plath

Band Jogja terbaik tahun 2018 merilis EP baru dan merayakannya dengan tur panjang ke belasan tempat. Ini track favorit saya dari Not Sad, Not Fulfilled, judul EP baru itu.

07. Woodplane – Ambang Toleransi

Di minggu kedua Oktober 2018, saya berkesempatan untuk ngobrol-ngobrol sore di Sunday Market Surabaya. Tiba-tiba, dipertemukan dengan Woodplane, band pertama yang saya kenal dari Lamongan. Akhirnya, kota itu, secara pribadi, bisa punya asosiasi musik. Sebelumnya, kontak saya dengan kota itu hanya melalui tim sepakbola kebangaan mereka Persela Lamongan dan tentunya sederet tukang pecel ayam yang berkarya di mana-mana di negeri ini. Setelah mendengarkan Ambang Toleransi, ada dorongan besar untuk mengabarkan band ini kepada dunia yang lebih luas. Semoga berkenan.

08. The Upstairs – Semburat Silang Warna

Line up terbaru The Upstairs merilis sebuah EP yang berisikan empat buah lagu. Dua lagu baru dan dua lagu yang tersebar di sejumlah kompilasi di masa lalu. Masa sih, kita semua bisa melewatkan The Upstairs? Nggak dong.

09. Kaveh Kanes – The Fountain

Loanwords, album baru Kaveh Kanes, sudah dirilis dalam bentuk cd fisik. Duh, itu lick-lick gitarnya memberi kedamaian jika didengarkan secara spartan dari depan sampai belakang.

10. Spring Summer – Late Night Rider

Single Late Night Rider diambil dari debut album penuh Spring Summer yang berjudul Departure. Ini merupakan momen kembalinya mereka, yang pernah merilis sebuah EP di tahun 2010. Waktunya, memang lama untuk bisa datang lagi dengan karya baru. Tapi, ini menjanjikan!

The Box Perkenalkan Formasi Baru Lewat Live Session

Pandemi yang sudah berlangsung selama dua tahun ini telah membuat kita semua kembali dari awal. Menyusun ulang rencana dan mulai menata kembali langkah-langkah yang akan diambil. Kini industri sudah mulai...

Keep Reading

Sajian Ska Berbeda dari Slowright

Slowright, unit ska dari kota Malang baru-baru ini telah melepas album mini teranyarnya bertajuk Believe. Dirilis oleh label rekaman yang bermarkas di Yogyakarta, DoggyHouse Records, lewat rilisannya kali ini Slowright...

Keep Reading

Zizi yang Menyapa Kampung Halaman Lewat Hometown Tour

Setelah menyelenggarakan showcase perdananya yang bertajuk Unelevated Intimate showcase di Bandung pada akhir Februari lalu. Kini, Zizi kembali ke rumah tempat ia tumbuh dan menemukan passion terbesar dalam dirinya. Ia...

Keep Reading

Realita Kaum Pekerja di Nomor Kolaborasi Dzulfahmi dan Tuantigabelas

Dzulfahmi, MC dari kolektif Def Bloc dan Dreamfilled yang bermukim di Jakarta baru-baru ini (6/5) telah memperkenalkan karya terbarunya bertajuk “Rotasi”. Lewat rilisannya kali ini Dzulfahmi menggaet salah satu nama...

Keep Reading