Musisi Pasang Kartu Keberuntungan Lewat NFT. Seberapa Menjanjikan?

NFT (Non-Fungible Token) sedang marak dibicarakan para pegiat seni dalam jaringan akhir-akhir ini. Dengan sistem blockchain-nya, pengguna NFT dapat melakukan transaksi yang tidak tersentralisasi oleh pihak penengah yang biasanya ambil untung lumayan. Karena itu, NFT menjadi metode yang digadang-gadang dapat menyelamatkan seniman, khususnya di negeri di mana menjadi PNS masih jadi status penggaet mertua andalan.

Para musisi pun mulai merambah ranah ini. Sebelumnya, Tim Siasat Partikelir pernah membuat daftar kecil-kecilan tentang musisi yang memanfaatkan sistem ini sebagai cara memasarkan karya. Ada dua musisi Indonesia yang kami masukkan ke sana, Harlan Boer dan HolyKillers. Kali ini, Tim Siasat Partikelir tertarik untuk melihat sedikit bagaimana perkembangan mereka dan beberapa musisi lain dalam penjualan aset NFT.

       Baca Juga: Deretan Musisi yang Jual Karya dalam Bentuk NFT

Harlan Boer menjual klip video untuk “Siapa Saja Merekam Pop” sebagai aset NFT atas usulan si sutradara, Cycojano. NFT video tersebut pun dijual melalui akun Cycojano di Hic et Nunc, sebuah wadah NFT yang menggunakan cryptocurrency Tezos. Harlan Boer menaruh harga 2 Tez (sekitar Rp120 ribu saat tulisan ini dibuat) untuk setiap edisi “Siapa Saja Merekam Pop”. Harlan merilis video tersebut secara eksklusif di sana, namun yang membeli baru satu edisi saja.

HolyKillers, mengaku sebagai band metalcore pertama yang merilis NFT,  memilih media berbeda. Karya mereka dapat ditemukan di Tokomall. Tokomall memanfaatkan cryptocurrency TKO (Toko Koin) namun nampaknya seniman di sana mematok dalam harga rupiah karena terlihat valuta TKO-nya lah yang berubah-ubah. Di sana, HolyKillers menjual “Squalor Box Set” dan “Squalor Iron Frame” masing-masing satu edisi. Mereka mematok harga Rp5 juta dan Rp6,5 juta secara berturut-turut. Biarpun mereka menjanjikan box set fisik spesial dengan sampul yang begitu futuristik bin post-apokaliptik bagi para pembeli NFT-nya, sayangnya kedua serial tersebut belum laku sama sekali. Mungkin harga yang mereka tawarkan terlalu tinggi, namun konsep kebanyakan orang terhadap NFT adalah investasi dan semakin besar nama mereka, pasti ada saja orang iseng kelebihan uang yang akan membeli aset tersebut. Percayalah sampul box set mereka yang menyala-nyala itu sungguh keren sekali.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by HOLYKILL?RS (@holykillers.theband)

Selain mereka berdua, banyak musisi lain yang sebenarnya sudah melakukan iseng-iseng berhadiah mereka di bidang ini. Ananda Badudu, misalnya, telah melepas dua NFT dengan judul “Angkat dan Rayakan” dan “Pada Nasib, Pada Arus”. Keduanya merupakan karya audio visual antara Ananda, Indra Perkasa (prosduser), dan Gata Mahardika (seniman visual) yang juga dijual melalui Hic et Nunc. Dari 30 edisi, kini hanya tersisa sepuluh “Angkat dan Rayakan” yang tersedia sekarang. Padahal, Ananda dkk menjualnya dengan harga 4,9 Tez (sekitar Rp294 ribu) peredisinya. Di sisi lain, “Pada Nasib, Pada Arus” terjual tujuh dari 43 edisi yang di mint dengan harga 0,8 Tez.

Pemusik-pemusik yang tadi disebutkan tidak merilis karya musik mereka secara eksklusif. Album Squalor HolyKillers dapat ditemukan di layanan musik digital, “Siapa saja Merekam Pop” milik Harlan Boer pun bisa dinikmati versi video lirik dan digitalnya di platform lain, sedangkan karya-karya NFT Ananda Badudu nampaknya sulit untuk bisa dibawa ke panggung.

Primata mungkin salah satu contoh musisi yang merilis karyanya secara eksklusif sebagai aset NFT. Unit instrumental dari Jakarta ini merilis sebuah singgel bertajuk “Ambivalensi” sebagai sebuah NFT, juga melalui Hic et Nunc, berkolaborasi dengan mantan personel mereka dengan nama pena Space Wombat, yang sebelumnya sudah menyelam ke kolam blockchain dengan berbagai karya visualnya.

            Baca Juga: Kolaborasi dan Inovasi Segar Primata Lewat NFT

Seperti musisi lain, Rama, sang gitaris. mengaku perilisan eksklusifnya itu merupakan “semacam percobaan saja dulu untuk mempelajari medan”. Ia juga mengatakan bahwa bandnya belum begitu mencari cuan untuk saat ini. Primata menjual aset NFT untuk singgelnya ini seharga 0,2 Tez. Sejauh ini, mereka telah berhasil menjual 48 edisi dari 222 edisi yang mereka jajakan.

“Kalau yang ditanya apakah lebih cuan jika menjual musik sebagai NFT dibandingkan dengan menunggu royalti dari hasil streaming di platform musik alir, jawabannya adalah tergantung dari berapa besar kamu menetapkan harga peredisi dari NFT-mu. Karena perbedaan yang paling mencolok antara jualan musik lewat platform musik digital seperti Spotify, dengan menjualnya sebagai NFT, adalah soal kebebasan menetapkan besaran harga hingga royaltinya sendiri ketika ada penjualan tangan kedua,” jelasnya.

Akun hicetnunc Primata

Mari kita lakukan perhitungan kasar. “Sebelum Terlalu Mati” merupakan trek paling laku di Spotify Primata dengan pendengar 50.000. Dengan jumlah pendengar tersebut dan catatan kalau Spotify memberi $0,004 perpendengar, Primata mendapatkan sekitar Rp2,8 juta. Dari NFT, jika 1 Tez setara Rp60 ribu (saat tulisan ini dubuat), Primata mendapatkan sekitar Rp576 ribu, sekitar 20% dari penghasilan “Sebelum Terlalu Mati” yang dirilis awal tahun lalu setelah seminggu rilis. Ingat ini hanya perhitungan kasar yang bahkan belum memperhitungkan biaya mint dan lain-lain.

Selain beberapa musisi yang disebutkan di atas, klab rok selancar asal Jatinangor, The Panturas juga sempat mencoba peruntungannya di ranah NFT. Dengan dangkalnya, mereka meng-NFT-kan hasil screenshot unggahan Twitternya yang berupa meme tentang skandal antara Polka Wars, Hoka Hoka Bento, dan seorang seniman meme dengan harga 1 Tez. Nampaknya, mereka akan serius merambah ke ranah ini karena sudah mempersiapkan sebuah akun Instagram untuk memasarkan aset NFT-nya. Setidaknya ada 30 edisi yang mereka jual dari NFT pertamanya tadi, dan baru 5 edisi yang terjual. Jika dihitung pendapatannya, barangkali angka tersebut cukup untuk menyewa 1 shift studio musik untuk latihan. Ya, lumayanlah ya kan.

Teks: Abyan Nabilio & Dicki Lukmana
Visual: Abil Anugrah

Libido Bermusik Muto dalam EP Debut

“Dalam proses penciptaan lagu-lagu Muto, kata ‘yeah yeah yeah‘ juga merupakan ekspresi kepuasan mereka terhadap lagu-lagu yang mereka ciptakan; seperti merasakan nikmatnya masturbasi,” jelas keterangan pers yang dikirimkan Muto mengenai...

Keep Reading

Urban Sneaker Society Akhirnya Kembali Secara Luring

Kabar gembira bagi para fesyen enthusiast, Urban Sneaker Society 2021, event Sneakers tahunan yang diadakan USS Networks sejak 2017, kembali hadir secara offline di Jakarta Convention Center (JCC) pada tanggal...

Keep Reading

Nuansa Abad Pertengahan Progresif di Karya Baru Tara Sivach

Tara Sivach merupakan seorang solois asal Jakarta yang mencoba masuk dalam ranah goth. Dengan nuansa abad pertengahan kelam khas gotik yang dicampur dengan rok semiprogresif dan gaya vokal klasik, ia mencoba...

Keep Reading

Garside Masih Berlirik Emo di EP Terbaru

Kuintet asal Medan, Garside, baru saja melepas sebuah album mini dengan tajuk Not My Tea. Biarpun tak mengusung musik emo namun lirik mereka terlihat mengarah ke sana. Hal tersebut terlihat dari penjelasan mereka...

Keep Reading