Musik Tak Lagi Seksi untuk Dimiliki; Tinggalkan Segalanya Kecuali Music Audience 3.0

Bicara tentang musik berarti membicarakan industri audio yang sangat masif. Audio punya kelekatan yang luar biasa dengan emosi seseorang, hal ini dibuktikan dengan kemampuan manusia untuk bersedih dan bersemangat ketika mendengarkan suatu alunan lagu tanpa kita harus mengerti tentang liriknya. Coba dengarkan balad Korea di tahun 2000-an. Kebanyakan dari kita bahkan tidak mengerti arti dari liriknya, namun ternyata kesedihan sifatnya universal, terutama kemampuan kita menginterpretasi nada ke dalam emosi.

Nah, jika musik adalah industri audio, tentunya ada macam-macam target audiens yang menghidupkan industri ini. Jean-Phillipe Charron dalam paper-nya yang bertajuk “Music Audience 3.0: Concert Goers’ Psychological Motivations at the Dawn of Virtual Reality” memberikan sebuah definisi baru untuk macam audiens ini yaitu Music Audience 3.0.

Apakah itu? Mari kita hayati bersama di paragraf berikutnya.

Music Audience 3.0, menurut Charron, adalah audiens musik yang lahir dari kemajuan teknologi. Sebagaimana konvergensi dunia analog menuju digital terjadi di berbagai lini, musik pun mengalami hal yang serupa. Belanja jadi belanja online, kencan jadi kencan online, beramal jadi beramal online, isi presensi online, belajar online, seminar online, konser online dan banyak online-online lain di kehidupan yang fana ini.

Konser boleh berubah jadi online, tapi musik, apakah musik berubah?

Siapa di sini yang bingung akan apa perubahan yang ada dalam musik? Dari tahun ke tahun, perubahan musik dapat dikatakan tidak begitu signifikan karena alat musik dan genre masih berkutat di situ-situ saja. Namun, hal yang harus digarisbawahi adalah, sebuah produk budaya cenderung memang tidak berubah, yang ada hanya cara pemasarannya yang berevolusi dengan kecepatan yang dapat dikatakan cukup menyeramkan.

Musik, sebagai sebuah produk budaya mengalami perubahan yang sangat drastis dalam penyebaran dan pemasarannya. Dahulu, ketika cakram padat bajakan masih digandrungi anak-anak muda, sifat musik adalah untuk “dimiliki” seperti hati seseorang. Tingkat kekerenan kamu bisa diukur dari sebanyak apa tumpukan koleksimu akan sesuatu yang berbau musik. Apa itu standar yang salah? Tidak, hanya saja dunia berubah. Sangat cepat bahkan.

Kembali membahas tingkat kekerenan kamu, kini saya percaya bahwa tingkat kekerenan seseorang itu dapat terukur melalui playlist yang dibuat dalam platform digital streaming favorit kita semua. Jika kamu setuju, selamat datang di klub Music Audience 3.0.

Semenjak persetujuan kita di atas, dan mungkin persetujuan orang-orang yang lebih dahulu paham, musik tak lagi seksi untuk “dimiliki”. Mungkin untuk sebagian orang dengan cita-cita mulia yang memang punya hasrat untuk mengoleksi relik dari musisi idaman dan muncul sebagai anomali dari fenomena Music Audience 3.0, hal ini memang tidak berlaku. Namun, rasanya tidak perlu saya tekankan bahwa orang-orang itu memang cinta pada musik, dan bukankah cinta memang tak harus masuk akal atau lekang oleh waktu? Tidak seperti tren dan poser. Ah! poser! Tidak, saya tidak akan membahasnya kali ini, mungkin di lain waktu ketika saya sendiri sudah bukan poser.

Lantas, jika musik tidak lagi seksi untuk “dimiliki” secara fisik maupun digital, apa yang seksi?

Menurut Charron, bukan menurut saya lho, yang seksi adalah memiliki akses pada konten dan lagu berkualitas. Itulah mengapa playlist menjadi sangat seksi, itulah hal yang memungkinkan kamu mendapatkan si dia hanya dengan modal “Nih, aku buatin playlist buat kamu.” Logikanya, saat semua punya akses yang sama mudah, yang paling keren adalah mereka yang menggali lebih dalam dan mengasosiasikannya dengan situasi dan emosi. Karenanya, saya berani bertaruh, mayoritas playlist di dunia ini pasti menggunakan judul dengan sedikit latar belakang waktu dan tempat, serta banyak perasaan yang tumpah.

Selain akses pada konten dan lagu berkualitas, secara psikologis motivasi untuk datang ke gigs, konser, atau festival musik bukan lagi untuk bertualang mencari talenta dan referensi musik baru, semua orang sudah tahu siapa yang ingin mereka tonton bahkan mungkin sudah menghapal liriknya dulu di perjalanan jika itu acara yang mendadak. Menghadiri acara musik kini direduksi jadi motivasi sosial untuk bersenang-senang, semacam short escape untuk jiwa yang lelah. Hal ini terjadi karena kita sudah paham betul siapa yang akan bermain di sebuah pertunjukan, kita bisa dengar dulu musiknya, baca ulasannya, bahkan sampai mencari gosip terhangat personilnya. Hebat, kan?

Ketika kita sudah tahu banyak hal tentang sesuatu atau seseorang biasanya kita akan perlahan merasa bosan. Luar biasanya, musik tidak seperti itu, jika sudah bosan mendengar, kamu bisa melihat, bosan melihat kamu bisa merespon musiknya dengan koreografi seperti dalam aplikasi itu lho, yang secara sembunyi-sembunyi kamu install karena tekanan pergaulan  sepertinya tidak mengizinkanmu untuk membuat konten di sana meskipun kamu diam-diam menikmatinya.

Karena tulisan ini mulai menjauh dari alur yang seharusnya, ada baiknya saya ingatkan kembali bahwa Music Audience 3.0 ini muncul dari revolusi digital. Cirinya adalah seseorang yang sudah fasih menggunakan fitur dan aplikasi digital. Kemudian, seseorang lebih tertarik pada akses akan musik dan pengetahuannya dibanding memiliki sebuah karya musik secara fisik maupun digital. Terakhir, acara musik bukan lagi tempat yang dikunjungi untuk mencari talenta baru, cukup mejeng dan sing along sambil mendokumentasikan lalu membagikannya ke khalayak di internet just because you can. Akhir kata, “Lho kamu Music Audience 3.0 juga?”

 

Teks: Riki Rinaldi

Visual: Darwin Agustian

Plvmb Memulai Debut Dengan Blue

Bandung kembali memiliki kuintet indiepop yang terdiri dari Vina Anesti (Vokalis), Azka Aulia Rachman (Bass), Diaz Febryan (Drum), Salman Wahid Putra Kamaludin (Gitar), Irfan Zahid Abdussallam  (Gitar). Mereka tergabung ke...

Keep Reading

Superglad Yang Kembali Melangkah

Superglad adalah band yang namanya tidak perlu lagi dipertanyakan di kancah musik tanah air. Setelah diterpa berbagai permasalahan yang sempat terjadi di dalam tubuh mereka, band yang terbentuk sejak tahun...

Keep Reading

Meramu Crossover Hardcore Ke Tahap Terbaru

Dari Sidoarjo, unit Crossover Hardcore yang tergabung dalam Voorstad akhirnya merilis mini album terbaru dengan tajuk Self-titled melalui label Greedy Dust Records. Ini merupakan rilisan kedua Voorstad setelah pada awal...

Keep Reading

Penegasan Warna Terbaru I Punch Werewolf

Penegasan eksistensi I Punch Werewolf melalui video klip lagu terbaru dengan judul Broken. Unit ini terus menggebrak kancah musik dengan beragam rilisannya. Untuk lagu ini sendiri dibuat lebih mengayun, namun...

Keep Reading