Museum of London Luncurkan Program untuk Para Pemimpi

2020 memang mimpi buruk bagi siapa pun. Sudah berada dipenghujung tahun, namun pandemi tak kunjung juga berakhir. selama 2020 berjalan, tentu ada banyak pengalaman yang tak mengenakan, termasuk pengalaman dalam bermimpi –mimpi dalam tidur. Faktanya, pandemi juga cukup berpengaruh pada kualitas tidur masyarakat, peneliti menemukan bahwa mereka yang berusia antara 16-24 tahun kemungkinan besar kurang tidur daripada pra- Covid (46% melaporkan demikian), sementara 50% orang dalam kelompok usia ini mengklaim bahwa mereka pernah mengalaminya. Melihat fenomena ini sebagai suatu hal yang menarik, Museum of  London membuat sebuah proyek penelitian  yang berkolaborasi dengan Museum of Dreams, proyek tersebut bernama ‘Guardians of Sleep’.

Proyek ini pada dasarnya adalah sebuah penelitian yang mengmpulkan kesaksian lisan dari masyarakat London ihwal kehidupan ‘mimpi’ mereka selama pandemi Covid-19 dan bertujuan untuk memberikan lebih banyak informasi tentang bagaimana alam bawah sadar kita menciptakan skenario  dalam mimpi pada saat krisis. Proyek yang terinspirasi dari deskripsi Sigmund Freud tentang mimpi sebagai “Guardians of Sleep” yaitu, mirip dengan penjaga malam yang melindungi integritas pikiran dan kapasitas kita untuk mengartikulasikan pengalaman dalam istilah kita sendiri. Tak cukup di sana, proyek ini pun lebih lanjut akan digunakan untuk memahami kesehatan mental masyarakat selama pandemi berlangsung.

“Secara tradisional, jika museum telah mengumpulkan mimpi, itu telah dalam bentuk lukisan atau gambar yang dipengaruhi oleh peristiwa, namun hal ini seringkali dapat memisahkan mimpi dari si pemimpi. Sebagai gantinya, sebagai bagian dari Mengumpulkan COVID, kami akan mengumpulkan mimpi sebagai sejarah lisan orang pertama dengan tujuan untuk memberikan narasi yang lebih emosional dan lebih pribadi saat ini untuk generasi mendatang” tutur kurator digital Museum of London, Foteini Aravani.

(This miniature bed is taken from the attic servants’ bedroom of the dolls’ house originally owned by Lady Anne Blackett.)

Nantinya, masyarakat London akan diundang untuk mendaftarkan diri mereka untuk ikut serta sebelum tanggal 15 Januari. Sedangkan untuk pelaksanaannya akan berlangsung pada Februari 2021. Masyarakat yang sudah terdaftar akan diundang untuk berbicara  tentang pengalaman kehidupan mimpi mereka dengan para anggota Museum of Dreams yag terdiri dari  tim cendikiawan internasional, dokter, dan mahasiswa.

“Kemitraan ini memungkinkan Museum of Dreams memperluas percakapannya dengan publik. Kesaksian akan memberikan sumber daya yang kaya untuk memahami lebih jauh pentingnya kehidupan mimpi sebagai mekanisme untuk mengatasi konflik sosial dan khususnya bagaimana pandemi telah mempengaruhi kondisi manusia” terang pendiri Museum of Dreams, Sharon Sliwinski.

Museum of Dreams sendiri adalah pusat online untuk menjelajahi signifikansi sosial dan politik dari kehidupan mimpi. Museum ini mengumpulkan dan secara kreatif bekerja dengan mimpi dari catatan sejarah dan menyediakan platform untuk proyek mendongeng kolaboratif. Sedangkan Museum of London adalah salah  satu museum yang berada di London, Inggris, di mana di dalamnya terdapat galeri seni, ruang pameran, dan aktivitas layaknya museum lain.

 

Teks: Dicki Lukmana
Visual: Museum of London

Cerita Iblis dan Manusia di Album Kedua Parakuat

Ranah musik elektronik di Indonesia selalu menarik untuk di simak, terlebih geliatnya di arus pinggir. Banyak seniman bunyi muncul dengan coraknya sendiri dan membawa hasil eksperimentasinya masing-masing. Ranah ini terus...

Keep Reading

The Jansen Persembahkan Album Ketiga

Usai melepas nomor “Mereguk Anti Depresan Lagi” yang cukup mencuri perhatian, The Jansen, trio punk rock dari kota hujan Bogor akhirnya meluncurkan album ketiganya bertajuk “Banal Semakin Binal” (29/7) dalam...

Keep Reading

EP Who Suffer?, Jalan Keluar Defy dari Kekacauan Pandemi

Grup metallic hardcore dari kota Palu, Defy, baru-baru ini telah meluncurkan sebuah album mini bertajuk Who Suffer?. Perilisan album ini juga sekaligus sebagai tanda berjalannya kerja sama antara Defy dan...

Keep Reading

Menuju Album Kedua, Modjorido Rilis Nomor "Bebal"

Usai memperkenalkan album perdana self-tittled di tahun 2021 lalu, grup musik dari Bali, Modjorido akhirnya kembali merilis karya teranyar. Kali ini unit yang dihuni oleh Rico Mahesi (Vocal & Guitar),...

Keep Reading