Di sebelah timur Kota Padang, hiduplah sebuah kota bernama Sawahlunto. Kota yang pernah dikenal sebagai kota tambang ini, memerlukan waktu sekitar tiga jam untuk dicapai dari ibukota Sumatera Barat itu.

Cuaca yang dingin, pemandangan yang indah bisa diakses dengan berjalan kaki di sekitar kawasan pusat kota lama. Pengunjung akan terkagum-kagum menikmati bangunan-bangunan peninggalan Belanda. Konsep pusat kota khas eropa berdiri menyambut begitu kaki melangkah ke Sawahlunto.

Kami mengunjungi Sawahlunto bertepatan dengan perayaan sebuah pesta musik tahunan ini bernama Sawahlunto International Musik Festival sedang digelar, disingkat SIMFes. Di 2018 ini SIMFes memasuki tahunnya yang ke sembilan. “Kita pindah ke mobil aja ya, kalau disini berisik,” ujar Muhammad Harmein di beranda tempat penginapan.

Ia dipercaya sebagai konseptor SIMFes sejak dua tahun ke belakang. Harmein adalah putra daerah yang kini sedang merantau di Jakarta. Panggilan pengabdian terhadap kampung halamanlah yang menggerakkannya untuk ikut campur mengurus Sawahlunto Musik International Festival. Tahun 2018 ini, nama-nama sperti Nonaria, Iksan Skuter, Debu turut memeriahkan Simfest yang diadakan di lapangan Segitiga Sawahlunto pada 19-21 Oktober 2018. Daftar penampil juga bertambah banyak dengan rombongan musisi dari Bali seperti Manja dan Leanna Rachel. Musisi asli dari Sawahlunto, Alergo’s didaulat mewakili Sawahlunto untuk SIMFes.

Kami mendapat kesempatan untuk bicara banyak dengan pemuda yang mempunyai semangat untuk membangun kampung halamannya ini lewat musik. Berikut wawancara Siasatpartikelir dengan Harmein.

 

Bisa dijelaskan gimana awalnya SIMFes?

SIMFes awalnya dari tahun 2010. Diprakarsai oleh Wali Kota ketika itu, Amran Nur. Ia menjadi pionir. Awalnya SIMFes menjadi cara promosi kota Sawahlunto sebagai kota wisata. Spirit multikulturalnya membawa musisi-musisi luar untuk memeriahkan SIMFes untuk memberi gambaran pada orang-orang di luar sana bahwa Sawahlunto memiliki budaya yang majemuk.

Dan lo masuk ke SIMFes ke delapan, gimana ceritanya lo bisa bergabung?

DI 2016 SIMFes mengalami stagnansi. Polanya sebetulnya benar, tapi pada kenyataanya kadang tidak tepat. Kalau gue analogikan kayak gini, “Lo punya mobil tahun 2005, ketika tahun itu, mobilnya masih baru kan. Tapi ketika dikembalikan lima tahun berikutnya, mobil itu masih baru gak? Nggak kan?” Kembali ke permasalahan ini, jadinya konsep tahun pertahun tetap dan sama. Harusnya mesti ada variasi kan. Nah, ketika diajak buat bergabung tahun 2017, gue memikirkan konsep baru. Kalau masih memakai konsep lama ya nanti akan menjadi enggak menarik.

Apakah dengan mengajak musisi-musisi indie, seperti Diskopantera dan Sisir Tanah di tahun lalu menjadi strategi SIMFes untuk berubah secara konsep?

Kita harus fleksibel lah sama perkembangan zaman. Begitu pula dengan musik, bagi gue, sebuah kota yang maju, ini harus disesuaikan dengan SDM yang ada di dalam. Sasaran target kita sekarang anak muda, gue gak peduli sama orang-orang tua. Hahaha. Misi gue adalah mengenalkan musik independen sebagai industri. Di zaman sekarang musik bukan semata-mata masalah kreativitas kok, tapi lebih dalam mereka yang bergelut di dalamnya harus tahu bahwa musik bisa menjadi bisnis. Gua mau ngasih inspirasi nih, ada lho musik-musik lain yang juga bisa dinikmati.

Memangnya bagaimana sih keadaan skena musik di Sawahlunto?

Kalau yang gue baca nih, di Sawahlunto banyak sanggar kesenian. Satu kecamatan bisa punya satu sanggar. Karena kebanyakan sanggar, dengan satu lingkup kota yang kecil, mereka malah sibuk bersaing satu sama lain. Di situ gue coba memberi warna baru dengan cara mengajak band-band terdekat, dari kota Padang. Gue mau ngasih wawasan baru bahwa di Kota Padang yang dekat dari sini, mereka bisa lho open minded terhadap karya musik-musik baru. Warna musik udah beragam dengan adanya band folk seperti Lalang. Intinya sebagai pemancing. Diawal-awal beberapa kawan disini kontra, maklum saja dalam waktu tujuh tahun lo dijejali hal yang sama. Jadi ketika ada yang berbeda mereka kaget. Gue diserang, tapi bagi gue itu wajar, perubahan butuh dinamika.

Dari kacamata lo, apakah anak-anak muda di Sawahlunto mendapatkan akses terhadap perkembangan musik Tanah Air?

Enggak. Contoh, mereka sama sekali gak tersentuh dengan musik-musik independen. Kemarin sebelum SIMFes gue ngelihat temen-temen band di sini main. Dan otomatis kelihatan playlist yang akan mereka mainkan. Secara sklill mereka jago-jago kok, tapi mereka seperti tidak punya karakter. Memasukkan referensi baru seperti mendatangkan musik-musik yang berbeda itu yang gue harapkan untuk memacu mereka dalam bermusik. Ketika lo nggak banyak refrensi, ya lo gak bisa milih dong? Gimana menggembangkan musik dan mendapatkan karakter kalau lo nggak punya banyak pilihan referensi.

Suatu hari apa harapan untuk skena musik di Sawahlunto?

Gue mau bercerita dulu nih, Sawahlunto sebagai kota, semua tahu bahwa kota ini indah. Apalagi sih yang kurang untuk membangun iklim skena musik? Sekarang masalahnya bagaimana si manusianya bisa bersama-sama memikirkan kemajuan musik disini. Harus diyakini bahwa skena di sini bisa tumbuh nanti karena didukung banyak faktor. Termasuk dukungan pemerintah. Terkadang maksud baik pemerintah terhalang oleh ketidaktahuan mereka sendiri. Mereka enggak tahu cara mendukung yang baik itu seperti apa. Misal, ketika diundang menjadi home band atau band pembuka, bagi pemerintah ini merupakan bentuk dukungan mereka buat kemajuan musik di sini. Kan enggak begitu. Harus lebih.

SIMFes kedepan lo menginginkan seperti apa?

Iya gue berharap SIMFes bisa menjadi pembuktian bagaimana musik tradisi dan musik lain bisa disatukan dalam satu festival. Dan gue berharap mereka menjadi tuan rumah di kampung halamannya sendiri. Selain itu, memperbanyak kolaborasi-kolaborasi dengan festival di daerah lain. Itu juga sebagai upaya memperkenalkan SIMFes ke orang-orang di luar sana.

Bocoran SIMFes tahun depan dong.

Gue belum tahu, kita tunggu saja. Haha.

 

Teks: Rio Jo Werry
Foto: Dokumentasi Muhammad Harmien, foto penampilan oleh Yose Riandi