Mimikri Etika Punk Rock Dalam Sosok Pelukis Egon Schiele

Austria adalah ladang penghasil seniman dan pemikir yang berkualitas tinggi. Di ranah musik kita bisa menemukan nama Wolfgang Amadeus Mozart, di wilayah filsafat kita akan berjumpa dengan nama pemikir Sigmund Freud dan Ivan Illich. Dalam kasus seni rupa kita akan berpapasan dengan Egon Schiele, seorang ekspresionis yang mati muda dengan gagasan-gagasannya yang provokatif Egon kerap dikultuskan sebagai seniman pemberontak yang flamboyan. Seketika sosoknya serupa Morissey jika ditarik ke dalam konteks seni populer yang lebih kekinian, sama-sama hidup dibawah bayang-bayang sistem monarki dan berupaya untuk meruntuhkan sistem yang kaku melalui seni.

Lukisannya kerap didera agony, menampilkan objek tubuh dengan dominasi warna yang natural memantik imajinasi yang lebih liar dari sekadar erotisme semata. Komposisinya yang tak konvensional dengan garis berliku-liku tanpa ornamen berlebihan, seolah-olah karyanya tersebut muncul dari sebuah ruang kehampaan. Gagasan berkesenian Egon konon terinspirasi dari tulisan-tulisan yang terangkum dalam buku Three Essays on the Theory of Sexuality (1905) karya Sigmund Freud yang mempreteli alam bawah sadar manusia tentang seks. Selain Theory of Sexuality, terdapat pandangan lain yang dikemukakan oleh Sigmud Freud yang bisa dijadikan sebagai dasar pembacaan lukisan Egon, yaitu Eros (dorongan kehidupan) dan Thanatos (dorongan  kematian). Eros didasarkan pada insting kehidupan manusia yang tergambarkan  dalam dorongan seksual yang menjadi dasar keberlangsungan hidup, kesenangan dan reproduksi. Sedangkan Thanatos merupakan insting kematian yang menurut Freud hal ini hadir secara tidak sadar pada setiap diri manusia.

Menilik dari gagasan-gagasan  yang dikemukakan oleh Freud, karya Egon memiliki keterhubungan dan  selalu dihadapkan dengan ketelanjangan hasrat, pederitaan, dan kelembutan manusia. Maka tak aneh jika kemudian Egon dinobatkan sebagai salah satu tokoh penting Ekspresionisme Austria dan figur pelukis ternama Wina pada awal abad 20 dengan segala kebaruan dan kontroversi yang melingkupinya.

Popularitas Egon Schiele bangkit kembali di tahun 1970-an, ditandai dengan momentum meledaknya budaya tanding yang diusung oleh komplotan anarkis muda yang kemudian nama-namanya mentereng di kancah musik Punk. Seketika mungkin kita akan menyamakan penampilan Egon dengan Sid Vicious, bassist urakan dari Sex Pistols. Perawakan yang kurus dengan rambut hitam yang runcing. Tak hanya dari penampilan, namun semangatnya pun mungkin bisa dikatakan sama. Mereka berdua adalah martir yang mengguncang kemapanan, pernah dipenjara dan mengalami kematian tragis di usia yang terbilang masih muda –belum genap mencicipi  umur 30. Egon mungkin juga bisa dikatakan sebagai prototipe untuk etika musik punk di tahun 1970-an. Meletakan kebebasan berekspresi melalui seni diatas segalanya. 

Kepada Tom Vairlaine, pentolan Television, Patti Smith pernah mengungkapkan kekagumannya akan sosok Egon. Popularitasnya kian menjadi-jadi setelah sampul album David Bowie untuk album Heroes digadang-gadang sebagai bentuk penghormatan kepada Egon. Spekulasi itu pun kian tajam setelah David Bowie di tahun 1978 ditunjuk untuk memerankan sosok  Egon pada sebuah film biografi yang sampai saat ini belum pernah dirilis. 

Egon Schiele lahir di Wina, Austria pada 12 Juni 1890. Meskipun keluarganya tak memiliki latar belakang sebagai seniman,  namun Egon terlahir jenius –meskipun prestasi akademikya tak berbanding lurus dengan kejeniusannya di bidang seni. Ketertarikannya di bidang seni sudah ia perlihatkan sejak masih kecil, layaknya kanak-kanak pada umumnya, tembok rumah menjadi kanvas pertamanya dalam melukis, dengan menggambar benda favoritnya yaitu kereta api. Simbolisme bakat dininya tersebut bisa kita lihat pada menit-menit pertama di film Egon Schiele: Death and The Maiden, dimana dua orang anak kecil sedang asik bermain replika kereta api di studio Egon. 

Kecintaan Egon pada sketsa dan gambar semakin terlihat jelas sejalan dengan pertumbuhan usianya. Buku sekolahnya selalu dipenuhi gambar-gambar imajinatif, sang ayah yang seorang kepala stasiun di Tulln, Austria kerap membakar buku-buku tersebut karena ketidaksetujuannya akan hobi sang anak. Alih-alih membuat jera, perlakuan ayahnya tersebut malah membuat Egon semakin terobsesi dengan seni rupa. Hal ini dibuktikan dengan langkahnya ke jenjang yang lebih serius, yaitu mengambil pendidikan Seni Rupa di Akademie Der Bildenden Künste di Wina pada usia 16 tahun. Di sana Egon tercatat sebagai siswa termuda yang pernah medaftar di akademi seni rupa kenamaan tersebut. Namun akhirnya ia memutuskan keluar  dari perguruan itu karena tak puas dengan  pelajaran yang diberikan yang malah membuat ia semakin terasing dari bakat yang dimilikinya. Dengan pembimbingnya yang bernama Christian Griepenkerl ia pernah bersitegang. Suatu ketika ia sempat memarahi Egon dengan berseru: “You! You! The Devil shat you into my class!”. Lagi-lagi perseteruannya tersebut tak membuat ia jera, bersama kawan-kawannya yang berpikiran sama, pada tahun 1909, Egon mendirikan Neuekunstgruppe, yang manifesto-nya ditulis sendiri oleh Egon. Kelompok ini bisa dikatakan juga sebagai tonggak perkembangan seni modern di Austria.

Dalam kondisi pandemi seperti sekarang, agaknya kematian Egon bisa dijadikan sebagai refleksi bagaimana ganasnya sebuah virus. Ia meninggal pada 31 Oktober 1918 di usia 28 tahun. Kematian Egon disebabkan oleh pandemi flu spanyol yang saat itu menjangkiti seluruh dunia –persis seperti pandemi yang saat  ini sedang terjadi. Flu Spanyol sendiri tercatat telah menginfeksi 500 juta orang dan menewaskan 3 sampai 5% populasi dunia. Egon meninggal hanya tiga hari setelah kematian  istrinya, Edith yang sedang hamil 6 bulan. Kata-kata terakhir yang diucapkan Egon adalah  “The war is over – and I must go”. kata-kata yang begitu melekat dibenak siapapun yang mengagumi Egon Schiele.  

Dengan karirnya yang terbilang singkat –kurang dari dua dekade, Egon menjadi pelukis yang sangat cemerlang dan produktif. Setidaknya ia menciptakan lebih dari 330 lukisan dan 2.500 gambar. Setelah kematiannya ia mewariskan gagasan yang cukup besar di bidang seni rupa, ia memengaruhi para seniman Neo-Ekspresionis seperti Francis Bacon, Julian Schnabel, dan raja seniman jalanan Jean-Michel Basquiat.

Teks: Dicki Lukmana
Visual: Arsip dari Berbagai Sumber

The Box Perkenalkan Formasi Baru Lewat Live Session

Pandemi yang sudah berlangsung selama dua tahun ini telah membuat kita semua kembali dari awal. Menyusun ulang rencana dan mulai menata kembali langkah-langkah yang akan diambil. Kini industri sudah mulai...

Keep Reading

Sajian Ska Berbeda dari Slowright

Slowright, unit ska dari kota Malang baru-baru ini telah melepas album mini teranyarnya bertajuk Believe. Dirilis oleh label rekaman yang bermarkas di Yogyakarta, DoggyHouse Records, lewat rilisannya kali ini Slowright...

Keep Reading

Zizi yang Menyapa Kampung Halaman Lewat Hometown Tour

Setelah menyelenggarakan showcase perdananya yang bertajuk Unelevated Intimate showcase di Bandung pada akhir Februari lalu. Kini, Zizi kembali ke rumah tempat ia tumbuh dan menemukan passion terbesar dalam dirinya. Ia...

Keep Reading

Realita Kaum Pekerja di Nomor Kolaborasi Dzulfahmi dan Tuantigabelas

Dzulfahmi, MC dari kolektif Def Bloc dan Dreamfilled yang bermukim di Jakarta baru-baru ini (6/5) telah memperkenalkan karya terbarunya bertajuk “Rotasi”. Lewat rilisannya kali ini Dzulfahmi menggaet salah satu nama...

Keep Reading