Meretas Kebosanan Bersama Layarkeliling

Yarling atau Layarkeliling adalah sebuah komunitas yang berusaha menghadirkan film alternatif untuk warga Pontianak. Landasan terciptanya cukup sederhana, yaitu meretas kebosanan terhadap dominasi sinema arus utama.

“Sebelum Yarling, di tahun 2014 hingga 2017, saya punya komunitas yang juga rutin mengadakan nonton film bareng, lalu saya pindah ke Jakarta, dan saat kembali lagi, barulah Yarling dibuat,” ungkap Panji, seorang anggota Layarkeliling yang secara resmi terbentuk di tahun 2018 awal.

Yarling beranggotakan lima orang sekawan yaitu Tata, Ardian, Ilham, Nasrul, dan tentunya Panji sendiri. Mereka sudah menjalin pertemanan sejak SMA. Di luar Yarling, masing-masing anggota memiliki kesibukannya sendiri. Ardian adalah manager band Manjakani, Ilham dan Nasrul merupakan pekerja EO, Tata seorang videografer dan Panji adalah seorang desainer grafis.

Panji lalu menjelaskan, bahwa Yarling tidak terlalu mementingkan target jumlah pengunjung acaranya. Dari segi venue saja, mereka selalu mengadakan gelaran nonton bareng di ruang-ruang yang tidak terlalu besar semisal café, community space, hingga tempat semisal ruangan tak terpakai milik Dinas Kajian Bahasa Pontianak.

“Sejak orang Dinas Kajian Bahasa menawarkan tempatnya tersebut, kita mulai rutin mengadakan screening film, dan terkoneksi dengan komunitas film di luar Kalimantan, hingga Yarling sempat menjadi komunitas yang secara resmi mendapat izin menjadi penyelenggara beberapa film semisal Aruna dan Lidahnya serta Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak,” ucap Panji.

Respon masyarakat Pontianak terhadap agenda-agenda Yarling pun sangat positif, terlebih bila yang di tayangkan adalah film Indonesia. “kalo film Indonesia yang diputar, pasti akan banyak wajah-wajah baru yang ikut nonton, tidak sebatas di lingkaran pertemanan saja,” kata Panji. Dia juga menambahkan bahwa Yarling selalu mengadakan sesi diskusi pada setiap kegiatan pemutaran film.

Meski Yarling dalam setiap kegiatannya juga sering melibatkan film indie karya sineas Kalimantan Barat, akan tetapi, soal prospek kedepannya, Panji masih pesimis melihatnya. Menurutnya, walaupun dalam segi alur cerita bisa sangat menarik, namun dalam soal eksekusinya, pasti saja selalu ada yang minus. “Mungkin hal tersebut cuma soal selera saja, saya kurang cocok soalnya dengan karya mereka,” ucap Panji mengenai hal tersebut.

Hingga hari ini, di tengah aktifitas padat para penggagasnya, Layarkeliling masih tetap berusaha meluangkan waktu untuk menyajikan film-film kurasinya kepada masyarakat Pontianak. “Kita sebenarnya ditawarin untuk memutar film Kucumbu Tubuh Indahmu, tapi masih mikir-mikir. Agak takut juga, soalnya pemerintah kota Pontianak agak konservatif,” cerita Panji.

Dari Layarkeliling, kita jadi tahu, bahwasanya rasa bosan tidak selalu bertendensi buruk. Bila diolah dengan tepat, maka perasaan tersebut mampu menjadi serangkaian agenda yang mampu menghibur.

Teks: Rizki Firmansyah
Visual: Arsip Layar Keliling

Semarak Festival Alur Bunyi Besutan Goethe-Institut Indonesien

Tahun ini, Goethe-Institut Indonesien genap berusia 60 tahun dan program musik Alur Bunyi telah memasuki tahun ke-6. Untuk merayakan momentum ini, konsep Alur Bunyi tetap diusung, namun dalam format yang...

Keep Reading

Head In The Clouds Balik Lagi ke Jakarta

Perusahaan media serta pelopor musik Global Asia, 88rising, akan kembali ke Jakarta setelah 2 tahun absen karena pandemi pada 3-4 Desember 2022 di Community Park PIK 2. Ini menandai pertama...

Keep Reading

2022, Jazz Gunung Kembali Lagi!

Setelah lebih dari dua tahun berjibaku beradaptasi dengan pandemi, kini pertunjukan musik kembali mendapatkan ruangnya kembali. Satu persatu festival musik muncul lagi. Salah satunya adalah Jazz Gunung yang tahun ini...

Keep Reading

Turtles. Jr Bakal Jajal Rebellion Fest di Inggris

Grup punk rock asal Bandung, Turtles Jr, baru-baru ini telah berbagi kabar gembira. Unit yang dihuni oleh Boentar (drummer), Boodfuck (vokal), Dohem (bass), dan Buux Frederiksen (gitar) ini di tanggal...

Keep Reading