Merekam Perspektif Berbeda Tentang Ambarawa dari Karja

Karja, sebuah studio desain grafis yang berbasis di Semarang,  baru saja melepas terbitan pertama mereka yang berbentuk buku dan diberi nama A Memora Bilia.  Bukan mainnya, buku ini banyak terinspirasi dari kota kecil Ambarawa yang memiliki kode singkat yaitu AMB yang juga bisa menjadi singkatan judul bukunya. Dalam pemberian nama untuk buku ini, mereka menggabungkan dua kata yaitu Ambarawa dan kenangan. Buku ini tidak sekedar proyek mereka sendiri, lebih dari itu, buku ini adalah hasil kolaborasi lintas disiplin yang terdiri dari fotografer, desainer grafis, hingga masyarakat Ambarawa itu sendiri.

“Melalui buku ini kami mencoba menyebarkan semangat gotong royong yang sudah menjadi ciri Indonesia sejak lama. Dengan menyebarkan semangat berkolaborasi, kami ingin menumbuhkan semangat untuk terus mencipta dengan potensi yang ada. Dengan begitu masyarakat sekitar kami juga dapat merasakan dampak yang didapatkan melalui prosesnya. Kebersamaan selalu dapat melahirkan hal-hal yang tak terduga.” Terang pihak Karja.

Memorabilia di sini memiliki arti sebagai sesuatu yang dapat mengingatkan pada suatu kenangan. Tidak selalu berbentuk benda fisik, tetapi tentang hal yang hanya dapat ditangkap lewat pengalaman, penglihatan, dan pendengaran yang menjadikan hal itu layak menjadi jalan bagi sebuah kenangan. Memorabilia adalah sebuah “benda bersama” antara satu orang dengan orang yang lain saat mereka mengalami peristiwa. Ada kalanya, sebuah benda yang bagi orang lain tidak begitu berarti, tetapi bagi seseorang menjadi sangat berarti, karena nilai kenangan yang terkandung di dalamnya. Memorabilia bukan sekadar cinderamata, karena seseorang yang memiliki memorabilia kemungkinan akan menyimpan baik- baik, dan akan menjadi kekayaan batinnya.

Ambarawa sendiri menyimpan banyak kenangan. Kota ini memiliki makna penting di masa perjuangan kemerdekaan Indonesia silam. Banyak peninggalan dan sejarah tercatat di sini. Pergantian kekuasaan pun tak lepas dari sejarah Ambarawa, dimulai dari Belanda saat datang ke Indonesia yang membawa misi kekuasaan serta menyebarkan agama, perebutan kekuasaan dari Belanda ke Jepang, dan pada akhirnya semua itu berhasil direbut kembali oleh masyarakat. Sekarang Ambarawa adalah milik bersama. Hal tersebut tentunya banyak menghadirkan kisah- kisah menarik yang terjadi sepanjang berlalannya waktu.

“Kami ingin menceritakan Ambarawa melalui sudut pandang yang berbeda melalui buku ini. Cerita tersebut dibagi dalam lima bagian yang ada di A Memora Bilia.” Tambah mereka.

BAGIAN I: Gamblok Tempat Peleburan

Menceritakan tentang ‘Gamblok’ sebuah kawasan keramaian sekaligus lokalisasi di Ambarawa sebagai tempat meleburnya berbagai kepentingan, etnis, agama dan bangunan-bangunan sejarah.

BAGIAN II: Menentukan Sejarah

Menceritakan sejarah pada masa kolonial yang menentukan bentuk Ambarawa di masa kini.

BAGIAN III: Susteran: Menemukan Ketenangan dan Pembelajaran di Balik Pintu Biara

Menceritakan kehidupan biarawati dan kehidupan membiara serta belajar tentang kehidupan di balik pintu biara.

BAGIAN IV: Ngepon: Dipertemukan Melalui Hewan, Diikat Oleh Persaudaraan

Menceritakan tentang ‘Ngepon’, sebuah tradisi jual beli hewan di Ambarawa pada hari pasaran Pon.

BAGIAN V: Ambarawa Prasaja

Tentang mengapa Ambarawa adalah kesederhanaan yang dibentuk dari kisah-kisah dan masyarakatnya.

A Memora Bilia (AMB) dalam penulisannya terlihat menggunakan dua bahasa, bahasa Inggris dan bahasa Jawa. Buku ini pertama kali diterbitkan saat acara Design Pasar Singapore pada 3 Agustus 2019 lalu, yang diinisiasi oleh Foreign Policy Design Group, The General Co, dan Roger & Sons. Dan buku ini juga sempat mendarat event book fair Bangkok Art Book Fair 2019 serta Shanghai Art Book Fair. Juga tersedia di Books Actually (Singapura), Post Santa (Jakarta) dengan bantuan dari partner publikasi HOM Bookstore (Yogyakarta).

buku a memora bilia

Teks: Adjust Purwatama
Visual: Arsip dari Karja

Head In The Clouds Balik Lagi ke Jakarta

Perusahaan media serta pelopor musik Global Asia, 88rising, akan kembali ke Jakarta setelah 2 tahun absen karena pandemi pada 3-4 Desember 2022 di Community Park PIK 2. Ini menandai pertama...

Keep Reading

2022, Jazz Gunung Kembali Lagi!

Setelah lebih dari dua tahun berjibaku beradaptasi dengan pandemi, kini pertunjukan musik kembali mendapatkan ruangnya kembali. Satu persatu festival musik muncul lagi. Salah satunya adalah Jazz Gunung yang tahun ini...

Keep Reading

Turtles. Jr Bakal Jajal Rebellion Fest di Inggris

Grup punk rock asal Bandung, Turtles Jr, baru-baru ini telah berbagi kabar gembira. Unit yang dihuni oleh Boentar (drummer), Boodfuck (vokal), Dohem (bass), dan Buux Frederiksen (gitar) ini di tanggal...

Keep Reading

Kolaborasi Artistik Indonesia-Inggris dalam Sebuah Jukstaposisi

Musisi dan produser asal Inggris, T?L? telah merampungkan residensi virtualnya di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK) dalam program Musicians in Residence Indonesia 2022 yang hadir atas kerja sama antara British...

Keep Reading