Menyimak Muda-Mudi Musisi Kiwari Merayakan Dangdut

Dang! Dang! Dang! merupakan salah satu panggung di Soundrenaline tahun ini yang diselenggarakan secara virtual. Biarpun keseluruhan Soundrenaline menyajikan konser virtual yang berbeda, panggung Dang! Dang! Dang! menampilkan aksi yang benar-benar tidak terduga. Para penampil yang kebanyakan biasa muncul di pensi atau festival muda-mudi (sebelum pandemi) diharuskan membawa tembang-tembang dangdut nostalgia ke telinga pendengar mereka yang kemungkinan besar tidak menemukan musik semacam itu di liked songs Spotify mereka.

Dang! Dang! Dang! menampilkan sebuah cerita dari seorang supir truk antarkota antarprovinsi (AKAP) untuk menjait tiap penampilan menjadi sebuah narasi yang utuh. Cerita bermula dari keluhan supir tersebut kepada kawan-kawan sejawat tentang kesulitan hidupnya menarik truk di sebuah pul. Lalu kedatangan seorang pengamen/pengemis yang bukan pengamen/pengemis, ia dan kawan-kawannya balas dengan, “Enggak ada receh”.

Siapa sangka bukan pengemis itu ternyata adalah sosok Johnny Iskandar (mantan pentolan OM PMR) yang secara sadar melengkapi frasa profesinya dengan kata cinta. Kedatangannya disusul dengan sebuah gerobak Indramayan Sound System yang didorong oleh para punggawa Mooner. Bersama mereka pun memainkan “Bukan Pengemis Cinta” yang memang dipopulerkan oleh Johnny Iskandar.

Karena ini memang lagu Johnny dan Mooner punya dangdut dalam musiknya, mereka pun membawakan “Bukan Pengemis Cinta” dengan baik. Absar dengan sound gitar Boss Metal Zone-nya, Tama dengan ketukan biasanya namun dibuat dangdut oleh suara kendang yang entah datang dari mana, Marshella dengan kibor dan harmonisasi suaranya, dan Rekti dengan footwork-nya yang ok, berhasil menemani Johnny yang bernyanyi sambil menari kikuk namun tetap asyik.

Narasi berlanjut ke sang supir truk yang teringat kekasihnya karena stiker bertuliskan “Zakia” di samping wastafel. Dengan wajah penuh rindu yang terkesan dipaksakan, ia menyeka wajahnya yang kusam diterpa tekanan hidup. Setelah mengangkat muka dari wastafel, tetiba setelannya berubah menjadi seperti kesatria bergitar, masih dengan wajah yang kusam.

Ia pun beranjak ke sebuah set di mana rekan-rekannya dari The Panturas sudah menunggu, memberi persembahan kepada kekasihnya di rumah berupa sebuah lagu yang dipopulerkan Ahmad Albar dan relevan dengan nama kasihnya tersebut.

“Zakia” dibawakan The Panturas dengan, bisa dikatakan, berantakan. Mereka tampil penuh energi, hingga apa yang sang pentolan mainkan di gitarnya tidak jelas kesesuaiannya dengan lagu yang sedang diputarkan.

Malam jatuh di pul truk itu. Kelelahan setelah memberi persembahan kepada kekasihnya dalam angan-angan, sang supir pun kembali ke truknya untuk berbaring sejenak. Di samping truknya, bayangan Mooner kembali terlihat lewat, tanpa gerobak dangdut kali ini.

Kini, mereka tampil sebagai berempat, membawakan salah satu tembang andalan Rhoma Irama, “Begadang”. Ada dua hal yang spesial dari penampilan Mooner kali ini. Pertama, jika biasanya Marshella mengambil alih mikrofon tengah, kali ini Absar lah yang berada di sana. Kedua, Rekti menambahkan footwork-nya yang sudah baik dengan jurus langkah kepiting pamungkas yang menghibur. Selebihnya, formasi mereka tidak banyak berubah dibanding saat mereka menemani Johnny Iskandar tadi.

Malam itu, aliran listrik terputus. Supir truk yang sudah terbangun dari baringan singkatnya pun mencari alat penerangan portable untuk melihat keadaan di luar. Kunto Aji ternyata sudah siap sedia di sana. Ditemani pencahayaan sekenanya dari lampu truk dan kernet yang memegang senter dari bak truk, ia mulai menyanyikan sebuah hit dari the one and only King Nassar, “Seperti Mati Lampu”.

Kunto yang sudah berpenampilan heboh, campuran antara Raja Dangdut dan torero yang sudah siap dihadapkan dengan banteng, memulai penampilannya dengan bagian chorus lagu ditemani iringan kibor dengan kunci-kunci serupa maj7, nuansa musik yang ia biasa ia mainkan. Tak ada dangdut di sana, tapi keadaan itu hanya bertahan hingga dua chorus. Setelah itu, Kunto pun seperti kesurupan King Nassar. Tak seperti penampilannya yang kalem di panggung-panggung biasa, di Dang! Dang! Dang!, ia tampil seperti cacing kepanasan. Badannya bergoyang asyik mengikut irama. Ia pun berhasil menyesuaikan gerak-gerak kejangnya dengan tutti-tutti khas koplo.

Penampilan Kunto Aji mendekatkan penonton ke akhir acara. Ia mendekat ke tutup bak sebuah truk bertuliskan “Drama Romantika” dengan fon yang memberi kesan “Pantura sekali”. Di bak tersebut, ternyata Widi dari Maliq & D’Essentials sudah siap dengan set drum lengkapnya. Dari celah-celah sempit kumpulan truk yang terparkir di sana, para personel Maliq yang lain masuk perlahan, disertai dua pemain tambahan, Rekti dari Mooner (yang sekarang memegang gitar Absar) dan Abyan dari The Panturas, sosok angan-angan sang supir truk ketika memberikan persembahan kepada kekasihnya. “Drama Romantika” dijadikan lagu pamungkas untuk menutup cerita pesta rakyat malam itu. Tak seperti penampil lain yang begitu dangdut, penampilan para personel Maliq senuansa dengan persona panggung mereka biasanya, tuksedo hitam untuk semua personel kecuali Rivani yang menggunakan gaun dengan warna serupa. “Drama Romantika” menjadi ajang puncak para penampil.Mereka berjoget bersama sembari menjaga posnya masing-masing. Kunto Aji ikut bernyanyi menemani duo vokal Angga-Rivani. Rekti dan Abyan pun tak mau kalah main gitar melawan Lale dengan memberi solo pamungkas di dekat ujung lagu di mana Rekti bermain gitar sambil kayang sempurna.

Teks: Dicki Lukmana dan Abyan Nabilio
Visual: Arsip Siasat Partikelir dan Soundrenaline

Cara Retlehs Tuangkan Keresahan Sang Pembetot Bas

Retlehs (nama yang cukup njelimet untuk dieja dan disebutkan) telah merilis sebuah nomor dengan judul “Matahari” pada Senin (29/11) dengan bantuan Sinjitos Collective. Lirik dari nomor tersebut diangkat dari masalah...

Keep Reading

Libido Bermusik Muto dalam EP Debut

“Dalam proses penciptaan lagu-lagu Muto, kata ‘yeah yeah yeah‘ juga merupakan ekspresi kepuasan mereka terhadap lagu-lagu yang mereka ciptakan; seperti merasakan nikmatnya masturbasi,” jelas keterangan pers yang dikirimkan Muto mengenai...

Keep Reading

Urban Sneaker Society Akhirnya Kembali Secara Luring

Kabar gembira bagi para fesyen enthusiast, Urban Sneaker Society 2021, event Sneakers tahunan yang diadakan USS Networks sejak 2017, kembali hadir secara offline di Jakarta Convention Center (JCC) pada tanggal...

Keep Reading

Nuansa Abad Pertengahan Progresif di Karya Baru Tara Sivach

Tara Sivach merupakan seorang solois asal Jakarta yang mencoba masuk dalam ranah goth. Dengan nuansa abad pertengahan kelam khas gotik yang dicampur dengan rok semiprogresif dan gaya vokal klasik, ia mencoba...

Keep Reading