Sensor Lirik dalam Lagu, Perlukah?

Untuk mengawalinya, mari kita kembali sedikit ke awal tahun 2019. Saat itu, keriuhan terjadi dikalangan musisi menyoal Rancangan Undang-Undang (RUU) Permusikan. Salah satu sorotannya adalah menyoal  salah satu pasal yang berpotensi dan mengarah pada wilayah penyensoran. Hal tersebut ada di Pasal 4 tentang Proses Kreasi, di sana menyebutkan ‘Proses Kreasi dilakukan berdasarkan kebebasan berekspresi, berinovasi dan berkarya dengan menjunjung tinggi nilai agama, etika, moral, kesusilaan dan budaya bangsa’. Jika kita telisik lebih jauh tidak jelas batasan tentang moralitas, kesusilaan dan budaya bangsa di sana. Malah pasal tersebut dapat memicu misinterpretasi dan upaya pembatasan tujuan berkarya itu sendiri.

Selang beberapa waktu dari bergulirnya RUUP tersebut, keriuhan semakin menjadi-jadi. Pasalnya Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) wilayah Jawa Barat memberikan surat edaran mengenai beberapa lagu yang dilarang (dalam bahasa sopannya dibatasi) untuk disiarkan di radio. Setidaknya ada 17 lagu yang dibatasi, kebanyakan lagu dengan lirik bahasa Inggris, salah satunya adalah lagu Mr Brightside dari The Killers.

Dalam artikel kali ini penulis ingin sedikit berbagi pandangan soal sensor, khususnya sensor dalam musik. Persoalan sensor menyensor kerap menjadi polemik dan menimbulkan persoalan baru, terlebih dalam urusannya dengan kebebasan berekspresi, apalagi di wilayah seni yang syarat dengan kebebasan. Musisi adalah seniman, dan musik adalah cara mereka untuk mengekspresikan diri. Sensor menghilangkan semua yang mendefinisikan seni dan apa yang membuat seniman menjadi seutuhnya sebagai ‘seniman’.

Sensor dalam karya memang bukanlah suatu hal yang baru. Faktanya persoalan sensor sudah diterapkan sejak awal tahun 1940-an. Kathleen Anthony dalam jurnalnya berjudul Cencorship of Popular Music menyatakan: “Pada jaringan dan stasiun radio tahun 1950-an biasanya menggunakan bentuk penyensoran ini, mengubah lirik lagu atau menghapus lirik yang dianggap menyinggung untuk disiarkan … sering kali arti lagu berubah drastis dan tanpa berkonsultasi dengan penulis lirik asli lagu tersebut untuk revisinya.”

Kemudian, penyensoran musik semakin terlembagakan. Di tahun 1985, album musik mulai diberi label ‘Parental Advisory’. Hal tersebut adalah salah satu upaya dalam membatasi musik –khususnya lirik yang ekplisit. Di lain sisi, penyensoran musik semacam ini justeru membuat para musisi –khususnya mereka yang berada di arus pinggir- semakin terinspirasi dan kreatif, dan itulah mengapa pendengar semakin tertarik padanya. Pada saat itu barangkali kita bisa melihat fenomena bagaimana musik hip-hop maupun punk yang terkenal dengan liriknya yang kritis dan terbuka itu semakin menggeliat.

Di Indonesia sendiri, soal sensor dalam musik sudah diatur dalam pasal 20 ayat (1) SPS KPI 2012 tentang Standar Program Siaran, ayat 1 misalnya melarang program siaran berisi lagu dan/atau video klip yang menampilkan judul dan/atau lirik bermuatan seks, cabul, dan/atau mengesankan aktivitas seks. Banyak pendengar yang ingin mendengarkan musik atau trek versi asli yang disensor karena lagu yang sudah melalui penyensoran tentu tidak menyampaikan kebenaran. Sementara beberapa seniman memilih untuk menulis tentang cinta, alam, atau pikiran bahagia, yang lain memilih untuk menulis tentang perjuangan dalam hidup. Jika kata-kata dalam lirik diartikulasikan dengan cara yang menyinggung dan membuat orang tersebut tidak nyaman, tentu solusinya adalah dengan tidak mendengarkannya bukan?

Di dalam musik, elemen lirik tentu menjadi suatu hal yang paling mudah untuk dicerna. Tak jarang banyak musisi ataupun band –apalagi ketika mereka muncul di siaran massa entah itu radio maupun televisi- lirik yang sedikit menyimpang kerap dipermasalahkan. Salah satu contoh yang paling terkenal adalah The Doors ketika tampil di stasiun televisi untuk program legendaris  Ed Sulivan Show. Ketika itu seorang produser dari acara tersebut datang untuk memberi tahu The Doors bahwa mereka perlu mengubah baris lirk “Girl, we could get much higher” menjadi “Girl, we could get much better” saat membawakan “Light My Fire”. Perubahan tersebut diarahkan karena seolah-olah kalimat dalam lirik ‘Light My Fire’ tersebut dapat ditafsirkan mengacu pada pengunaan obat-obatan terlarang. Alih-alih mengikuti saran dari sang produser, si karismatik Jim Morrison malah tetap merapalkan lirik asli dari lagu yang dibawakan. Tentu kejadian itu berujung pada masalah dan The Doors dilarang untuk kembali menjadi tamu dalam program tersebut.

Berada di ranah independen, memang persoalan sensor ini tak begitu berarti. Toh ada ataupun tidak ada sensor, musisi maupun seniman akan tetap berkarya dan menuangkan segala ekspresi dan kegelisanhannya, terlebih karena mereka tidak terikat dengan hal-hal yang bersifat normatif. Dan sebetulnya penyensoran ini masih bisa diakali. Kita ambil contoh tentang bagaimana Sharkmove, salah satu pionir musik independen di Indonesia mengakali penyensoran ini dengan menyamarkan muatan liriknya dengan bahasa asing untuk menghindari sensor dari pemerintah Orde Baru yang saat itu baru naik tahta. Pada dasarnya lirik-lirik yang dibuat oleh Benny Soebardja (Sharkmove) itu begitu kritis dan kontra dengan pemerintah, terlebih mengangkat isu-isu yang begitu sensitif tentang pogrom 65.

Namun akhirnya, persoalan sensor ini beda halnya ketika si musisi sudah berada di arus utama dan terikat di suatu lembaga dan dekat dengan aktivitas formal, katakanlah sering wara wiri di televisi, tentu perihal sensor menyensor ini tak dapat dihindarkan. Jadi, apakah soal sensor dalam berkarya ini memang diperlukan? Mengingat hal itu begitu kontra dengan kebebasan berekspresi yang sering kita dengungkan bersama.

Teks: Dicki Lukmana
Visual: Arsip dari Berbagai Sumber

Cerita Iblis dan Manusia di Album Kedua Parakuat

Ranah musik elektronik di Indonesia selalu menarik untuk di simak, terlebih geliatnya di arus pinggir. Banyak seniman bunyi muncul dengan coraknya sendiri dan membawa hasil eksperimentasinya masing-masing. Ranah ini terus...

Keep Reading

The Jansen Persembahkan Album Ketiga

Usai melepas nomor “Mereguk Anti Depresan Lagi” yang cukup mencuri perhatian, The Jansen, trio punk rock dari kota hujan Bogor akhirnya meluncurkan album ketiganya bertajuk “Banal Semakin Binal” (29/7) dalam...

Keep Reading

EP Who Suffer?, Jalan Keluar Defy dari Kekacauan Pandemi

Grup metallic hardcore dari kota Palu, Defy, baru-baru ini telah meluncurkan sebuah album mini bertajuk Who Suffer?. Perilisan album ini juga sekaligus sebagai tanda berjalannya kerja sama antara Defy dan...

Keep Reading

Menuju Album Kedua, Modjorido Rilis Nomor "Bebal"

Usai memperkenalkan album perdana self-tittled di tahun 2021 lalu, grup musik dari Bali, Modjorido akhirnya kembali merilis karya teranyar. Kali ini unit yang dihuni oleh Rico Mahesi (Vocal & Guitar),...

Keep Reading