Stand A Chance On the Road Tour berlanjut di Pulau Sumatera. Setelah membuka perjalanan di Medan, Sumatera Utara, rombongan bergerak ke Sumatera Barat. Kota berikutnya adalah Padang.

Setelah berkumpul di Medan dan melanjutkan perjalanan, rombongan menjadi tambah besar. The Panturas, yang berasal dari Jatinagor, Jawa Barat, mengalami pengalaman baru yang tidak bisa mereka dapatkan di pulau tempat mereka tinggal.

“Sejujurnya pegal-pegal. Semuanya, leher dan pinggang. Tapi ya, namanya juga pengalaman dan pertama kali juga kami melakukan ini. Dibawa happy saja,” kata mereka.

Perjalanan yang menurut kebiasaan hanya memakan waktu dua belas jam, ternyata molor sampai dua puluh jam.

“Kita lewat hutan. Harusnya jangan sembrono. Jadi, tadi kayaknya diputar-putar,” lanjut mereka.

Waktu tempuh yang panjang, kebanyakan diisi oleh pemandangan hutan.

“Sejam pertama terlihat keren. Tapi, ketika dua puluh jam berikutnya, kami mikir, ‘Kok sama-sama aja,’” canda mereka lagi.

Tidak ketinggalan juga proses mengisi perut yang jelas-jelas punya kebiasaan berbeda. “Makan itu tuh, sate padang pakai kuah kacang. Lumayan aneh kan?” kata mereka.

Kondisi pekerja musik yang punya tantangan fisik besar, mampir ke dalam kisah The Panturas. Rencana, kadang bisa berjalan lebih lama dan menguras energi yang juga lebih banyak.

Toh, semuanya bisa ditutup dengan baik ketika bertemu dengan publik lokal yang memang telah menunggu.

Mereka menutup cerita, “Sampai venue dan manggung, kebayar semuanya. Ternyata The Panturas di Sumatera ada gaungnya. Orang mendengarkan dan ada yang membentangkan banner ABK Padang. Anjir, priceless bangetlah.” (*)