Menjual Keluarga: Mengakali Biaya Langganan Aplikasi Streaming Berbayar

Saya sudah menyaksikan cukup banyak hal di dunia ini di usia saya yang kini tak lagi belia. Namun, baru dalam beberapa tahun terakhir saya melihat banyak orang, dengan sadar tanpa pengaruh substansi apapun, merelakan diri untuk melabeli dirinya sebagai anak broken home secara digital. Mereka mencari-cari keluarga yang mau dan ikhlas untuk mengadopsi mereka untuk aplikasi streaming berbayar. Dari sana, media sosial berubah jadi panti asuhan raksasa.

Memang mungkin nilai-nilai luhur yang ditanamkan para pendiri bangsa Indonesia telah tertanam ke dalam diri setiap muda-mudi. Apalagi hal yang tidak kita selipkan dengan asas gotong royong. Katakanlah, cancel culture, bully, MLM yang tumbuh subur, dan hal lain yang terjadi. Semuanya memiliki andil dalam menobatkan Indonesia jadi salah satu negara dengan netizen yang tidak ramah, atau dalam bahasa yang lebih halus, kurang ajar.

Di sisi lain, asas gotong royong ini pun dapat menjadi energi positif.

Contohnya, model crowdfunding berbasis donasi di Indonesia sukses menunjukan bahwa anak bangsa adalah orang baik yang suka beramal dengan total dana terkumpul di angka yang sangat luar biasa. Mulai dari anak kecil yang tidak punya sepatu, tabungan skateboard, pasangan yang menggalang dana untuk menikah, sedekah untuk kaum papa, bencana alam, hingga korban perang di luar negeri sana. Seluruhnya dapat dikatakan menjadi sukses karena asas gotong royong.

Kemudian, beralih ke hal-hal yang lebih nyata. Mungkin kita lebih familiar dengan asas gotong royong ranah finansial ini dengan kata patungan. Siapa yang tidak pernah patungan dalam hidupnya? Saya hampir 100% yakin bahwa semua orang pernah—saya katakan hampir yakin karena saya yakin pula ada orang pelit di setiap tongkrongan dan saya tidak tahu berapa statistiknya. Lagipula, memang tidak ada angka pasti yang bisa saya sajikan di sini karena kalau menggunakan data serius tulisan ini nanti menjadi proposal tesis saya.

Selain itu, asas gotong royong itu juga jadi inti dari pergerakan kolektif dan komunitas yang tak jarang memiliki program-program keren yang patut diacungi jempol. Nah, saat kolektif bertemu dengan patungan, biasanya yang terbentuk adalah sebuah lingkaran. Ajaibnya, di dunia digital dan ranah lifestyle, ada sebuah fenomena keren di mana semangat kolektif dan patungan ini berubah menjadi siasat untuk mengakali biaya berlangganan aplikasi streaming berbayar. Ya, benar, sistem adopsi untuk paket langganan keluarga dalam aplikasi streaming berbayar.

Tidak perlu sulit-sulit mencari, akan ada orang baik yang menawarkan kamu untuk menemukan keluargamu lewat komentarnya di media sosial. “Numpang gelar lapak ya kak. Akun premiumnya kak.” Kalau kamu lihat komentar seperti ini, jangan memarahi mereka, mereka sudah berjasa mempertemukan banyak orang dengan keluarga digitalnya. Walaupun dalam hati saya agak miris sebenarnya, apakah ini yang namanya menjual keluarga?

Dari sistemnya, sebenarnya mereka hanya mengumpulkan orang-orang untuk dibuatkan ‘keluarga’ digital untuk sebuah aplikasi. Mungkin peran mereka sebenarnya tidak jauh beda dengan koordinator proyek, mak comblang, tengkulak duren, atau agen kawin kontrak yang fungsinya ya memang mengumpulkan dan mempersatukan.

Para penjaja ‘keluarga’ ini bisa dibilang cukup giat dan rajin dalam mencari pundi-pundi. Bayangkan saja, setiap ada aplikasi baru pasti dalam beberapa saat langsung ada mereka yang menjualnya. Mau itu aplikasi video on demand, music streaming, atau bahkan sekedar invitation untuk dengar orang-orang terkenal yang tidak kita kenal cuap-cuap juga bisa mereka jual. Saya sanksi kalau hal ini terjadi di luar negeri.

Kalau ada yang tahu di negara mana fenomena ini terjadi juga tolong beritahu saya, ya.

Terlepas dari semua bercandaan di atas dan hidup ini. Fenomena ini sebenarnya masih menjadi ranah yang abu-abu. Kebanyakan penjaja ‘keluarga’ ini, meski tidak membeberkan rahasianya, menyatakan bahwa mereka tidak menjual akun ilegal karena ada jaminan tidak diblokir, dan tidak pula menjual akun aplikasi streaming trial.

Sedangkan pihak perusahaan aplikasi streaming tentunya menggunakan berbagai cara untuk menghalau fenomena seperti ini. Salah satu caranya adalah dengan menyematkan lokasi untuk registrasi paket keluarga, dan melakukan konfirmasi secara berkala, tapi upaya ini belum bisa menghentikan upaya gotong royong anak bangsa. Kebanyakan lebih ikhlas memberikan data pribadinya kepada penjaja ‘keluarga’ dan mengorbankan data pribadinya dibanding membeli langsung dari aplikasi dengan keamanan yang sudah dipastikan. Eh, aman, kan?

Semuanya kembali pada pilihan masing-masing. Etis atau tidaknya hingga kini masih diperdebatkan. Hal ini tidak bisa disamaratakan dengan kasus bootleg yang dapat dipastikan keilegalannya. Mungkin di lain kesempatan, saya akan membahas fenomena bootleg yang tentunya ternyata memiliki sisi positif yang dapat dimanfaatkan seperti hikmah. Kesimpulannya, kalau kamu tidak punya ‘keluarga’, kamu tidak perlu bersedih karena di dunia maya banyak kok yang menjualnya, murah-murah lagi.

 

Teks: Riki Rinaldi

Visual: Yuzhar D Hermaya

Kolaborasi Selanjutnya Antara Yellow Claw dan Weird Genius

Duo Belanda Yellow Claw kembali berkolaborasi dengan Weird Genius mengusung lagu baru bertajuk ‘Lonely’ bersama finalis Indonesian Idol Novia Bachmid. Weird Genius dan Yellow Claw sebelumnya pernah berkolaborasi di lagu...

Keep Reading

Reruntuhan Akhir Dunia di Album Keempat Extreme Decay

Usai melepas beberapa materi pemanasan menuju album barunya, unit Grindcore kota Malang, Extreme Decay, akhirnya secara resmi melepas album keempatnya pada 29 April 2022 lalu yang diberi tajuk Downfall Of...

Keep Reading

KIAMAT Bagi Rekah di Album Perdananya

Sejak kemunculannya di medio 2015 lalu, unit skramz/blackgaze Rekah sudah mencuri perhatian dengan materi-materi musiknya. Tujuh tahun berlalu, bertepatan dengan Hari Buruh Internasional yang jatuh di awal Mei 2022 lalu,...

Keep Reading

Indra7 Lepas Gabriel EP Lewat Dead Pepaya

Di kancah musik elektronik, nama Indra Asikin Isa atau yang lebih akrab disapa Indra7 tentu tak bakal asing di telinga kita. Perjalanannya merentang panjang. Jejaknya bisa kita simak diberbagai medium...

Keep Reading