Harlan Boer, solois asal Jakarta, akan merilis album terbarunya yang berjudul Bila Lapar Melukis pada 11 Desember 2018 yang akan datang.

Yang menarik dari album ini, materi-materi di album ini akan dirilis satu demi satu mulai dari 9 Oktober sampai 11 Desember 2018. Lagu pertama yang ia pilih, berjudul “Emas Dalam Hati”, sudah dirilis di Keos Ojo Keos, Jakarta Selatan, pada Selasa, 9 Oktober 2018 kemarin.

Nantinya, Bila Lapar Melukis akan dirilis dalam format CD oleh Langen Srawa Records dan tentunya dalam format digital.
Siasat Partikelir mendapatkan kesempatan untuk berbincang dengannya dan mengobrol banyak tentang album ini. Selamat membaca. (*)

Album baru lo, akan dirilis di bulan November besok. Bisa diceritain gimana proses kreatifnya?

Proses kreatifnya sebetulnya mengalir aja, karena sejak rilis Operasi Kecil gue sudah mulai menulis lagu-lagu baru lagi. Kadang rajin, kadang berhenti. Hingga suatu hari gue menulis lagu Bila Lapar Melukis. Gue membuat rekman video menyanyikan lagu itu di rumah, lalu gue upload di Instagram. Di kolom comment, gue membaca Henry Foundation berminat untuk membuatkan video musiknya. Dari situlah gue jadi semakin merasa harus ke studio dan rekaman. Kalau habis bikin lagu dan merasa hasilnya menarik bagi gue, biasanya terbersit niatan untuk rekaman. Tapi, besok-besoknya bisa jadi terlupakan.
Sebelum lagu itu gue sudah menulis belasan lagu, tapi karena Henry menanyakan ke gue, “Lagunya sudah direkam belum?” Gue bilang, “Belum.” Akhirnya gue minta tolong ngerekam lagu itu di studionya dia; HFMF studio. Sepulang dari studio, gue bikin satu lagu lagi. Nggak lama, gue rekaman lagu baru itu di HFMF. Setelah merekam dua lagu itu, sempat jeda tidak merekam apa-apa lagi.

Awalnya Bila Lapar Melukis kan dari lagu dulu ya, baru jadi judul album, lagu Bila Lapar Melukis terinspirasi dari apa sih?

Bila Lapar Melukis inspirasinya dari membaca buku biografi Affandi. Di situ diceritakan, Affandi seringkali melukis ketika dorongan untuk melukisnya memang sedang timbul. Seperti orang kelaparan ingin melukis, kurang lebih maksudnya begitu.
Secara tema, masihkah lo merekam keseharian dan lo tuangkan menjadi lirik seperti karya-karya sebelumnnya?
Ya, masih merekam keseharian, juga terinspirasi dari obrolan-obrolan, buku-buku biografi, dan film-film.

Secara musikal, lo bereksperimenkah dialbum ini?

Nah, awalnya dari pertanyaan Henry Foundation. Dia mau minta file rekaman gue untuk kemungkinan diremix. Gue bilang ke dia, “Rekaman gue pasti susah untuk dibikin remix-nya karena hampir semua lagu gue ngerekamnya nggak pakai metronom.”Dari pertanyaan itu, gue jadi berfikir untuk membuat album yang lagu-lagunya direkam dengan metronom. Tapi, karena gue kurang suka rekaman pakai metronom, jadi gue minta digantikan saja dengan memasang beat drum dari komputer atau keyboard sebagai guide-nya. Kadang-kadang fungsi awal beat sebagai guide bisa bertambah menjadi turut membentuk mood saat merekam lagu. Dari sisi itu, terdapat pengembangan pada rekaman gue. Selain itu, gue juga memang suka beragam jenis lagu. Jadi, di album ini pun ada gaya-gaya yang sebelumnya belum pernah gue rekam.

Selain Henry Foundation , siapa aja musisi-musisi yang terlibat di album ini?

Semua instrumen yang gue rekam di HFMF studio itu, gue yang memainkan. Kecuali beat drum yang dipilih Henry, tetap saja cukup besar keterlibatan dia di lagu-lagu itu. Bisa dibilang, dua lagu diproduseri oleh kami berdua. Selain itu juga ada Adink Permana. Jadi, gue sempat mengajak Alvin (Teenage Death Star) dan Adink untuk membuat proyek musik bersama. Gue sempat bikin tiga lagu. Satu lagu direkam oleh kita bertiga, dua lagu lainnya baru gue dan Adink yang mengisi rekaman. Proyek itu terhenti karena Alvin sedang sibuk. Nah, ketika ingin membuat album Bila Lapar Melukis, gue meminta Adink untuk membatu merekam. Jadilah ada beberapa lagu yang gue rekam bersama dia. Adink bahkan mengisi banyak bagian lagu; bermain gitar, keyboard, perkusi, dll. Jadi, beberapa lagu diproduseri bersama oleh gue dan Adink Permana. Salah satu lagunya bahkan sudah direkam sejak kita dan Alvin dulu sempat mau bikin proyek itu. Nah, sisa lagu-lagu lainnya gue rekam di studio Mamokiak, di dekat rumah gue. Karena kemarin sudah pernah bekerja bersama di album Operasi Kecil, gue semakin merasa nyaman bekerja dengan Adi, soundengineer Studio Mamokiak. Semua instrumen di lagu-lagu itu memang gue yang memainkan, tapi keterlibatan Adi cukup besar. Lagu-lagu itu kita produseri bersama; saya dan Adi Mamokiak. Untuk musisi tamu, tidak ada kecuali Adink. Tapi untuk sesi produksi, gue melibatkan 3 produser tamu. Segala supervisi mixing lagu-lagu yang direkam oleh Adink, ditangani langsung oleh dia. Sedangkan Henry bahkan me-mixing sendiri lagu-lagu gue yang direkam di studionya.

Oh ya, kenapa setiap minggu dirilis single-single dulu? Idenya dapat dari mana?

Gue jadi Fungjai Indonesia Exclusive Artist. Mereka meminta album gue untuk dirilis digital pertamakali di Fungjai, baru kemudian di kanal-kanal digital lainnya. Gue gak ada masalah sama sekali. Gue malah mengusulkan untuk merilisnya satu per satu saja, seminggu sekali rilis satu lagu sampai semua lagu di album selesai dirilis baru terakhirnya gue merilis CD. Ide merilis lagu format digital secara mingguan sebenarnya bukan hal baru. Gue banyak terinspirasi oleh Zeke Khaseli. Tahun 2010 dia sempat membuat hal yang sama, weekly download di website-nya. Lalu, kalau gak salah gue juga pernah dengar kalau Ash dulu sempat membuat aktivitas serupa juga. Kalau gue sih, ya, hanya meng-copy yang dulu Zeke lakukan.

Terakhir nih, apa harapan lo untuk Album Bila Lapar Melukis?

Harapannya, ya, bisa sebanyak mungkin orang mendengarkan album Bila Lapar Melukis.

Teks dan Wawancara: Rio Jo Werry
Foto: Dokumentasi Harlan Boer