Penyelenggaraan ke-11 Art Jakarta, tanggal 30 Agustus – 1 September 2019 lalu di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, menampilkan wajah baru perhelatan art fair internasional yang sebelumnya bernama Bazaar Art Jakarta (sejak 2017 berganti nama menjadi Art Jakarta). Art Jakarta, yang pada tahun-tahun sebelumnya diselenggarakan di Grand Ballroom The Ritz-Carlton Jakarta, Pacific Place, kini tidak hanya berpindah lokasi, namun juga hadir dengan visual branding serta tim manajemen baru yang dipimpin oleh Tom Tandio sebagai fair director dan Enin Supriyanto sebagai artistic director.

Pertama kali diunggah di media sosial pada November tahun lalu, logotype ‘Jakarta’ dengan penekanan pada kata ‘art,’ menjanjikan tampilan baru Art Jakarta sebagai salah satu pionir art fair (istilah perhelatan, khususnya seni rupa, yang mewadahi pertemuan serta transaksi antara seniman, kolektor, kurator, galeri, hingga art dealer) berskala internasional di Indonesia. Tidak hanya logo baru Art Jakarta yang berseliweran melalui unggahan-unggahan para pelaku dan penikmat seni di media sosial, JCC pun dibuat ramai selama tiga hari penyelenggaraan oleh pengunjung serta galeri partisipan Art Jakarta yang mencapai angka 70 galeri (14 diantaranya merupakan galeri di luar Indonesia).

(Salah satu area program Art Jakarta Spot yang menampilkan karya Eko Nugroho dan Albert Yonathan)

Program pameran Art Jakarta 2019 berisi Art Jakarta Gallery, Art Jakarta Spot (menampilkan karya-karya instalasi berskala besar oleh seniman-seniman seperti Albert Yonathan, Cheuk Wing Nam, Eko Nugroho, Syaiful Aulia Garibaldi, dll), serta Art Jakarta Scene yang menghadirkan kolektif-kolektif seni dan art initiatives seperti Art Dept ID, Omnispace, Milisifilem Collective, Museum of Toys, Atreyu Moniaga Project, dll. Di samping itu, Art Jakarta 2019 juga menawarkan Activity Program yang berisi Art Jakarta Talk, Art Jakarta Charity, dan Art Jakarta Play untuk meramaikan perhelatan tahunan ini.

Beragamnya tawaran program di luar presentasi karya di setiap booth galeri di Art Jakarta 2019 menuntut stamina lebih pengunjung. Penyelenggaraan yang hanya tiga hari membuat varian program Art Jakarta 2019 bisa dengan mudah terlewatkan. Padahal, salah satu program yang diberi nama Art Jakarta Talk sebenarnya menghadirkan tajuk-tajuk diskusi yang menarik seperti “Public or Private – The Role of Museums in Asia,” “The Role of Collectors in Building A Sustainable Art Ecosystem,” “Collectors’ Musical Chair Debate – Being Global,” “Indonesia Pavilion in Venice Biennale Arte 2019,” serta sesi “We Discuss” dengan pembahasan “To Be Viral or Not To Be,” “I Selfie Therefore I Am, Ethics in Art,” “Young, Fresh, and Struggling, The Path for Young Artist.” Tajuk-tajuk tersebut dapat memancing diskusi panjang, namun karena terbatasnya durasi (kurang lebih satu sampai satu setengah jam), pengunjung mau tidak mau harus berkompromi atau membagi energinya untuk menyerap ragam tawaran diskusi sekaligus mengapresiasi karya yang jumlahnya tidak sedikit dalam waktu harian yang terbatas (dibuka mulai pukul 13.00 hingga sekitar pukul 21.00).

(Area Pre-Function A JCC untuk program-program seperti Opening Ceremony, Charity Auction, dan Art Jakarta Talk)

Perhelatan art fair hampir selalu menampilkan banyak karya seni dari seniman-seniman representatif galeri tertentu. Hal tersebut menghasilkan perilaku apresiasi yang sedikit berbeda dengan pameran-pameran pada umumnya, atau perhelatan seni dengan format lain seperti festival hingga biennale.

Salah satu booth dengan karya seni terbanyak adalah booth Art Unlimited yang disponsori oleh BEKRAF (Badan Ekonomi Kreatif). Art Unlimited yang diinisiasi oleh empat orang kurator (Asmudjo Jono Irianto, Enin Supriyanto, Irawan Karseno, dan Totot Indrarto) pada tahun 2018 ini memamerkan sekitar 70 karya dari lebih dari 50 seniman (new comer hingga established) di Indonesia. Setiap harinya, booth ini selalu melakukan rotasi karya sehingga pengunjung dapat mengalami karya-karya yang berbeda mulai dari hari pertama hingga hari terakhir.

Kepadatan program-program Art Jakarta 2019 tentu tidak menurunkan antusiasme pengunjung yang juga dimanjakan dengan beragam fasilitas tidak terbatas dan tidak berbayar seperti air mineral di beberapa sudut area JCC serta fasilitas terbatas seperti VIP Lounge yang juga menjadi ruang pertemuan antar kolektor, seniman, dan pemilik galeri. Harga tiket sebesar seratus ribu rupiah nampaknya sebanding dengan pengalaman mengalami bermacam karya seni, baik dari dalam negeri maupun internasional, serta suguhan program-program yang sedikit banyak menggambarkan fenomena serta kondisi terkini seni rupa kontemporer, khususnya di Indonesia.

Art Jakarta tidak bisa dipungkiri telah menjadi salah satu perhelatan seni kontemporer yang paling penting di Indonesia. Hal tersebut tentunya juga sejalan dengan misi mereka untuk menjadikan kota Jakarta sebagai salah satu pusat seni kontemporer di Asia serta memperkuat posisi Indonesia sebagai negara dengan perkembangan seni kontemporer terdepan di Asia. Unggahan terbaru akun Instagram Art Jakarta (@artjakarta) tanggal 2 September 2019 lalu menunjukkan kesiapan mental mereka untuk kembali menyelenggarakan perhelatan Art Jakarta tahun depan, tepatnya tanggal 28 – 30 Agustus 2020. Tanggal yang kemungkinan besar akan dinantikan oleh para penikmat seni kontemporer di Indonesia dan Asia.

Teks: Bob Edrian
Visual: Bob Edrian