Menjadi Gusar dan Marah ala Johnny Ramone

Mari kembali ke New York medio 1970-an, dengan membawa pertanyaan sederhana, siapa yang paling populer menyulap komposisi musik dengan ledakan tiga kunci gitar? Mungkin kalian akan berpendapat sama, dengan menyebut satu nama yang mudah diingat: Johnny Ramone! Jawaban  ini tentu masih bisa diperdebatkan. Tak hanya permainan gitarnya saja yang menarik, namun sikapnya juga sangat layak untuk ditelisik, Johnny terkenal dengan sikap tempramennya yang tinggi, sekecil apapun masalah bisa saja berujung pada perkelahian lalu kembali minum bir bersama beberapa waktu setelahnya.  

“Kamu bisa mendengar Johnny menjotos Dee Dee dan melemparkanya ke salah satu sisi ruangan cuma karena dia telat main gitar beberapa 1/64 detik saja.” Ungkap Danny Fields (manager pertama Ramones) dikutip dari Vice.com  

Pria dengan sifat yang meledak-ledak itu bernama asli Jhon William Cummings, lahir di Queens, New York, AS Pada 8 Oktober 1948. Sikap tempramennya yang tinggi itu agaknya diwariskan oleh sang ayah dan tentu dipengaruhi juga oleh situasi lingkungan sosialnya yang keras. Sebelum malang melintang di jagat musik bersama Ramones, ia sempat menjadi tukang pipa bersama ayahnya dan pernah sekolah militer sebelum akhirnya berkuliah di Florida. 

Johnny muda ahli membuat onar. Ketika di Tangerine Puppets (band masa SMAnya dulu), ia pernah berkelahi dengan vokalisnya sendiri ketika di atas panggung dan dilerai oleh anggota bandnya yang lain. Suatu ketika ia pernah memukul selangkangan siswa lain dengan neck gitar hanya karena ia membencinya. Atau berkelahi dengan Macklin (vokalis Sub Zero) karena persoalan wanita, Macklin menendang kepala Johnny yang berujung dengan luka ekstensif dan harus dioperasi otak. Johnny membuktikan bahwa setiap orang –muda ataupun dewasa- memiliki naluri amarahnya yang murni dan itu bisa menular pada medium apa saja yang di sukai, termasuk dalam musik. Coba dengarkan kembali album-album awal Ramones, era sebelum Phil Spector mengambil alih peran produser dan menodongkan pistol ke arah Johnny ketika sesi rekaman album ‘End of the Century’ (1980), hanya karena riff gitar ia mainkan belum sesuai dengan keinginan Phil. 

Teknik gitar downstrokes  dengan ritme yang cepat, suara bising gitar yang kering, minimalis tanpa embel-embel solo gitar berkepanjangan adalah ciri khas yang kuat dan alami dari seorang pemarah bernama Johnny Ramone. Pendengar tanpa harus membaca buku ‘Commando’ pun mungkin sudah bisa menebak, sang gitaris adalah pria dengan emosi yang meledak-ledak. 

Alih-alih menjadi seniman yang bohemian dan flamboyan, Johnny yang ahli bikin onar itu malah seperti penjahat yang baru keluar dari penjara. Ia pernah dilarang masuk ke sebuah klub malam bernama Max’s Kansas City, dan Johnny tidak pernah memaafkan hal itu. Sampai akhirnya menemukan tempat dimana ia dan Ramones menjadi salah satu band besar dan diperhitungkan sampai dengan saat ini. Adalah CBGB -rumah ibadah bagi para pemuja cutting edge di Bowery, Manhattan, NYC-, sebuah bar kumuh milik Hilly Kristal. CBGB yang telah melahirkan banyak band kenamaan seperti Patty Smith Group, Talking Heads, Blondie, Television, dan tentu Ramones. 

Ketika muda, Johnny begitu menggandrungi band-band rock ‘n roll yang sudah mapan, macam The Beatles, The Doors, MC5 dan menggemari Led Zeppelin. Melihat permainan musik mereka, Johnny menolak tawaran Tommy yang selalu mendorongg Johnny untuk membuat sebuah band. Alasannya cukup singkat: Persoalan skill bermain gitar, kalaupun bermain musik pasti tidak akan sebagus mereka (band yang digemari). Disini kita bisa melihat sisi perfeksionis Johnnny. 

Barangkali The New York Dolls baginya adalah sekelompok juru selamat bertampang kemayu. Mereka membawa isyarat demokratis dalam bermusik, bahwa siapapun bisa membuat bunyi yang bermakna, sekalipun tanpa kemampuan yang mumpuni. Melihat kenyataan itu akhirnya Johnny memenuhi permintaan Tommy untuk membuat sebuah band dengan nama Ramones yang bermarkas di Forest Hills, Queens, NYC pada 1974. Konon nama itu diambil dari nama samaran Paul McCartney yang keluar masuk hotel dengan nama Paul Ramone agar tidak dikenali.  

Terlepas dari kata “Punk” yang disimbolkan sebagai martil penghancur budaya arus utama dan perlawanan kaum remaja ambisius yang hendak meruntuhkan tirani ataupun monarki di Inggris. Pada wilayah musikalitas, Ramones telah memyumbang pengaruh yang cukup besar untuk kemajuan musik Punk Rock. 

Majalah Rolling Stone menobatkan lagu “Blietzkrieg Bop” pada urutan 24 lagu paling berpengaruh di dunia, dengan alasan sederhana dan cukup menggelitik: “Musik Rock perlu dibuat aman bagi anak-anak yang hanya tahu bagaimana meghirup lem, menginjak fuzzbox dan menghitung sampai empat.” Tak surut di situ, pada edisi berbeda, majalah Rolling Stone kembali meletakan debut album The Ramones (1976) untuk duduk santai di urutan nomor wahid “The 40 Greatest Punk Albums of All The Time”. Di susul album perdana The Clash (1977) dan Never Mind the Bollocks, Here’s The Sex Pistols (1977). 

Untuk sisi personal Johnny Ramone, Pada 2009 ia disertakan dalam daftar “10 Best Electric Guitarists of All Time” oleh majalah Time. Sedangkan majalah Rolling Stone mendaulat Johnny di urutan nomor 16 untuk “the Greatest Guitarist of All Time”. Pada tahun 2002, Ramones masuk ke dalam Rock ‘n Roll Hall of Fame. Dengan dilantik oleh Eddie Veder (Pearl Jam) yang juga pengagum Ramones, akhirnya mereka resmi sejajar dengan  Jimi Hendrix, Cream, The Velvet Underground, dan lain sebagainya

Dibalik pencapaian-pencapaian di atas, tentu segala sesuatu tidak selalu berjalan dengan mudah. Dalam beberapa hal, adakalanya kita mengacungkan jari tengah kepada Johnny.  

Entah bagaimana, menariknya, semua anggota Ramones dan para mantan personilnya menggunakan kata “Ramone” di akhir nama mereka. Joey Ramone, Johnny Ramone, Dee dee Ramone, Tommy Ramone, Marky Ramone, Richie Ramone, Elvis Ramone dan C.J. Ramone. Tentu itu semua bukan nama asli.  Personal branding dan citra band agaknya menjadi perhatian serius (atau hanya bercanda?) bagi Ramones yang bubar pada tahun 1996 itu.  

Kisah hubungan emosional antar anggota Ramones pun begitu unik sekaligus pahit jika dibayangkan. Johnny dikenal sebagai diktator di tubuh Ramones. Ia disegani dan ditakuti, bisa saja ia menampar atau memukul wajah Dee Dee hanya karena chord yang dimainkan salah. -Cuplikan Ramones dalam film CBGB cukup menggambarkan bagaimana tempramennya Johnny. Yang paling menarik dan tragis adalah kisah pertikaiannya dengan Joey. Selama 15 tahun mereka berdua tidak pernah bertegur sapa. (lagi-lagi saya membayangkan, bagaimana mungkin mereka menyembunyikan rahasia itu dengan rapi di atas panggung dan di depan media. Dan jika di dalam studio akan seperti apa situasinya?). 

Dalam sebuah wawancara setelah kekasihnya dicuri oleh Johnny, Joey mengatakan: “Johnny kelewatan. Ia menghancurkan dalam band sekaligus antara kami”. Titik persoalannya ada pada Linda Cumming, mantan kekasih Joey dan Istri dari Johnny. Joey seorang pendiam, pemalu dan pengidap OCD (Obsesive Compulsive Disorder). Baginya, mungkin Linda begitu berharga, namun Johnny yang mendominasi dan menakutkan itu secara diam-diam bermain api bersama Linda di belakang Joey. Bahkan ketika Joey sedang menghadapi sakaratul maut, Johnny enggan menjenguknya. Kepada Marky Ramone ia berkata “Biarlah, dia bukan teman saya,” setelah diingatkan untuk menjenguk joey sebelum kesempatan itu hilang. 

Hubungan Joey dan Johnny begitu penting namun keras. Tetapi akhirnya ia pun mengakui bahwa keberadaan Joey begitu penting baginya. 

“Saya pikir saya tak akan peduli dan ternyata saya peduli, jadi rasanya aneh. Tanpa disangka saya merindukannya”. ungkap Johnny dikutip dari majalah Rolling Stone. Akhirnya keberadaan Johnny Ramone lah yang menentukan sampai kapan Ramones mampu bertahan. Pada 6 Agustus 1996 mereka menggelar konser di Hollywood Palace. Konser itu sekaligus tanda berakhirnya perjalanan musik mereka yang awet namun rusak selama 22 tahun.

Beberapa tahun setelah kebubarannya, satu persatu anggota Ramones meninggal dunia. Termasuk Johnny. Ia meninggal setelah berjuang melawan penyakit kanker prostat selama bertahun-tahun. Johnny meninggal pada 15 September 2004, di rumahnya, Los Angeles. Ramones adalah bentuk paripurna dari sebuah personafikasi rock n’roll yang mendedah ketegangan dan ketidaksempurnaan, sialnya, Johnny Ramone berada diposisi sentral atas semua peristiwa itu. Dalam hal orisinalitas dan kejujuran berkarya dia patut dikagumi dan sunah jika diikuti. 

Teks: Dicki Lukmana
Visual: Arsip dari Berbagai Sumber

The Box Perkenalkan Formasi Baru Lewat Live Session

Pandemi yang sudah berlangsung selama dua tahun ini telah membuat kita semua kembali dari awal. Menyusun ulang rencana dan mulai menata kembali langkah-langkah yang akan diambil. Kini industri sudah mulai...

Keep Reading

Sajian Ska Berbeda dari Slowright

Slowright, unit ska dari kota Malang baru-baru ini telah melepas album mini teranyarnya bertajuk Believe. Dirilis oleh label rekaman yang bermarkas di Yogyakarta, DoggyHouse Records, lewat rilisannya kali ini Slowright...

Keep Reading

Zizi yang Menyapa Kampung Halaman Lewat Hometown Tour

Setelah menyelenggarakan showcase perdananya yang bertajuk Unelevated Intimate showcase di Bandung pada akhir Februari lalu. Kini, Zizi kembali ke rumah tempat ia tumbuh dan menemukan passion terbesar dalam dirinya. Ia...

Keep Reading

Realita Kaum Pekerja di Nomor Kolaborasi Dzulfahmi dan Tuantigabelas

Dzulfahmi, MC dari kolektif Def Bloc dan Dreamfilled yang bermukim di Jakarta baru-baru ini (6/5) telah memperkenalkan karya terbarunya bertajuk “Rotasi”. Lewat rilisannya kali ini Dzulfahmi menggaet salah satu nama...

Keep Reading