Menilik Keliaran Musik Psychedelic Jepang

Mendengar kata Jepang kita seperti diingatkan pada suasana yang tertib, disiplin, dan etos kerja masyarakatnya yang tinggi. Suasana pedesaan yang asri atawa kehidupan urban yang serba cepat. Dalam musik populer, Jepang memiliki coraknya sendiri yang kemudian disebut musik city pop, musik yang kaya akan bunyi-bunyian modern dan ritme yang dinamis, yang saat ini kian digandrungi di banyak negara. Namun tentu saja Jepang juga memiliki sisi keliaran, selain kebengalan geng Yakuza, Jepang pun memiliki sejarah musik yang tak kalah liar dari musik rock ala barat periode 70-an, ketika Jimi Hendrix, Cream, dan komplotan psychedelia lainnya masih wara-wiri di atas panggung.

Jejak keliaran tersebut bisa kita lacak dari dua album monumental, yakni album “Satori” karya Flower Travelin Band dan album kompilasi “Ongaku 70”. Kedua album tersebut agaknya akan mengubah pandangan kita terhadap citra musik Jepang.  

Ongaku 70 (Vintage Psychedelia in Japan) adalah sebuah album kompilasi yang mengantarkan kita pada perspektif lain tentang Jepang, khususnya pandangan secara musikal. Setidaknya album ini memuat tiga belas nomor lagu yang terangkum pada rentang waktu 1969 sampai 1978, diantaranya “Tengu” (Osamu Kitajima), “Awador” (Stomu Yamashta’ta Red Budha Theatre), “Tsugaru Tour” (Akiko Yano), “Nanika Ga Umi Wo Yatte Kuru” (Sadistic Mika Band), “Nanika Signal” (Hary Husono & Yellow Magic Band), “The Lost Mother Land (Part 1)” (The Apryl Fool), “Good Night!” (Rabi Nakayama), “Almoni” (Karuna Khyal), “The Cat” (Kuni Kawachi & His Group), “Ape Society” (Toshiaki Tsushima), “Jigoku No Orufe” (J.A Caesar & Shirubu), “Govinda” (Maki Asakawa), dan “Strong Out Deeper Than The Night” (Les Rallizes Denudes). Album ini dirilis pada tahun 1979 oleh Hiroku Records yang berada di Tokyo.

Album Cover psychedelic jepang Ongaku 70

Ketiga belas lagu tersebut kaya akan sisi eksperimental. Jika kita hanya mengenal musik psychedelic yang karib dengan musik-musik tradisi timur tengah –seperti India, dalam album psychedelic Jepang, Ongaku 70, ini dijamin kamu akan mendapat pengalaman lain. Album ini berhasil menangkap bentang suara musik tradisi Jepang. Karya-karya di dalamnya cukup merepresentasikan bagaimana nilai-nilai estetika musik modern mampu berkelindan dengan musik tradisi yang akhirnya menghanyutkan kita pada pengalaman-pengalaman tertentu. 

Simak saja lagu pembuka dalam album ini, “Tengu” karya Kitajima, sepanjang lagu hanya diisi dengan sound gitar yang mentah, tak ada letupan yang berarti. Suara vokal yang sesekali muncul mengingatkan kita pada beberapa adegan teater klasik Jepang di film Samurai X. Selain karya nya, sosok Osamu Kitajima pun cukup diperhitungkan di ranah industri musik, ia memperkenalkan Japanese New Age yang mengubah citra musik Jepang di mata dunia. Kemudian komposisi menarik lainnya bisa kita  dengar dalam nomor “Nanika Ga Umi Wo Yatte Kuru”, Sadistic Mika Band memberikan fusi funk-psychedelic yang segar, namun dalam lagu ini groove psychedelic barat masih begitu terasa. Terlepas dari itu, Sadistic Mika Band telah masuk ke jajaran 100 Greatest Japanese Rock Album of All Time versi majalah Rolling Stone. Sebagai trivia, nama Sadistic Mika Band adalah plesetan dari nama Plastic Ono, sebuah grup musik yang dibentuk oleh John Lennon dan Yoko Ono.

Selain Ongaku 70, jejak keliaran musik psychedelic Jepang bisa kita jumpai juga pada album “Satori” karya Flower Travelin’ Band yang rilis tahun 1971. Dalam padanan bahasa Indonesia Satori memiliki arti Pencerahan. Agaknya istilah tersebut memiliki relasi yang kuat dengan nomor-nomor lagu di dalam-nya. Dari sampul albumnya saja kita sudah dapat menduga dari negara mana band ini muncul. Di balik sampul album yang menampilkan siluet Buddha dengan visual panorama khas lukisan-lukisan Jepang klasik ini memuat lima buah karya yang liar. Entah karena malas, Flower Travellin hanya menggunakan Satori Part I sampai dengan Satori Part V pada judul-judul lagunya.

Album ini dibuka dengan suara dengung lalu diikuti teriakan yang tak karuan dari Joe Yamanaka, distorsi gitar yang mentah dari Hideki Ishima pun bersambut. Sekilas lagu Satori Part I ini terasa familiar, karena komposisinya yang nyaris serupa dengan karya-karya klasik Black Sabbath. Dibalik lagu-lagunya yang ugal-ugalan dan memabukan ini, Flower Travelin menyuntikan karakteristik musik tradisi Jepang yang begitu kentara. Kita bisa menyimaknya dalam semua nomor lagu Satori. Terlebih ketika Hideki Ishima memainkan solo gitar yang berkepanjangannya itu.

Musisi cum penulis cult asal Inggris, Julien Cope dalam bukunya yang berjudul Japrocksampler menobatkan album Satori ini sebagai album terbaik, menduduki puncak pada daftar 50 album rock Jepang terbaik sepanjang masa. Flower Travelin Band terbentuk pada tahun 1967 sepulangnya Yuya Uchida –perkusi sekaligus produser album Satori- dari London. Pengalaman Yuya Uchida di London inilah yang kemudian dituangkan ke dalam album Satori. Mengingat Yuya adalah teman John Lennon dan pada saat keberadaan Yuya di London musik psychedelic sedang berada di menara gading dan Jimi Hendrix menjelma bak dewa.     

Para kritikus musik menggambarkan karya-karya Flower Travellin sebagai “a mystical proto-doom”. Apakah penggambaran itu benar demikian? Kita simak saja karya-karya mereka. Perkembangan musik psychedelic Jepang yang lebih kekinian mungkin bisa kamu lihat dan dengar juga  pada Kikagu Moyo yang sempat menghajar panggung Soundrenaline di tahun 2018 lalu. 

Teks: Dicki Lukmana
Visual: Arsip dari Berbagai sumber

Tentang Syukur dan Hidup yang Tak Tertebak di Lagu Terbaru Alahad

Beranjak menjadi solis, Alahad, moniker dari Billy Saleh yang sebelumnya dikenal sebagai gitaris dari band rock-alternative Polka Wars akhirnya kembali melanjutkan perjalanannya. Kali ini ia melepas sebuah nomor tunggal teranyar...

Keep Reading

Kolaborasi Selanjutnya Antara Yellow Claw dan Weird Genius

Duo Belanda Yellow Claw kembali berkolaborasi dengan Weird Genius mengusung lagu baru bertajuk ‘Lonely’ bersama finalis Indonesian Idol Novia Bachmid. Weird Genius dan Yellow Claw sebelumnya pernah berkolaborasi di lagu...

Keep Reading

Reruntuhan Akhir Dunia di Album Keempat Extreme Decay

Usai melepas beberapa materi pemanasan menuju album barunya, unit Grindcore kota Malang, Extreme Decay, akhirnya secara resmi melepas album keempatnya pada 29 April 2022 lalu yang diberi tajuk Downfall Of...

Keep Reading

KIAMAT Bagi Rekah di Album Perdananya

Sejak kemunculannya di medio 2015 lalu, unit skramz/blackgaze Rekah sudah mencuri perhatian dengan materi-materi musiknya. Tujuh tahun berlalu, bertepatan dengan Hari Buruh Internasional yang jatuh di awal Mei 2022 lalu,...

Keep Reading