Menikmati Musik di Ketinggian Bersama Selili Jazz

Selili adalah sebuah nama daerah di Samarinda dengan potensi melimpah. Pelelangan ikan, pabrik tahu, serta hamparan perbukitan hijau menjadi primadonanya. Namun, di balik cerita-cerita kejayaan tersebut, ada pula sisi-sisi gelap yang menyertainya.

“Selili itu memang tempatnya agak kumuh, dan dari dulu terkenal dengan tempat premanisme, peredaran narkoba, begal, jambret dan hal jahat lainnya,” ungkap Wijaya Pambudi. Pria berusia 25 Tahun tersebut merupakan anggota dari Selili Muda, sebuah perhimpunan pemuda Selili yang memiliki misi mulia untuk mengenalkan potensi daerahnya ke mata masyarakat luas.

Dari beragam potensi yang ada, Wijaya dan Selili Muda sepakat untuk mengelola kawasan perbukitannya telebih dahulu. “Dari puncak Selili kita bisa melihat pemandangan Sungai Mahakam dan landscape kota Samarinda,” katanya. Sebelumnya juga lokasi tersebut sering dijadikan tempat camping oleh beberapa wisatawan, akan tetapi membuat sebuah pangelaran jazz outdoor tahunan dirasa akan lebih menarik banyak wisatawan. Atas dasar itu, Selili Jazz 2019 pun teragendakan untuk digarap dan dilaksanakan selama dua hari, yaitu tanggal 30 dan 31 Maret 2019 silam.

“Karena saya background pendidikannya adalah musik dan sekarang menjabat sebagai ketua Komunitas Jazz Samarinda, nah selanjutnya, saya mencoba mempertemukan anak-anak Selili Muda dan komunitas jazz tersebut untuk menggarap sebuah event jazz tahunan untuk dua kepentingan, yaitu yang pertama untuk merubah image Selili dan komunitas jazz disini pengen juga punya event jazz tahunan semisal Yogyakarta dengan Ngayogjazz-nya,” ungkapnya. Sebenarnya Samarinda sendiri sudah memiliki event jazz tahunan yaitu Mahakam Jazz Fiesta, tapi kata Wijaya, festival tersebut lebih mengedepankan kepentingan pemerintah, bukan komunitasnya.

Masyarakat Selili sendiri sangat menyambut baik terhadap agenda Selili Jazz 2019 tersebut. Hal itu juga dikarenakan para panitia pelaksana bersikap terbuka dengan cara melibatkan warga dalam rapat-rapat perancangan acara. “Hal tersebut untuk menghindari kecurigaan dari masyarakat setempat,” kata pria yang berprofesi sebagai tenaga pengajar musik tersebut.

“Kendala yang paling dirasa berat adalah soal akses. Jadi, waktu itu kita pake jalan Lumba-lumba gang 13. Jalan itu agak sempit, hingga mobil tidak bisa masuk. Nah lalu, pada saat itu lahan parkir akhirnya sempat jadi masalah. Tapi akhirnya kita menemukan lahan parkir walau agak jauh yaitu sekitar setengah kilo, dan kami akhirnya memakai jasa ojek lokal untuk mengantar yang bawa mobil ke depan jalan ke bukit lokasi acara,” cerita Wijaya. Sekitar 280 anak tangga untuk menuju venue juga dibuat saat itu. Warga setempat terlibat dalam perakitannya dengan memanfaatkan sumbangan biaya dari berbagai pihak.

Masalah lainnya terjadi saat sesi stand up comedy di jam 2 malam berlangsung. Saat itu, tiba-tiba badai menyerang lokasi acara yang berlangsung dari jam 3 sore hingga jam 9 pagi tersebut. Tenda-tenda rubuh, hingga mengharuskan para pengunjung untuk berpindah tempat ke rumah-rumah warga. “ada sekitar lima rumah warga yang dipakai untuk mengevakuasi para pengunjung serta talent saat itu,” jelas Wijaya.

Ia juga mengungkapkan bahwa penonton, talent, serta para volunteer tidak ada yang mengeluh namun malah mewajarkan karena saat itu adalah event pertama dari Selili Jazz. “Bila membuat event dan memakai lokasi outdoor, kita memang harus siap dengan kemungkinan-kemungkinan seperti itu,” ujar Wijaya.

Acara Selili Jazz pun mendapat respon yang baik dari masyarakat lokal Kalimantan Timur. “Target kita itu awalnya hanya 300 orang, tapi waktu itu malah melebihi target. Sampai gerbang juga sempat jebol. Beberapa orang ada yang masuk tanpa tiket. Kita memang kewalahan saat itu. Maklum, event pertama,” jelas Wijaya. Beberapa wajah mancanegara pun sempat terlihat saat acara berlangsung.

Warga Selili mendapatkan keuntungannya sendiri. Pada hari berlangsungnya acara, dagangan yang dijajakan oleh mereka terjual laris. Pengaruhnya pun berlangsung hingga event Selili Jazz 2019 berakhir. kata Wijaya, Selili menjadi ramai disambangi pengunjung.

Selili Jazz 2019 adalah langkah awal untuk sebuah agenda besar, yaitu membuat daerah Selili menjadi harum namanya dan terendus hingga keberbagai sudut di negeri ini. Semua kekurangan di acara perdana tersebut mestinya tidak menjadi soal, karena yang terpenting perkembangan kualitasnya harus lebih bagus untuk kedepannya.

Teks: Rizki Firmansyah
Visual: Arsip Selili Jazz

Geliat Kreatif Dari Sulawesi Tengah Dalam Festival Titik Temu

Terombang-ambing dalam kebimbangan akan keadaan telah kita lalui bersama di 2 tahun kemarin, akibat adanya pandemi yang menerpa seluruh dunia. Hampir semua bentuk yang beririsan dengan industri kreatif merasakan dampak...

Keep Reading

Memaknai Kemerdekaan Lewat "Pasar Gelar" Besutan Keramiku

Di pertengahan bulan Agustus ini, ruang alternatif Keramiku yang mengusung konsep coffee & gallery menggelar acara bertajuk “Pasar Gelar” di Cicalengka. Gelaran mini ini juga merupakan kontribusi dari Keramiku untuk...

Keep Reading

Semarak Festival Alur Bunyi Besutan Goethe-Institut Indonesien

Tahun ini, Goethe-Institut Indonesien genap berusia 60 tahun dan program musik Alur Bunyi telah memasuki tahun ke-6. Untuk merayakan momentum ini, konsep Alur Bunyi tetap diusung, namun dalam format yang...

Keep Reading

Head In The Clouds Balik Lagi ke Jakarta

Perusahaan media serta pelopor musik Global Asia, 88rising, akan kembali ke Jakarta setelah 2 tahun absen karena pandemi pada 3-4 Desember 2022 di Community Park PIK 2. Ini menandai pertama...

Keep Reading