Mengurai Montase di Satu Per Empat

Satu Per Empat, unit rock alteratif potensial asal Jakarta terus melaju melanjutkan perjalanannya usai menuai banyak pujian atas debut album penuhnya “Pasca Falasi”. Kelompok yang digawangi oleh Bismo Triastirtoaji (vokal), Audi Adrianto (gitar), Levi Stanley (drum), dan Rigaskara (bass) yang secara resmi dibentuk di Jakarta pada tahun 2015 ini kini sedang menyiapkan materi  musik terbarunya yang rencananya  akan dirilis dibeberapa bulan mendatang.

Sepanjang karirnya, Satu Per Empat sudah banyak merilis karya. Di luar album “Pasca Falasi” yang mereka rilis di sekitar penghujung tahun lalu, mereka juga cukup rajin untuk merilis lagu tunggal. Band yang memulai kariernya lewat single ‘Plaza’ ini pernah menelan pil pahit karena sempat memasuki masa jeda selama sekitar 2 tahun. Selepas hiatus, mereka pun kembali ke arena dengan membawa setumpuk karya baru juga kembali tampil secara live di klub maupun bar di sirkuit ranah musik independen.

Menurut vokalis Bismo Triastirtoaji, menulis musik tak melulu harus terhubung dengan kehidupan orang lain: “… gua ndak ada tuh terlintas kepikiran buat lirik yang harus relate, relevan, atau dimengerti sama orang yang akan dengerin musik gua” katanya.

Lewat musiknya, Satu Per Emat kerap mempertanyakan banyak hal yang luput dibicarakan orang banyak. Semisal sesederhana membicarakan rutinitas bangun di pagi hari yang menjadi sangat  berbeda bagi mereka.  Silahkan simak dalam lagu “Montase di 7 Pagi”, alih-alih kamu menemukan nuansa baru  juga suasana yang menyegarkan, mereka malah mengajak kita untuk sama-sama tergelincir dalam segudang pertanyaan: “Wacana tujuan terkubur di dalam hati, Tentang khayal, hati merantau, Jadi penantang atau pecundang?”. Begitulah penggalan liriknya. Apa yang mereka pikirkan barangkali adalah apa yang juga terlintas di kepala kita. Meskipun sekali lagi Satu Per Empat nyaris dan bahkan tak pernah memikirkan musiknya harus terhubung dengan para pendengarnya.

Mengenai “Pasca Falasi” yang berdurasi  nyaris 50 menit itu, bayang-bayang kota Jakarta terdengar nihil dan seru kembali. Satu Per Empat berbicara panjang lebar tentang bagaimana perjalanan mereka, proses berkarya, hingga perspektifnya tentang industri musik hari ini. Selengkapnya silahkan simak di bawah ini.

Hallo. Apa kabar Satu Per Empat? Lagi sibuk apa nih?

Audi: Kalau untuk Satu Per Empat-nya kebetulan lagi gak banyak aktivitas karena rekaman-rekaman dan kegiatan lainnya udah dikebut di bulan Juni pas banget sebelum PPKM.

Bismo: Satu Per Empat baik, masing-masing mencoba bertahan hidup dan waras dengan cara masing-masing aja. Kalau dari sibuknya, kami baru aja selesai memproduksi EP, prosesnya sudah sampai di mastering semua track. Strategi dan artworknya sedang digoreng sembari jalan santai aja. Kemudian ada single juga di luar EP yang akan keluar di tahun ini.

Levi: Baik nih, kita semua lagi sehat-sehat aja untungnya. Kalo kesibukan musiknya sih udah lewat rekaman-rekamannya. Kalo di luar musiknya sih kita lagi sibuk bertahan hidup aja sih di rumah.

Riga: Halo Siasat Partikelir. Lagi pada di rumah aja kita. Bobo siang, nonton filem, siapin kebutuhan buat rilisan, sama mabuk-mabuk tipis biar imun tetap kuatttt!

Sebelum jauh, boleh diceritakan dulu awal terbentuknya Satu Per Empat? Kalian juga sempat vakum ya?

Levi: Awalnya pernah punya band tuh dulu SMP atau SMA gua lupa, nama bandnya Refind, isinya gua Bismo sama Azel. Terus Azelnya ilang-ilangan sampe akhirnya Audi sama Riga ikut main nge-jam bareng. Kayaknya Audi dan Riga itu pas udah SMA deh itu lupa juga gua hahaha. Pas SMA, karna Bismo masuk sekolah tari di Jogja sementara gua Riga, Audi satu SMA di Jakarta, kita akhirnya  semakin sering nge-jam dan kirim-kiriman materi. Latihan lengkap ber 4 di studio yah emang cuman kalau Bismo pulang dari Jogja aja.

Audi: Selepas lulus SMA, Bismo memutuskan untuk ke Jakarta dan kuliah di Jakarta tapi kali ini Riga yang ninggalin kami berempat untuk melanjutkan studinya di Amerika Serikat. Momentum untuk produktifnya pun ketunda lagi, ya paling sekedar kirim-kiriman draft lagu. Akhirnya, setelah setahun lebih Riga memutuskan untuk pulang ke Jakarta dan kami mulai aktif berempat di studio dan pengen mulai serius untuk merilis materi-materi original kami. Long story short kami berempat lagi makan bakso di daerah Blok S. Terus kepikiran pengen ganti nama band karena Refind dirasa udah nggak. Ya kalian sendiri juga tau betul, pasti milih nama band bukan hal yang gampang juga. Akhirnya sembari makan bakso kami berempat mencoba membuat beberapa calon nama band yang terlintas di kepala kemudian langsung diundi. Kebetulan yang keluar “Satu Per Empat”.

Iya kami juga sempet vakum 2 tahun lamanya. Kalo gak salah sekitar tahun 2015-2017. Kalo ditanya kenapa mungkin karena lagi pada mentok aja kali ya, punya struggle, dan fokusnya masing-masing di luar ngeband jadi bikin suasana di studio tuh gak menyenangkan aja. Vakumnya juga gak kita omongin ke satu sama lain, tiba-tiba ilang dan pada jalanin hidupnya masing-masing, bahkan nongkrong juga gapernah tuh. Cuman akhirnya kami nemu momentumnya untuk rekonsiliasi dan berkomitmen untuk membuat sebuah album di awal 2018. Dari situ mulai banyak workshop bikin lagu-lagu baru dan mulai rekaman.

Ngomong-ngomong “Pasca Falasi” Prosesnya tuh memakan waktu 2 tahun ya. Apa yang membuat penggarapan lama? Ada cerita menarik apa di baliknya?

Bismo: Buat gua pribadi, kayaknya yang membuat penggarapan album ini lama karena ini album pertama kami, jadi kami benar-benar pengen curahin energi kami full di dalamnya. Trial-error, kami coba berbagai hal. Memastikan hal-hal fit-in di sana-sini. Penggarapan artwork juga cukup memakan waktu. Memang dari awal gua pribadi pengen semua lagu bisa berdiri dengan artworknya masing-masing. Banyak yang bisa kami jadiin pembelajaran dari penggarapan album pertama ini. Cerita menarik, hm, mungkin yang agak berbeda dan effort itu kami ngumpul 1 tim workshop dan recording di sebuah villa kosong di Sawangan.

Audi: Alasan utama kenapa memakan waktu 2 tahun, band kami kepentok di masalah budget jadi untuk rekamannya nyicil-nyicil nunggu ada uang spare. Alasan kedua, semua single yang akan dirilis membutuhkan dana lebih untuk menuntaskan ke-BM-an (Banyak Mau, ed) Bismo dalam hal artwork dan musik videonya. Alasan lainnya beberapa kali mau rilis selalu ada aja tuh kejadian-kejadian yang kurang mendukung, jadi ya kami ulur-ulur terus. Gak taunya situasi dunia diguncang becana besar kan tuh makin gak kondusif lagi buat rilis-rilis. Akhirnya mau gamau rilis aja deh tuh di Oktober 2020.

Levi: Prosesnya memakan waktu hampir dua tahun karna penggarapan album ini terdiri dari 50% musik dan 50% Artwork. Artinya setiap 1 lagu di Pasca Falasi itu punya 1 artwork sendiri. Dan tingkat kerumitan 1 artwork itu hampir sama kayak lo ngerjain 1 set untuk 1 scene film. Selain itu juga diskusi sama fotografer kita Raditya Satyoputra gimana eksekusinya, lokasinya dll, terus sama-sama cari jadwal kosong untuk ngerjainnya enaknya kapan, budgetnya gimana, dan lain-lainnya hahahaha.

Cerita menariknya banyakk bangetttt. Apalagi pas rekaman di Sawangan. Kita sama Bayu Perkasa (Co-Producer Pasca Falasi) bareng Noel Rey Mysterio (Manager Satu Per Empat) juga kan soalnya disitu dan udah kenal lama sama mereka. Yaudah kita di Sawangan bener-bener explore recording semaksimalnya kita. Dapet ilmu iya dapet keseruannya iya, gila-gilaanya juga iyaa.

Riga: Iya kurang lebih demikian dari anak-anak kenapa Pasca Falasi makan waktu 2 tahun. Kalo fun fact yang gue pasti inget banget sih tetep, seluruh take vocal Pasca Falasi itu ngabisin 20 botol int*sari dalam 2 hari. Ehehe.

Kalian cukup tajam menyoroti kondisi hari ini. Dari mulai persoalan sosial sampai tema-tema eksistensialisme. Menurut kalian apakah musik masih relevan untuk mengubah keadaan?

Audi: Menurut gw masih sih. Karena menurut gw musik salah satu medium yang bisa ngasih vibrasi ke banyak orang dalam waktu yang bersamaan. Disaat vibrasi itu ngeclick dan mendorong manusia untuk bergerak secara bersama-sama, bisa jadi energi yg menurut gw powerful banget dan pada saat itu juga musik punya potensi bisa mengubah keadaan.

Bismo: Kalau wilayah pribadi menurut gua mungkin. Dari pelaku musiknya aja, mulai dari dia memutuskan melakukan kegiatan bermusiknya sendiri bisa berpengaruh banyak (baik dan buruk), dari penikmatnya pun sama hal-nya sih buat gua. Ndak nutup kemungkinan hidup 1 orang dalam 1 hari bisa jadi penuh harapan atau malah semakin blong setelah dengerin 1 musik dari siapapun itu. Ndak tau ya, tapi kalau wilayahnya luas.

Levi: Kalau untuk mengubah keadaan individu gua yakin masih, tapi kalau untuk mengubah keadaan yang lebih besar dari Individu gua agak meragukan untuk zaman sekarang.

Riga: Kalau menurut gue musik akan selalu bisa ngasih harapan, senderan, dan kebahagiaan buat siapapun dalam kondisi sesulit apapun sih. Tapi cakupannya setuju sama anak-anak, at least dimulai dari yang paling kecil: individu kayak kita-kita semua ini, baru snowball ke revolusi besar di semesta njjjjayyyyyyyy.

Bismo Triastirtoaji cukup piawai menulis lirik. Siapa yang paling banyak memberi pengaruh dalam menulis lirik? Entah itu dalam gaya bahasa maupun tema.   

Bismo: Pengaruh dalam menulis lirik ya, hm, di periode sebelum sampai di album Pasca Falasi, gua dipengaruhi sama situasi saat itu. Gaya nulis gua saat itu ndak direct, dan rasanya kayak fragmen catatan-catatan harian gua yang gua susun tanpa mikirin lebih dulu gua ingin menulis soal apa, apalagi terstruktur dengan mikirin tema apa. Tapi beda-beda sih setiap lagu, contohnya lagu “Montase di 7 Pagi”. Gua buat itu ndak sampe 1 jam, dari musik dan liriknya ngalir aja tapi di kepala gua –gua tau, gua mau nulisin pengalaman gua spesifik soal kegiatan dan observasi gua di tujuh pagi. Terus di periode itu juga, gua nda ada tuh terlintas kepikiran buat lirik yang harus relate, relevan, atau dimengerti sama orang yang akan dengerin musik gua. Kalau sekarang tipis-tipis mulai ada, dan agaknya harus ada penyesuaian lagi.

Kalau dari sisi musiknya sendiri, siapa musisi atau band yang banyak mempengaruhi Satu Per Empat?

Bismo: Rio Tantomo dalam artikel judge-nya di AMWave bisa nebak dengan cukup presisi siapa pengaruh musik Satu Per Empat secara band tuh. Ya era Grunge berpengaruh besar karena kami tumbuh di komunitas dan mendengar musik-musik di era itu tuh. Nama-nama seperti Stone Temple Pilots untuk luar negeri, dan Navicula untuk lokalnya, bener-bener pernah kami telan mentah-mentah.

Audi: Kalo buat gw pribadi, kayaknya sih gak ada satu musisi/band yang bener-bener jadi junjungan buat Satu Per Empat. Cuman kami band ini embrionya itu muncul dari band-band 90an. Kayak tadi yang gw ceritain waktu jaman Refind sangat terpengaruh sama Nirvana, Pearl Jam, Soundgarden. Cuman seiring berjalannya waktu referensinya berubah-ubah dan sangat beragam. Bahkan sekarang gw juga udah gak terlalu dengerin band-band yang kita dengerin pas dulu awal mulai ngeband bareng. Tapi secara gak langsung musik-musik alternative 90-an dan awal 2000-an itu tanpa disadari banyak berpengaruh dalam ngebentuk musik yang kami jalanin sekarang.

Levi: Paling banyak sih dari band grunge 90’s yah pada awalnya, cuman semakin kesini udah semakin beragam banget kok.

Riga: Gue inget banget waktu SMP kita belajar latihan band pake lagu-lagu The SIGIT era “Visible Idea of Perfection”. Waktu SMA mulai ngulik repertoar Navicula, Morfem, & Besok Bubar. Sekarang latihan pake hati dan insting bertahun-tahun nge-jam dan nongkrong bareng. Wkwkw.

Album “Pasca Falasi” diriliis oleh Rekaman Pots. Seperti yang kita tahu, tahun 90-an banyak banget tuh band-band yang datang dari potlot cukup ngasih pengaruh buat musik di Indonesia. Apakah lingkungan di Potlot juga punya pengaruh besar kepada musik yang kalian buat?

Audi: Gw pribadi kurang mendalami sejarah di balik Potlot-nya itu sendiri ya karena kami sendiri gak aktif di lingkungan Potlot yang sangat terafiliasi dengan Slank. Kebetulan aja temen-temen kami di Rekaman Pots ini masih ada hubungan keluarga dengan personil Slank dan tinggal di sana. Potlot yang generasi gue atau anak-anak Rekaman Pots ini lebih punya pengaruh ke Satu Per Empat dari segi nongkrong dan partner dalam bisnis musiknya. Karena waktu itu teman terdekat yang kami tau udah mulai mendisitribusikan musiknya sendiri ya temen-temen dari Rekaman Pots ini, yang kami sudah kenal sejak masih jaman sekolah. Temen-temen Rekaman Pots juga yang banyak ngasih support di awal kami ngerintis Satu Per Empat sampai akhirnya mempercayakan mereka untuk bantu ngerilisin album perdana kami. Cuman kalau dari segi musikal gw pribadi kurang terpengaruh dengan musik-musik yang kalian sebut musik Potlot tersebut.

Bismo: Mungkin lebih ke kami berkembang sebagai pribadi dan bandnya, karena kami tuh nongkrongnya ya di sana. Tapi kalau musik ndak sih kayaknya.

Levi: Terhadap proses bermusik dan bertumbuhnya sih paling. Soalnya disana tempat kita latihan, nongkrong, gosip dan gila-gilaannya.  Kalo terhadap musik yang kita buat kayaknya nggak.

Riga: Iya bener, kayanya bond-nya sebagai temen nongkrong ama mabuk dari kami kecil aja sih. Musik inspirasi terbesar datangnya tetep dari Allah SWT.

Menurut kalian bagaimana kondisi industri musik di Indonesia hari ini?

Levi: Karena adanya platform digital, jadi gampang banget sih buat mengakses lagu. kalau soal industri yang lebih dalamnya sih kurang begitu paham, tapi gua sih ngerasanya semakin baik lah intinya. Kalaupun perkembangannya pelan tapi tetep maju ke depan.

Audi: Cepet banget arusnya. Kayak misalkan rilis gitu paling satu dua hari hype abis itu jadi angin lalu aja. Mungkin karena aksesnya yang terlalu mudah dan semua orang bisa bikin musik kali ya jadi banyak banget musik di dunia ini ampe pusing. Capek.

Bismo: Duh, banyak banget musisi dengan karya bagus dan artworknya keren-keren. Kalau industrinya sendiri jujur gua ndak bisa komentar apa-apa. Coba pakai jawaban Riga, karena dia yang bener-bener nyemplung di industri musik, dan bersinggungan sama banyak pelaku musik.

Riga: Inisiatif dari para pelaku senior dan akar rumput makin bagus untuk kesejahteraan musisi dan ekosistem musiknya. Progress panjang sih, tapi asal bahu-membahu konsisten bersama dan selaras dari hulu ke hilir, bukan tidak mungkin 10 tahun lagi industri musik kita jadi salah satu kuda hitam poros industri hiburan di Asia. Njayyy.

Menurut kalian nih apa yang menjadi tantangan terbesar musisi di masa sekarang?

Audi: Menyadari bahwa untuk bisa terus menjaga eksistensi itu gak cuman sekedar musiknya. Banyak aspek-aspek di luar musik yang perlu ditunjukan ke publik demi menjaga eksistensi si musisi dan musiknya itu sendiri. Harus bisa flexible dan adaptif terhadap perkembangan dunia yang geraknya cepet banget. Capek euy.

Bismo: Punya harapan aja wis lumayan mas, mulai dari situ kayaknya bensinnya untuk vroom-vroom. Kalau tantangannya ya aku jawab yang permukaan aja ya ndak bisa manggung ini lho gimana ini lho??

Levi: Hmm mungkin karna perubahan zaman dan teknologi yang cepetnya bukan main, musisi juga harus beradaptasi sama perubahannya itu. Tapi menurut gua adapatasi nya itu harus pas yah, gak lebih dan gak kurang, gimana caranya deh tuh lO harus adaptif dengan cara atau porsi yang pas jadi gak kelihatan maksa gitu.

Riga: Yang pasti 100% udah harus bisa multiple skillset yang relevan dan kontekstual sama karya musiknya. Bikin MV, bikin artwork, bikin deck sama planning, kepekaan relasi holistik seni dan teknologi, bangun hubungan baik sama komunitas & warga, dll. Tapi balik lagi harus sesuai porsi ama kemampuan masing-masing di dalam tim band/artisnya, ngak boleH overlap atAU dipaksakan biar tetep fun menjalaninya selama-lamanyaaa

Ini rada klasik pertanyaannya. Tapi gue penasaran deh, pengalaman apa yang paling kalian ingat pas dalam bermusik?

Audi: Kalo gue kayaknya pengerjaan album Pasca Falasi sih. Banyak banget pengalaman-pengalaman seru bareng keluarga Satu Per Empat.

Bismo: Gua mewakili 1 peristiwa aja ya yang kita alami bareng-bareng, nanti yang lain wakili peristiwa lainnya aja. Nah ceritanya tuh, kita pernah manggung saat sahabat dan orang yang begitu penting dalam perjalanan Satu Per Empat sedang dalam percobaan bunuh diri di tempat yang kami tidak tau. Jadi pikiran kami dimana-dimana tuh, aku sih nangis terus hari itu.

Levi: Aduhhhhh banyakkk banget lah pasti, apalagi kita udah dari SMP

Riga: Banyak bgt cuii udah 14 taun temenan kita. Semoga masih berjalan bareng kuat dan hepi semua satu tim Satu Per Empat sampe 200 taun lagi biar semakin banyak kisah-kisah seru di masa mendatang yang bisa kita bagikan dan karyakan untuk klean semua. Aminnn.

Dalam waktu dekat, ada project apa? Kabarnya lagi nyiapin album baru ya?

Audi: Ada rencana ngeluarin single dan EP. Album kedua belom mulai workshop. Tapi udah gak sabar pingin cepet-cepet workshop album kedua.

Bismo: EP yang isinya materi kami yang udah usang banget tuh dan single baru, oh ya sama MV baru. Doakan lancar ya gaes.

Menarik. Album pendek kalian prosesnya udah sampai mana?

Audi: Kalau mini album sudah selesai semua tinggal rilis aja.

Bismo: Lagunya udah siap semua. Tinggal jalanan strategi n itu apa tuh artworknya baru mau kami garap.

Levi: Materi-materi buat album keduaa lagi dikumpulin aja sih

Riga: Ea gitu ges

Yang terakhir. Ada yang ingin disampaikan untuk yang membaca artikel ini?

Audi: Halo sobat Siasat! Bagi yang belum kenal, kenalin kami dari Satu Per Empat, kuartet alternative-rock dari Jakarta yang sedang berusaha memahatkan namanya di industry musik Indonesia. Buat yang penasaran langsung aja cek lagu-lagu kami di berbagai streaming platform kesayangan anda dan jangan lupa sapa-sapa kami di social media kami, oke? Stay safe and stay healthy.

Bismo: Makasih ya yang suka sama musik kami, yang belum denger tapi baca artikel ini – sila mampir-mampir ke spotify kami atau bisa liat-liat karya kami yang ada visualnya di yutub juga. Oh siapa tau ada yang mau ajak kami ngobrol-ngobrol atau interview lagi apapun dan siapapun kalian kami bersedia ya! Atau kolaborasi apa gitu, hayuk atuh diajak ngobrol DM aja ke IG kami gitu. 😀

thanks gaes, stay safe, hang in there friendz! Sehat terus!

Levi: Terima kasih wahai kalian yang sudah membaca artikel ini, terima kasih banyakkk, kalau ingin tahu lebih lanjut soal kita bisa langsung berangkat ke sosial media, platform musik digital dan channel youtube kitaa yaaa hahaha 🙂 SEE YOU, STAY SAFE & HEALTHY CHEERSSSSSSSS 🙂

Riga: Sehat-sehat bro n sis, kalo punya privilese di rumah, dipake terus yah. Salam buat keluarga n peliharaan di rumah eeeaaaaa.

Sebagai penutup, sambil menunggu karya terbaru Satu Per Empat rilis, kalian bisa mendengarkan dulu karya mereka di bawah ini.

Teks: Dicki Lukmana
Visual: Arsip dari Satu Per Empat

My Bloody Valentine Kritik Spotify Soal Lirik yang Salah

Di antara kalian pasti ada dong yang pernah memutar lagu di Spotify sambil menikmati fitur lirik yang disediakan. Lewat fitur ini, para pengguna Spotify bisa sambil bernyanyi sesuka hati. Tapi,...

Keep Reading

Patahan Imajinasi Masa Kecil di Nomor Terbaru Latter Smil

Latter Smil, duo asal kota Palu yang dihuni oleh Dian dan Eko, dipermulaan tahun 2022 ini kembali melepas karya teranyarnya bertajuk “Kalila”. Lewat single ini Latter Smil mencoba untuk memberikan...

Keep Reading

Perjalanan Skena Musik Ambarawa dalam Album Kompilasi They Hate Us

Terlihat dalam beberapa tahun terakhir, produksi album kompilasi skena musik lokal mulai kembali marak. Tercatat ada beberapa deretan kompilasi yang terbit pada setahun-dua tahun ke belakang, seperti Bikin Kompilasi: Bless...

Keep Reading

Dua Album Milik Semiotika Akhirnya Dilepas Secara Digital

Usai merilis album penuh bertajuk Eulogi, unit post-rock asal Jambi, Semiotika akhirnya merilis dua album terdahulunya Ruang (2015) dan album mini Gelombang Darat (2018) ke dalam format digital. Sementara album...

Keep Reading