Siapa yang seenaknya menyebutkan bahwa system paling baik adalah sound system? Mereka adalah kelompok crust ‘n’ roll asal Bandung bernama Brigade of Crow. Pada kalimat tersebut, band dengan formasi Ucup (vokal), Opung (gitar), Dwey (Bass), dan Eno (drum) itu seakan tengah menghujat, persetan dengan negara, perangkat audio lebih menghidupi. Kelanjutannya, mereka mengajak pendengarnya untuk menyalakan ampli seperti megaphone yang membakar jalanan agar terus berkobar. Hebat.

Kalimat-kalimat serampangan itu hadir di nomor System Paling Baik, hanyalah… Sound System! pada album terakhir Brigade of Crow yaitu Delta Blues Narkotik, sebuah karya yang menjadi titik awal nama mereka terselip di banyak lingkar perbincangan. Jika mendengarkan album tersebut, langsung terbayang visual sekelompok anak punk yang kerasukan arwah Lemmy Kilmister sembari mengusung panji New Wave of British Metal, dan segi lirikalnya mungkin adalah hasil penafsiran buku Martin Suryajaya, Kiat Sukses Hancur Lebur.

Saya bertemu Opung Dan Ucup pada suatu malam di sebuah pelataran parkir sebuah kampus di Bandung. Personil lainnya sedang sibuk, apalagi Dwey. “Dia baru beres liburan, masih capek,” kata Opung. Kami berbincang banyak hal, sejarah, hari ini, dan masa depan. Topik utamanya tentu saja tentang Brigade of Crow. Dalam perjalanannya, mereka sudah melahirkan tiga album karya yaitu album Serdadu Gagak (2014) hasil kolaborasi bersama Stress Build Characters Records dan Snick Snack Records, lalu EP Fuzz?-?Off & Die! (2015), serta Delta Blues Narkotik (2018) melalui Disaster Records.

“Brigade of Crow adalah proyek sakit hati dari personil-personil band saya yang sebelumnya. Setelah Serdadu Gagak rampung, personil Brigade of Crow hanya menyisakan saya dan Ucup. Sempat bingung awalnya, tapi kami terus produktif rekaman. Lalu saat penggarapan materi Delta Blues Narkotik, kami terpikirkan untuk mencari label yang bisa mencarikan link, dan pada saat itu Disaster Records tertarik pada materi lagu yang kami tawarkan,” ungkap Opung.

Album tersebut penggarapannya memakan waktu selama tiga tahun. Selain soal uang produksi, kendala paling memberatkan adalah soal ide. Opung bercerita, bahwa dia saat itu merasa tidak cukup bila hanya mengandalkan masukan dari Ucup seorang saja. Eno dan Dwey lalu menjadi dua diantara beberapa nama tempat dia meminta pendapat tentang materi-materi yang ia buat.

Soal artwork Delta Blues Narkotik, gambar yang sekilas mirip propaganda Jepang di era perang dunia kedua itu dibuat oleh Hafidz Judin. Opung sudah mengikuti karyanya selama 5-6 tahun kebelakang dan dia berpikir bahwa sudah saatnya untuk bekerjasama bersama Hafidz di album terbarunya tersebut.

“Kalian baca apa saat membuat lirik?” tanya saya (yang mengganggap mereka agak nyentrik dalam pembuatan liriknya). Opung dan Ucup membalasnya hanya dengan tertawa, lantas Opung berkata bahwa 70% lirik dibuat oleh dia. Secara personal Opung lebih menyukai lagu Helter Skelter yang mengandung pertanyaan filsafat, kenapa harus ada cinta?

“Maksudnya cinta yang saya pertanyakan di lirik ini adalah cinta yang maknanya sering dikerdilkan oleh banyak orang sebatas perkara dua manusia yang saling menyayangi. Padahal, perasaan cinta boleh juga di ungkapkan kepada objek lain semisal gitar,” katanya.

Ucup sendiri lebih menyukai lagu System Paling Baik, hanyalah… Sound System! Karena menurutnya, liriknya mewakili dirinya yang lebih menyukai bersuara atau berpendapat melalui musik ketimbang cara lainnya. Opung dan Ucup juga bercerita tentang formasi Brigade of Crow hari ini. Menurut mereka, komposisi yang sekarang hanya ideal saat membuat materi lagu, namun soal lainnya, terkadang masing-masing personil tidak saling memahami.

“Untuk latihan dan rekaman sebenarnya formasi yang sekarang ideal, namun diluar itu semua pada ngaco hahaha. Masing-masing personil kadang-kadang susah buat dihubungi, termasuk saya, tapi  masih belum ke taraf yang mengganggu produktifitas, sih, meski kadang-kadang beberapa personil ada yang tiba-tiba tidak bisa ikut manggung hingga membuat Brigade of Crow batal tampil di suatu acara,” jelas Opung sambil terkekeh-kekeh.

Maka dari itu, daripada band, dia lebih menyukai bila Brigade of Crow disebut kolektif karena tidak menutup kemungkinan personil dapat berubah-rubah sesuai kebutuhannya. Saat ini Brigade of Crow tengah merampungkan sebuah tour bersama punggawa D-Beat Bandung, Kontrasosial. Tur yang bertajuk Filthy Blues ini, berkunjung ke berbagai titik di Asia Tenggara yaitu Singapura, Kuala Lumpur, Bangkok, dan Chiang Mai.

“Waktu itu soalnya kita rilis album barengan, dan personil Kontrasosial masih teman kami juga,”  ujarnya. Tour dengan persiapan hampir satu tahun tersebut bukannya tanpa kendala. Perintilan kecil macam KTP dan paspor baru saja mereka urus, dan personil asli hanya Opung dan Ucup saja yang berangkat, sisanya memakai tenaga additional.

Kedepannya Brigade of Crow juga akan segera melangsungkan tour ke Jepang, lalu split album bersama unit trash bernama Ancient pun tengah dipersiapkan. Mungkin, bagi para serdadu gagak yang katanya terlahir dari skala a-blues minor tersebut, meski kondisinya tertatih-tatih, mengepakan sayap dan terbang bebas ke angkasa akan terus dilakoni demi menghidupi hidup sepenuhnya.

Teks: Rizki Firmansyah
Foto: Arsip Brigade Of Crow