Mengevaluasi Evakuasi Hindia

Menyebut nama HINDIA sekarang ini seperti memulai sebuah diskursus dengan garis batas pendapat yang tegas apakah Anda suka atau tidak dengan moniker dari Baskara Putra itu. Dan, kedua sisi pendapat memiliki basis massa yang sama keras kepalanya. Tapi bukan itu yang akan dibahas sekarang, melainkan kabar akan dua video musik yang baru-baru ini dilepas oleh Hindia.

Video musik yang dimaksud adalah “Evaluasi” dan “Evakuasi”. Dilepas berdekatan, waktu rilis keduanya hanya berselang beberapa hari. Dua lagu itu bukanlah materi baru karena keduanya diambil dari album Menari dengan Bayangan yang dilepas oleh Sun Eater akhir tahun 2019 lalu. Seperti rata-rata video musik dari Hindia, dua persembahan audio visual terbarunya itu pun digarap dengan teknik montase yang menyatukan video kiriman peserta sayembara yang diadakan oleh Hindia. “Evaluasi” dibuat dengan menggunakan video yang dikirimkan partisipan yang ikut serta sayembara pada November 2019 lalu, sementara “Evakuasi” dikerjakan dengan video yang dikumpulkan kemudian, tepatnya satu setengah minggu sebelum video musik “Evaluasi” dipublikasikan. “Sejauh ini pengerjaan video memang kerap memakai materi visual dari kiriman teman-teman di internet, terutama untuk Hindia. Penerapan proses kreasi itu karena aku coba gunakan yang paling praktis dengan budget kecil yang kami mampu.” Terang Baskara.

Rencananya video musik untuk lagu “Evaluasi” hendak dirilis oleh Sun Eater secara tersendiri tapi tertunda karena kesibukan aktifitas promosi album Menari dengan Bayangan di awal tahun 2020 ini, hingga akhirnya baru bisa diselesaikan di masa ketika social distancing adalah keharusan. “Jadi awalnya baru ada ide untuk “Evaluasi” saja, submission aku minta dari teman-teman di internet sejak bulan November tahun lalu. Tapi karena perilisan album, konser, boxset dan tur maka penyelesaiannya terbengkalai sampai tahun ini. Ditengah karantina ini akhirnya mencari-cari kesibukan lagi dan berhasil menyelesaikan videonya,” papar Baskara.

Mendengarkan kedua lagu secara audio mungkin biasa saja efeknya, terutama bagi pendengar yang tidak terlalu intens mendengarkan Hindia. Tapi, tak dinyana ketika lagu “Evaluasi” dan “Evakuasi” itu diberi penafsiran secara visual, koneksi lirikal dengan konten video musiknya sedikit banyak terasa begitu dekat membangun narasi dan merekam fragmen kehidupan ditengah wabah CoViD-19 sekarang ini. “Setelah dipikir-pikir ternyata narasinya jadi sangat kuat dengan keadaan karantina akibat wabah sekarang ini. Karena keseluruhan video berisi footage tentang aktifitas kita di luar rumah yang “biasa saja”, cuma ternyata menjadi sesuatu yang sangat mewah di tengah pandemi. Lalu muncul ide untuk membuat kembarannya dalam bentuk video “Evakuasi” karena secara konsep lagu pun, dua lagu ini lagu kembar sebagai pembuka dan penutup album.” Jelas Baskara akan video musik kembar yang dirilis Hindia. “Sejak muncul ide bahwa kedua video ini merupakan video kembar, ‘Evakuasi’ langsung dikebut produksinya dan dikeluarkan dalam waktu sedekat mungkin dengan ‘Evaluasi’.” Tambahnya.

Kondisi wabah saat ini memang rumit, ketika untuk tetap di rumah saja pun bisa dianggap kemewahan terutama bila melihat kenyataan bahwa banyak pekerja yang harus tetap berada diluar rumah untuk tetap bisa mencari nafkah. Dan itu pun disampaikan Hindia lewat pernyataan “rutinitas kita saat ini adalah sebuah kemewahan bagi kawan-kawan yang harus berjuang di luar sana dan tak bisa beraktifitas dari dalam rumah saja” di awal video musik “Evakuasi”. “Ide dari kalimat itu muncul setelah melihat hasil submission video tidak ada satupun pengirim yang terpaksa keluar rumah untuk bekerja. Asumsi saya semuanya punya privilege untuk bisa tetap di rumah. Dan, menurut saya bisa berdiam diri di rumah hanya dapat dirasakan oleh kelas menengah ke atas, terutama di tengah situasi seperti ini,” ujar Baskara menjelaskan.

Bukan hanya sebagai pengamat situasi, Hindia pun merasakan dampak secara langsung dari pandemi khususnya secara ekonomi. “Sebisa mungkin bekerja dan mengambil tawaran yang bisa kuambil untuk membantu tim produksiku untuk bisa hidup, tapi juga memanusiakan mereka karena di masa pandemi ini secara hakikat ia adalah sebuah musibah. Tim produksi benar-benar hilang penghasilan, dan ada yang single parent, bapak dua anak pula. Sedih.” Pungkas Baskara.

Ketenangan memang terasa begitu mahal sekarang ini. Menyedihkan tapi itu kenyataan pahit yang harus dihadapi. Bersiap untuk melakukan evaluasi untuk evakuasi dari kebiasaan harian di masa sebelum wabah menyelimuti kehidupan ini.

 

Teks: Farid Amriansyah

Visual: Arsip Hindia

Video: Akun YouTube Hindia

Cerita Iblis dan Manusia di Album Kedua Parakuat

Ranah musik elektronik di Indonesia selalu menarik untuk di simak, terlebih geliatnya di arus pinggir. Banyak seniman bunyi muncul dengan coraknya sendiri dan membawa hasil eksperimentasinya masing-masing. Ranah ini terus...

Keep Reading

The Jansen Persembahkan Album Ketiga

Usai melepas nomor “Mereguk Anti Depresan Lagi” yang cukup mencuri perhatian, The Jansen, trio punk rock dari kota hujan Bogor akhirnya meluncurkan album ketiganya bertajuk “Banal Semakin Binal” (29/7) dalam...

Keep Reading

EP Who Suffer?, Jalan Keluar Defy dari Kekacauan Pandemi

Grup metallic hardcore dari kota Palu, Defy, baru-baru ini telah meluncurkan sebuah album mini bertajuk Who Suffer?. Perilisan album ini juga sekaligus sebagai tanda berjalannya kerja sama antara Defy dan...

Keep Reading

Menuju Album Kedua, Modjorido Rilis Nomor "Bebal"

Usai memperkenalkan album perdana self-tittled di tahun 2021 lalu, grup musik dari Bali, Modjorido akhirnya kembali merilis karya teranyar. Kali ini unit yang dihuni oleh Rico Mahesi (Vocal & Guitar),...

Keep Reading