Mengenal Lebih Dekat Senyawa Tradisi di Tubuh Merahjingga

Merahjingga bisa dikatakan sebagai sebuah unit yang membawakan musik folk. Namun, ada hal menarik yang band asal Pontianak ini tawarkan. Mereka menggunakan salah satu alat musik tradisional, sape, sebagai salah satu instrumen panggung mereka, menjadikan musik mereka lebih sering disebut sebagai folk etnik walaupun istilah folk sebenarnya sudah cukup mewakili karena memang istilah tersebut harusnya bersifat relatif berdasarkan dari daerah mana sesuatu berasal. Istilah yang lumayan membingungkan saat setiap orang secara tidak sadar mengaku sebagai warga dunia.

Bukan sekedar gimik Merahjingga membawa sape. Misi mereka jelas, mengangkat apa yang ada di sekitar mereka menjadi sebuah karya. Karena itu, kebanyakan karya mereka, seperti “Hawa Sudut Jingga” atau “Thani”, memang bersifat sosial, merangkum fenomena sekitar yang mereka anggap layak untuk disebarluaskan melalui musik. Sape pun merupakan perpanjangan tangan dari misi itu. Memperlihatkan apa yang menjadi identitas karena lekat dengan Kalimantan dan Dayak yang memang asal usul Merahjingga.

Siasat Partikelir berkesempatan untuk menanyakan beberapa hal kepada Merahjingga. Berikut hasil perbincangan kami dengan kelompok yang baru-baru saja melepas single bertajuk “Thani” ini.

Apa kabar Merahjingga? Lagi pada sibuk apa sekarang?

Anci: Kabar baik. Sekarang kita lagi sibuk nyiapin album perdana setelah kemarin kita sudah mengeluarkan mini album atau EP, Swara Taya. Sekarang kita sedang sibuk dengan proses di mana kita mau siapkan full album.

Sebelum jauh, boleh diceritakan dulu awal terbentuknya Merahjingga?

Anci: Waktu itu sebenarnya Merahjingga ini band iseng untuk ikut festival akustik di salah satu fakultas di Universitas Pontianak. Sebelumnya itu ada aku, Anci, terus ada Andri, ada Rendi, ada Ardi, sama Dedi. Itu band akustik, cover-cover-an. Dari 2016 kami bentuk di bulan Juli sampai 2017 beberapa personel mengundurkan diri. Terus di pertengahan 2018 sisa saya dan Ardi waktu itu dan di situ kami bentuk Merahjingga dengan, bisa dikatakan, aliran musiknya itu folk akustik. Lalu, Ardi juga mengundurkan diri. Setelah itu, aku mengarungi sungai sendiri tiba-tiba ketemu yang namanya Atuy (Faturahman). Waktu itu, Atuy mengisi jadi opening band lokal Pontianak, nah ketemunya di situ. Terus saya butuh teman dan kru panggung untuk main di kolektifannya anak Medan jadi saya ajak dia. Setelah itu saya rekrut Atuy di Merahjingga. Jadi sekarang, Atuy posisinya di sape, alat tradisional Kalbar atau Dayak, aku vokal, di jimbe ada Nayau, Anyap di suling, dan Tagas di synth. Terbentuk lah Merahjingga yang sekarang dengan genre yang banyak yang bilang etnik folk atau segala macam. Kita enggak ada patokan genre apa yang diusung itu terserah yang dengar.

Kalian memiliki musik yang unik. Bisa diceritakan proses kalian dalam menciptakan karya itu awalnya seperti apa?

Atuy: Kita bebaskan teman-teman kita karena kita enggak mau menuhin ego sendiri. Kita buat rangka musiknya, kita cari mood-nya, kita bagi ke kawan-kawan, terserah kawan-kawan mau mainnya kayak gimana. Karena kita sadar kita punya karakter masing-masing dan musik Merahjingga lahir dari karakter kita masing-masing yang mencoba menjadi satu. Ya begitu lah proses pembuatan musiknya lebih demokrasi. (Tertawa) Kalau semua sudah bilang ya, ok ya, kalau ada yang belum cocok kita ulang lagi sampai semua bilang ya.

Merahjingga cukup tajam menyoroti isu-isu sosial yang kerap terjadi. Apa yang membuat kalian tergerak untuk menciptakan musik-musik semacam itu?

Atuy: Memang dari awal konsep kita adalah lingkungan, apa yang benar-benar ada di lingkungan kita. Kayak kita mengangkat sape ya memang itu ada di lingkungan kita, budaya kita. Terus kenapa kami kritik keras soal lingkungan, soal sosial, dan segala macamnya? Karena ya itu memang di sekitar ktia terjadinya seperti itu. Kita harus buka mata lah. Jangan sampai diam dan masa bodoh, tapi setidaknya bersuara. Kami mencari materi-materinya dari lingkungan sekitar dan membantu kawan-kawan menyuarakannya lebih luas lewat musik. Kawan-kawan dari pejuang petani, kawan-kawan dari gerakan feminis Indonesia. Kita bantu suarakan lebih luas lewat musik.

Di lagu “Hawa Sudut Jingga” kalian menyoroti soal patriarki. Bagaimana pandangan kalian soal isu tersebut hari ini?

Anci: Bagi kami, isu tentang patriarki sangat susah untuk kita lawan karena sudah mendarah daging dengan budaya Indonesia. Sedkit banyaknya lagu “Hawa Sudut Jingga” bisa dirasakan teman-teman dan banyak juga dari kawan-kawan aktivis feminis atau pun lawan patriarki bisa menggunakan lagu kita untuk menyuarakan kembali apa yang harus disuarakan. Karena banyak sekali kasus-kasus pelecehan seksual, korban adalah tersangka dan pelaku tetap dibela. Itu yang kami sangat tidak setuju. 

Boleh diceritakan penggarapan video klip “Hawa Sudut Jingga”? Digarap sejak kapan, siapa saja yang terlibat, dan ada cerita menarik apa di balik proses penggarapannya.

Anci: Pertama, siapa saja yang terlibat? Ada Dexa, terus ada Arif Setiawan. Dua orang itu, aktor juga pemain teater di Pontianak yang sudah meranah ke luar negeri. Dexa sudah pernah pentas di Jepang. Lalu, kita ketemu dengan content creator di Pontianak namanya Simpul. Terus DOP-nya ada Reza Darwin, di luar Simpul. Lalu, kita kemarin prosesnya di Canopy Center, space art di Kalbar. Lirik “Hawa Sudut Jingga” didonasikan oleh manajer lama Merahjingga, Bara Pratama. 

“Hawa Sudut Jingga” termasuk di mini album Swara Taya yang baru dirilis April 2021 ini. Boleh diceritakan bagaimana proses penggarapan album Swara Taya? Ada cerita menarik apa di baliknya?

Nayau: Kalau kita sebut satu-satu sangat banyak yang turut andil dalam penggarapan Swara Taya. Pertama, kita perdana kolaborasi dengan string, yang rata-rata tergabung dalam salah satu kampus yaitu FKIP Untan jurusan seni pertunjukan. Itu suatu proses kreatif yang luar biasa bisa berkolaborasi dengan mereka. Selanjutnya, cerita menariknya, kita cukup sulit membagi waktu, waktu latihan, waktu kehidupan pribadi, dan, seperti direstui semesta, kita bisa konser di musim corona, yang isunya saat itu sangat-sangat tinggi. Di situ, kita sangat nekat untuk melakukan tur di saat seperti ini.

Swara Taya begitu terdengar magis, orang awam sekali pun sepertinya bakal langsung merasakan bentang suara Kalimantan di tiap lagu yang kalian sajikan.  Bagaimana kalian bisa merangkum segala pengalaman hidup di sana dan menyulamnya menjadi sebuah karya yang megah?

Anci: Sedikit bocoran, kebanyakan orang belum mengetahui apa itu Swara Taya. Kita lebih ke Sundanisme. Jadi swara itu artinya suara, sedangkan taya itu singkatan dari teu aya atau tiada. Jadi, suara yang tiada. Dari itu, kita mendeskripsikan kekosongan itu adalah isi yang sesungguhnya.

Dari segi lirik Merahjingga cukup cermat memilih diksi, bahkan terdengar cukup asing, katakanlah pemilihan kata untuk judul lagu “Tabirasa”. Siapa yang bertanggung jawab membuat lirik dan ada pengaruh tertentu kah?

Atuy: Kebetulan kita di Merahjingga ini sangat lemah dalam pembuatan lirik. Lagu yang benar-benar kita garap sendiri liriknya itu “Tabirasa” dan “People of the Land”. “Tabirasa” aku sendiri yang buat lirik, menceritakan tentang masa kita terpuruk dan kita enggak bisa apa-apa, ya kita harus gerak. Aura-aura magis itu, kalau kita bicara tentang Kalimantan, orang-orang awam memang akan berpikir begitu. Budaya-budaya di sini lebih… Nusantara lah. Nusantara memang kayak gitu, magis itu sudah dari dulu, spiritual sudah lekat sekali dengan kita.

Atuy yang sedang memainkan Sape (doc: Merahjingga)

Hal yang paling mencuri perhatian adalah Merahjingga melibatkan alat musik tradisional sape. Seberapa penting dan seberapa istimewa kah alat musik tersebut untuk Merahjingga?

Atuy: Kebetulan aku yang main sape. Kenapa aku bawa sape? Kembali dari awal, kita memang mengangkat semuanya dari hal sekitar kita. Dari musik, lirik, kita angkat dari hal sekitar kita. Kayak musik, instrumennya apa? Sape. Identitas. Memang kami membawa identitas. Budayamu adalah identitasmu. Di mana pun kau bawa sape, orang tahu kau orang Kalimantan. Kami bangga jadi orang Kalimantan. Ini alat musik kami loh. Kami juga mengenalkan ini alat musik Dayak, alat musik orang-orang Kalimantan yang harus kita kembangkan dan lestarikan lagi biar umurnya panjang. Jadi, anak cucu kita ndak lupa. Kita juga pengin buktikan, dulu kan anak-anak muda di Pontianak khususnya, banyak sekali yang ndak tahu sape. Aku pikir, ‘Ya sudah lah kita angkat saja sape. Kita buktikan sape bisa dimainkan dengan musik modern.’

Katanya alat musik Sape itu punya nuansa mistis. Kalian pernah merasakan hal semacamnya selama memainkannya?

Atuy: Sape bernuansa mistis, itu mungkin menurut awam ya. Sebenarnya, mistis memang mistis, tapi kalau di acara adat. Sape yang dimainkan di acara adat itu sangat-sangat mistis, kami juga mengakui itu. Tapi, yang kami mainkan sebenarnya bukan sape seperti itu. Yang kami mainkan lebih modern tapi tidak meninggalkan pola tradisinya. Kita hanya mengembangkan sape ini bunyinya bisa seperti apa lagi. Tapi kalau mistisnya ndak ada sih paling ketawa sendiri di panggung, ndak kayak horor gitu.

Selain sape, alat musik tradisional apa lagi yang kalian gunakan?

Atuy: Selain sape yang kita gunakan jimbe, terus suling bambu. Dan ada juga genggong yang kita gunakan di “Tabirasa”. Kalau di Sunda ada karinding, kalau kita di sini genggong, dari bambu. Kita pakai didgeridoo dari Aborigin, Australia. Ke depannya kita memang pengin ngangkat instrumen lokal lagi. Tunggu saja.

Merahjingga baru-baru ini merilis lagu “Thani”, bagaimana prosesnya?

Anci: Proses “Thani”, itu sebenarnya lagu yang diburu. Lagu yang diburu untuk kita bawain live di empat titik konser launching-nya Swara Taya. Dan itu lagunya kita buat pas ulang tahunnya Merahjingga di umur keempat pas tanggal 15 Juli 2020. Dan lagu itu terjadi dan terbentuk di saat kami sedang dalam keadaan tidak sadar, atau bisa dikatakan dipengaruhi kebahagiaan bersama teman-teman yang ada di Singkawang. Jadi, lagu itu terbentuk dari kegembiraan, euforia, panen raya, suka cita. Dan kebetulan liriknya dibantu juga oleh Arif Setiawan. Musiknya kita rombak setelah sadar.

Di lagu “Thani” sebetulnya hal apa yang ingin kalian sampaikan ke pendengar?

Atuy: Yang pengin kita sampaikan di lagu “Thani” sebenarnya kita pengin menyuarakan lagi apa yang benar-benar urgent di Kalimantan. Kayak hutan kita habis dibabat, para petani kita digusur lahannya, terus masyarakat adat tanah dan lahan-lahan mereka untuk bertani digusur sama perusahaan-perusahaan besar, dan isu kebakaran hutan juga yang setiap tahun selalu membuat kita geram. Di sini lah kita coba menyuarakan itu. Bahwa pemerintah itu harus dan wajib berpihak kepada petani. Karena selama ini kita makan dari hasil panen petani. Hargai lah mereka setidaknya dengan melakukan hal kecil, misalnya membeli produk-produk lokal petani kita, dengan harga-harga yang tidak dimainkan ya. Karena selama ini, harga-harga petani kita dibeli dari mereka sangat murah kemudian dijual lagi di kota dengan harga yang sangat tinggi. Ini lagu kami persembahkan untuk mereka, para petani, masyarakat adat, dan para pejuang lahan.

Nayau: Lagu ini juga bukan soal kritik atau apa. Intinya bersyukur enggak sih? Di sini kita tradisinya sebagai orang Kalimantan khususnya suku Dayak tiap tahun pasti ada yang namanya Gawai (hari perayaan panen suku Dayak) dan itu tanda bahwa kita tuh bersyukur kita bisa dikasih berkah sama Yang di Atas. Ya itu, lagu ini lebih ke bersyukur dan suka cita. Untuk merayakan hari tani dan hari panen ini, kita juga kebetulan mengeluarkan merchandise yang menurut kami menarik, Tuak Rakyat Panen Raya Suka Cita.

Bagaimana kondisi musik di Kalimantan hari ini?

Anci: Untuk kondisi musik, tidak ada yang senggol-senggolan dan aman dari yang namanya kotak-kotakan. Semakin ke sini semakin bagus inisiatif teman-teman pemusik Kalbar dan ekosistem pemusik Kalbar juga makin bagus. Begini, misalkan ada salah satu band launching, band yang lain juga enggak mau kalah. Itu yang menjadi pembakar semangat. Jadi, untuk kabar musik di Kalbar, sangat-sangat bahagia. 

 Ke depannya ada projek apa lagi?

Atuy: Proyek ke depannya, seiring berjalannya kita rilis single, kita lagi proses album perdana. Setelah EP kemarin kita mau full album. Bocorannya sih, target rilisnya tahun depan. Mudah-mudahan lancar. Satu bocoran lagi, awal tahun kita bakal rilis single dan di hari ulang tahun, kita juga bakal rilis single. Jadi ada tiga single yang kita rilis sebelum kita merilis full album. Doakan semoga lancar. 

Teks: Abyan Nabilio
Wawancara: Dicki Lukmana
Visual: Arsip dari Merahjingga 

EP Who Suffer?, Jalan Keluar Defy dari Kekacauan Pandemi

Grup metallic hardcore dari kota Palu, Defy, baru-baru ini telah meluncurkan sebuah album mini bertajuk Who Suffer?. Perilisan album ini juga sekaligus sebagai tanda berjalannya kerja sama antara Defy dan...

Keep Reading

Menuju Album Kedua, Modjorido Rilis Nomor "Bebal"

Usai memperkenalkan album perdana self-tittled di tahun 2021 lalu, grup musik dari Bali, Modjorido akhirnya kembali merilis karya teranyar. Kali ini unit yang dihuni oleh Rico Mahesi (Vocal & Guitar),...

Keep Reading

Koil Rilis Digital EP Lagu Hujan

Band rock industrial asal Bandung, Koil resmi merilis album mini terbaru berjudul Lagu Hujan dalam format digital (22/7) diseluruh layanan streaming musik. Perilisan ini merupakan milestone lanjutan dari Otongkoil (vokal),...

Keep Reading

Semesta Manusia di Lagu Terbaru The Hollowcane

Selang satu tahun usai merilis singel “Verbal Irony”, kuartet Indie rock dari kota kembang, Bandung, bernama The Hollowcane akhirnya kembali memperkenalkan karya teranyarnya. Kali ini unit yang dihuni oleh Ega...

Keep Reading