Faisal Rahman Ursalim biasa dikenal dengan Icaldis. Ia lahir dan tumbuh besar di Jakarta, lalu mengenyam pendidikan desain interior di ISI Jogjakarta. Icaldis kini menetap dan bekerja di Jakarta sebagai visual designer lepas dan juga merangkap sebagai staff pengajar seni media.

Ia aktif di sosial media mulai dari 2010 sebagai founder asmoroklub.tumblr.com. Kegiatannya juga berderet, sekarang selain mengurusi toko @tsukety, dia juga menjadi admin sebuah akun shitposting di Twitter.

Karya-karya visualnya telah dipamerkan di berbagai kota seperti Jakarta, Bandung, Jogjakarta bahkan sampai Sao Paolo Biennale, Brazil. Kami berkesempatan untuk membicarakan banyak hal. Mulai dari proses berkarya, bagaimana dia bisa terjun ke dunia berkesenian dan banyak lainnya.

Boleh cerita, gimana elo bisa terjun ke dunia kesenian?

Dari kecil jaman di SD, gue emang udah suka bikin-bikin gambar picture message di Nokia jadul punya bokap sih. Tiap bokap pulang kerja langsung minjem buat gambar-gambar di sana. Terus pas SMP mulai vandal nama geng sekolah di tembok, pager, bus kota, dll. Pas SMA baru tuh kenal graffiti sama mulai ngobjekin jualan merchandise geng sekolah macam kaos/sweater/ stiker. Nah akhirnya sadar kalo semua yang gue lakuin itu masuk dalam produk seni rupa. Pas mau lulus SMA baru tau ada yang namanya FSRD tuh, terus akhirnya kuliah masuk Desain Interior ISI Jogjakarta.

Hal-hal apa aja yang mempengaruhi proses berkarya yang elo lakuin?

Keseharian dan kerakyatan alias keseharian rakyat jelata, kehidupan urban/sub-urban, pertarungan kelas, konsumerisme, hasrat memiliki dan ambisi semua dikemas pake pendekatan riset dan humor, gue jarang ngangkat suatu hal yang jauh dari diri gue, seneng mengangkat hal-hal yang tak terlihat dari hal-hal yang sangat dekat.

Ada seniman yang menjadi panutan?

Gak usah jauh-jauh ya, di sini, di kota Jakarta ada FX Harsono, Ade Darmawan, dan Irwan Ahmett. Gue suka sama karya dan integritas mereka. Pak Harsono dan Mas Ade sempat jadi mentor gue langsung dalam berkarya, jadi bisa dapet beberapa ilmu dari mereka, Mas Iwang gak secara langsung, tapi banyak ngebuka pemahaman baru soal seni rupa kontemporer.

Belakangan ini sering lihat tentang Klub Kartu Kelar Kerja. Itu apa sih? Bisa dijelaskan?

Oia gue sama temen-temen baru buat kelompok main kartu gitu rutin tiap hari Kamis, namanya KKKK. Alesannya buat have fun aja sih, murni sebatas main-main aja, orang Jakarta butuh main-main menurut gua, abis pulang kerja capek mumet banget kan tu, kenapa gak santai dulu, kartu remi itu menarik banget, gua rasa yang ciptain kartu remi tuh seniman ya! Dalam format 52 gambar kartu tapi bisa banyak banget formula permainan di sana, mulai dari yang ringan banget macam cangkul atau tepok nyamuk, sampai yang agak berat kaya truf dan bridge yang kemarin masuk Asian Games, dan bahkan lo juga bisa aja bikin permainan baru asal nemu formulanya. Demokratis banget. Walaupun permainan ini bisa online tapi gue masih percaya sama kekuatan offline sih semacam temu muka apalagi permainan tradisional gitu ya. Oia KKKK ini juga terinsiprasi dari Indra Ameng yang pernah bikin Klub Catur di Gudang Sarinah, tapi mungkin ada sedikit modifikasi ya, karena catur kan terlalu serius dan membutuhkan waktu yang agak lama, kalo kartu bisa ber-4 dan lebih fun.

Sekarang kita ngomong tentang karya. Yang cukup menarik parhatian dari sekian banyak karya lo adalah mengaplikasikan emoji menjadi sebuah karya visual. Ada apa dengan emoji?

Emoji menurut gue menarik, seperti emosi yang dibekukan ke dalam suatu simbol. Dan jadi bahasa universal di social media. Ngebantu banget buat komunikasi seperti ketika emosi, ekspresi dan intonasi lo nggak sampe, akan lebih mudah jika menyertakan emoji di sana. Karya gue yang pake emoji bisa diliat di IG. @icaltext_. Di sana gue bermain-main dengan emoji dan simbol-simbol lainnya, kaya ascii, gif, picture message dan lainnya; mengekplorasi, mendekonstruksi dan melihat kemungkinan-kemungkinan baru dari emoji dan teks digital ini.

Untuk sisi teknis, bagaimana lo bekerja ketika membuat suatu karya?

Karya gue nggak terpaku sama suatu medium aja sih. Mau instalasi, drawing, mixed media, dokumen, video, performance, apa aja bebas. Tergantung gagasan yang ingin diangkat. Bisa karya arsip, interaktif maupun partisipatoris. Kalo untuk metode penciptaan karya jadi, dimulai dari gagasan dulu, plus riset, baru mikir mediumnya seperti apa, cocoknya untuk ngomongin ini pake medium apa. Seperti dalam karya ‘Amigos Berkah’, gue bikin karya performance pengambilan undian, karena dirasa yang paling pas untuk mengungkapkan gagasan tersebut ya melalui performance langsung. Untuk menciptakan performancenya gue kolaborasi sama Amelia Vindy. Selain karya itu, juga ada karya gue yang berbentuk kalender imsakiyah ramadhan, karena yang paling kena kalo mediumnya adalah lembaran kalender.

Menurut lo sendiri, seni itu apa sih?

Secara sederhana seni itu gabungan dari gagasan, rasa dan estetika. Dan seni bagi gue salah satu metode untuk mencari kebenaran hakiki, menunjukan atau menampilkan sesuatu yang nggak terlihat atau kurang terlihat ke permukaan dengan etik dan estetik. Makanya seniman harus peka sih. Peka maksudnya sensitif bukan PEKA yang lain.

Adakah korelasi antara seni dan manusia?

Bagi gue nggak bisa dilepasin ya. Manusia menciptakan seni dan seni dapat mempengaruhi manusia. Dan dengan seni pada akhirnya bisa mengenal siapa diri lo, mengenal manusia. (*)

Teks: Adjust Purwatama
Foto: Dokumentasi Icaldis