Meski terbentuk pada 2017, nama Mothern baru mencuat ke permukaan satu tahun setelahnya melalui single bertajuk “Survivor”. Unit yang cukup piawai dalam mengkolaborasikan hentakan rock dengan musik elektronik ini kini terdiri dari Pandu dan Rasta. Awalnya mereka bertiga, tapi sang bassist yaitu Anandya Kurniawan lebih memilih untuk hengkang karena beberapa kesibukan yang tak bisa dihindari.

“Saat EP Afterdark keluar, Anandya sudah mulai sibuk mengeksplorasi ranah lain terutama di luar musik dan sedang mencoba memulai bisnisnya sendiri juga. Intinya, dia keluar karena sedang mencoba mencari jalannya sendiri,” kata Pandu menceritakan sosok penulis lagu “Terang Hitam” yang terdapat pada EP Afterdark.

Di fase-fase awal pembentukannya, Mothern memang diproyeksikan untuk menjadi proyek berdua, tapi menurut Rasta kehadiran Anandya juga akhirnya turut memberi sumbangan untuk membentuk musikalitas band tersebut hingga seperti sekarang.

“Lagu-lagu kita yang sekarang itu adalah musik yang cocok untuk menjadi soundtrack dari film semisal Matrix dan Blade Runner,” jelas Pandu atau yang biasa dipanggil Cung, mendeskripsikan musikalitas Mothern hari ini.

Para punggawa Mothern pun pada akhirnya cukup menikmati juga format berdua ini. Banyak hal yang terasa lebih simpel karena tidak banyak kepala, kecuali pada saat Pandu dan Rasta mulai berbeda pendapat. Mereka mengungkapkan bahwa dalam perkara itu, kadang-kadang diperlukan masukan dari banyak orang untuk menjadi bahan pertimbangan pengambilan keputusan.

“Kita kan sekarang berdua, nih, jadi kalau saat pengambilan keputusan, yang satu ngomong ‘a’ dan satunya lagi ngomong ‘b’, jadi repot. Menegahinya susah,” tutur Pandu.

Pada 30 Agustus 2019, Mothern kembali meluncurkan single bertajuk Circles. Proses penggarapannya sudah dimulai di sekitaran April 2019. Mereka menggodoknya di kantor Sun Eater, yang merupakan sebuah label rekaman tempat mereka menaungi namanya.

“Kenapa kami memilih Sun Eater sebagai label, karena selain punggawanya adalah teman-teman sendiri, kami juga menilai kalau mereka sangat menghargai kami sebagai seorang musisi,” jelas Pandu, yang ia maksud soal menghargai musisi adalah soal pembagian keuntungan serta transparansinya.

Semuanya berawal ketika proses penggarapan EP Afterdark di studio milik Tama, bassist Glaskaca yang sekaligus session player pada posisi bass di Hindia. “Ketika single ‘Drastic’ jadi, Tama mempersilakan Baskara untuk mendengarnya. Baskara pun suka dengan lagu itu, dan langsung menghubungi kami. Saat itu, Baskara mengatakan kalau ia sedang berencana membuat record label,” kenang Pandu tentang awal mula cerita bagaimana Mothern bisa bergabung bersama label milik Baskara (.Feast, Hindia) yang juga menaungi sejumlah musisi macam Hindia, .Feast, Adrain Risjad, dan Agatha Pricilla.

Penggarapan “Circles” hingga siap rilis, berlangsung hampir 4 bulan lamanya. Prosesnya hampir tidak ada kendala. Mengalir tanpa rintangan. Saat ditanya soal langkah ke depan setelah single itu diluncurkan, Pandu tidak bisa memastikannya.

“Justru itu asiknya mengikuti perkembangan Mothern, karena meski sering buat konsep, tapi dalam perjalanannya sering melenceng. Hahaha. Mungkin nanti kita akan buat EP, tapi bisa juga album. Kami ini sepertinya memang lebih suka proses yang mengalir dan tanpa kekangan,” ungkap Pandu.

Meski memproklamirkan diri sebagai duo, Mothern selalu tampil dalam format band dengan menyertakan beberapa orang teman untuk mengisi kekosongannya, tapi itu hanya untuk sementara waktu. Mereka kini sedang mencoba beberapa formula electronic set yang cukup bila dimainkan berdua.

Tapi tentu saja kemungkinan bisa berubah, yang mengalir memang penuh kejutan.

Teks: Rizki Firmansyah
Visual: Arsip Mothern