Mengabarkan Semarang Lewat Manifestream

Kesadaran mendokumentasikan karya, bukan sesuatu yang sering ditemukan di Indonesia. Belum jadi tradisi, setidaknya. Padahal, sumber daya berseliweran dengan jumlah yang masif. Mencari pelaku dokumentasi, ada di mana-mana. Menemukan obyek dokumentasi di scene lokal, banyaknya minta ampun. Tapi, persoalan mengubahnya menjadi karya, selalu jadi ranah yang tidak banyak disentuh. Padahal, penerusan kabar ke masa depan tentang peristiwa hari ini, merupakan salah satu fungsi penting dokumentasi.

Buku Manifestream karya fotografer asal Jakarta yang kini berdomisili di Semarang, Rifqi Fadhlurrahman, merupakan sebuah contoh bagus.

Buat orang yang berasal dari luar kota, tidak banyak yang bisa digali dari geliat scene lokal Semarang. Posisinya masih menjadi konsumen, belum menjadi produsen aktif. Ekspor talenta belum berjalan dengan level yang sama dengan kota-kota skala besar untuk urusan musik lainnya macam Jakarta, Bandung, Jogjakarta atau Malang.

Paham model begitu, pelan-pelan dikikis oleh para pelaku yang tinggal di Semarang. Buku Manifestream, misalnya, mengambil peran untuk bersuara tentang tiga talenta menarik asal kota itu, Figura Renata, Olly Oxen dan Santikarisma.

Buku, merupakan produk turunan dari pameran yang diselenggarakan di Semarang pada bulan Februari 2019 yang lalu. Bukan tidak mungkin, produk ini malah memperpanjang cerita yang coba dibawakan Rifqi ke panggung yang lebih luas.

Pengalaman menyaksikan banyak pameran di Galeri Foto Jurnalistik Antara menjadi pemicu ide, sebelum secara konkrit menerjemahkannya ke ranah tempat ia berkarya, musik.

“Dulu sering datang ke pameran di Galeri Foto Jurnalistik Antara. Pameran mereka proper banget dan selalu mengeluarkan buku foto di pameran itu. Itu rasanya kayak datang ke showcase band terus beli album fisiknya. Nah, dari situ aku juga kepikiran untuk buat pameran. Karena pameran bagi fotografer musik menurutku sama seperti band yang rilis album. Buku fotonya berperan sebagai rilisan fisiknya,” jelas Rifqi tentang ide dasar Manifestream.

Di buku itu, Rifqi memamerkan foto jepretannya sekaligus menuliskan perjalanan yang ia tempuh bersama tiga band Semarang tersebut di atas. Narasi yang menyertai, berhasil mengajak orang untuk masuk ke dalam cerita mereka.

“Aku merasa harus dibukukan. Karena belum banyak yang aktif di dokumenter musik dan membuat rilisan fisik. Kebanyakan fokus di media sosial. Itu sama saja, kayak band merilis karya di Spotify tapi tidak cetak cd atau kaset. Kurang sah aja buat saya. Buku foto ini pengennya jadi tanda nyata perjalanan tiga band yang saya ikuti,” paparnya melanjutkan.

Pergerakan musik, terjadi di mana-mana. Dan masing-masing kota, punya caranya sendiri untuk hidup dan bertahan memainkan apa yang disuka. Besarnya ukuran industri, juga memberi peluang untuk banyak profesi yang beririsan dengan musik mendapatkan ruang untuk bernapas dan berkarya.

Di luar negeri, sejarah dokumentasi sudah dibangun sejak berpuluh tahun yang lalu. Kebiasaan untuk menuliskan cerita perjalanan dalam bentuk buku yang berbasis teks atau foto bukan merupakan hal yang baru. Ia telah menjadi tradisi. Begitu pula video dokumenter. Ada niat besar untuk mendokumentasikan dan meneruskan cerita pada orang di luar peristiwa yang terjadi.

Rifqi, setelah menjalani profesinya, punya pemahaman yang baik tentang bagaimana apa yang ia lakukan bisa mendorong musik lebih menggeliat, “Aku pengen menceritakan peran fotografer dibalik proses kreatif musisi. Orang visual dibalik layar itu juga berperan dalam perjalanan band, apalagi di era digital, keterlibatan fotografer bisa banyak membantu mengenalkan musik dari para musisi tersebut.”

Lewat upaya ini, ada pelajaran yang bisa dipetik.

“Dengan pameran dan buku foto itu bisa menumbuhkan kesadaran fotografer musik, minimal di Semarang bahwa sebenarnya ekosistem butuh banyak fotografer musik yg mengikuti band dari bawah, bukan hanya sebagai pekerjaan yg dihire saat band itu sudah terkenal dan datang saat manggung doang. Karena pada dasarnya band juga membangun semuanya dari nol, kenapa tim di balik layar juga nggak ngikutin mereka dari nol juga?” terangnya lagi.

Rifqi menceritakan lebih lanjut tentang apa yang sering ia temukan di scene lokal Semarang.

“Sebenarnya fotografer di sini banyak, tapi yang mau meluangkan waktu untuk ikut band sedikit,” katanya. “Kebanyakan cuma kepengen akses saat band-band besar sedang manggung di Semarang. Tapi saat band Semarangnya manggung, nggak ada yang motret,” lanjutnya.

Di sebuah masa, ia pernah mencatat rekor. Ia mengikuti dua belas band Semarang. Tidak tanggung-tanggung jumlahnya.

“Di satu sisi, aku senang karena kawan-kawan sudah sadar pentingnya dokumentasi. Tapi di satu sisi, aku sadar, kalau semuanya aku yang ikut, semua ekosistem fotografer musik bakal mati di sini. Aku mulai cari orang-orang yang punya minat di sini, aku jembatani mereka untuk ikut band. Ya, itu juga masih sulit, karena yang punya keinginan kuat untuk ikut band masih sedikit,” kenangnya bercerita sambil mengungkapkan masalah yang dihadapinya di Semarang.

Kota itu, sedang berkembang. Ekosistemnya mulai hidup. Masing-masing peran mulai menemukan kuantitas pelaku yang banyak, ada musisi, acara musik yang makin beragam, record label yang proper dan berbagai macam hal lainnya. “Secara musik, saya berani bilang bahwa di sini banyak band yang nggak kalah kualitasnya dengan kota-kota yang sekarang bisa menguasai banyak festival besar,” ungkapnya.

Jika ingin belajar dan mengaplikasikan sebuah upaya mendokumentasikan geliat dengan baik, bisa jadi kisah Rifqi dijadikan referensi baik. Secara umum, Indonesia perlu lebih banyak dokumentasi dalam bentuk fisik. Sesuatu yang bisa diwariskan untuk waktu yang lebih lama dan mengikat memori lebih dalam.

Semarang sudah, kota mana berikutnya? (*)

Teks dan foto: Felix Dass

Program Menarik Bernama Women Composser Weekend

Merayakan Hari Perempuan Internasional yang jatuh di tanggal 8 Maret lalu, untuk pertama kalinya, Yayasan Bandung Philharmonic berkolaborasi dengan Komunitas Perempuan Komponis: Forum & Lab untuk meluncurkan dua program webinar...

Keep Reading

Libatkan Seniman Lokal, SOCA Wheels Luncurkan Program Luring SOCA Spinning Wheels Vol.1

Tak bisa dipungkiri, pandemi yang sudah terjadi selama lebih dari dua tahun ini sudah berhasil membuat repot semua lini, termasuk lini hiburan. Selama dua tahun itu pula kita disuguhi dengan...

Keep Reading

Bandcamp Resmi Bergabung dengan Epic Games

Bagi yang menggandrungi musik, tentu gak bakal asing dengan platform pemutar musik digital bernama Bandcamp. Dengan adanya platform tersebut para musisi bisa dengan mudah mendistribusikan karyanya, lewat platform itu pula...

Keep Reading

Sandal Jepit Swallow yang Berevolusi Menjadi Sepatu

Untuk rilisannya sendiri, sneaker unik ini hadir dalam 4 series warna, yakni tersedia dalam warna merah-putih, hijau-putih, hitam-putih, dan biru-putih. Warna-warna yang khas dengan sandal jepit yang biasa kita pakai sehari-hari. Keempat series ini dibanderol dengan harga 129.900 dan tersedia dengan ukuran 37-44.

Keep Reading