Menelusuri Kegelapan Sumpal

Taruk adalah eksponen hardcore punk asal Bandung. Konon, mereka gemar dalam menghadirkan nuansa gelap di tiap karyanya, setidaknya seperti pada tembang-tembang di EP Sumpal. Paketan karya tersebut pertama kali hadir di tanggal 19 Februari 2019 secara digital. Kini melalui Loka, departement label rekaman dari kolektif/media bernama Soundvision, versi fisiknya pun hadir, tepatnya berbentuk kaset pita.

“Taruk berdiri tanggal 2 Januari 2018, namanya diambil dari KBBI yang berarti ‘pukul’/’hantam’. Bisa juga berarti tunas tumbuhan, sebuah analogi bahwa kami adalah pucuk kecil imut yang tumbuh tapi bukan jadi pohon, melainkan bogem mentah, dan kelak besar menjadi sebuah ancaman di saat semua lengah. Haha,” ungkap Bobby sang gitaris.

Sekitar November 2017, Boby dan Karel menapaki Jakarta dalam rangka mencari nafkah. “Saya di media online mainstream, Karel di media alternatif yang satu kantor dengan Sepsis Records/Noise Lab Studio, saya cukup sering main ke sana. Setiap akhir pekan kami melihat aktivitas orang yang rekaman, bikin terpicu untuk punya band. Karel lantas mengajak, lalu saya iyakan.” Jelas Bobby. Mereka lalu menghubungi Dimas, bassist pertama Taruk untuk turut bergabung dalam proyeknya.

“Dia mau, lalu lewat Dimas kita dikenalkan dengan Adul. Awalnya mau bawa yang gampang dan ‘ngena’ kayak Zeke, tapi saya merasa tidak puas. Kemudian masuklah referensi lain seperti DS-13, Torso, Converge, Devil Master, Christian Death, sampai Dissection. Jadilah musik Taruk seperti sekarang,” katanya.

Ya. Empat nomor di dalam Sumpal yaitu (Introduksi) Katarsis, Berapi-api, Pesta Durga, Kegelapan Adalah Surga Terakhir, dan 218 merupakan hasil pengejawantahan dari apa yang mereka dengar, atau nama-nama semisal Torso, DS-13, dan Dead Kennedys. Lalu, dalam rangka eksplorasi lanjutan, Taruk juga menambahkan Dissection, Palm, Christian Death, Devil Master sebagai daftar panutan.

Untuk melengkapi formasinya, band yang awalnya terdiri dari Karel (vokal), Bobby Agung Prasetyo (gitar) dan Matin Mahran “Adul” (drum)  pun pada akhirnya menambahkan Muhammad Zulyadri (bas).

“Singkat cerita kita mulai garap EP dan beberapa kali manggung, Dimas keluar saat kita rilis single Berapi-api pada November 2018. Taruk sempat jalan bertiga selama beberapa bulan, kemudian rilis digital Februari 2019. Tak jauh dari jangka waktu itu, saya mengajak Muhammad Zulyadri alis Boy, teman SMA, untuk gabung jadi bassist. Kita kemudian berempat sampai sekarang dan mulai mengumpulkan materi baru,” Bobby menambahkan.

Kendala perampungan Sumpal sangat klise dan tanpa drama, namun lebih dari cukup membuatnya terhambat, yaitu kesibukan masing-masing personil di luar band, semisal Karel yang harus memenuhi sift kerjanya sebagai barista di sebuah kedai kopi. Pemakluman terkait hal-hal semacam itu selalu hadir dalam tiap diri personil. Bagi mereka, itu bukan perkara rumit.

Rekaman, mixing hingga mastering dikerjakan oleh Irsyad Ali Sufi di Teargas Lab. Setelah lama bereksperimen, Karakter vokal Karel yang sekarang, baru terbentuk di hari akhir rekaman. “Sebelumnya kayak Entombed, tapi kita lebih suka versi baru. Lebih galak, marah, uring-uringan,” kata Bobby.

Proses pembuatan kaset Sumpal sendiri berlangsung selama kurang lebih 2 bulan di Lokananta. Desain dibantu oleh tim Soundvision dengan tetap memakai artwork lama karya Gama Dwisetya. Versi lagu tidak mengalami perubahan, namun lebih ditingkatkan dari segi kualitas.

“EP Sumpal dikerjakan mulai Juni 2018, sempat terpotong sampai baru benar-benar rampung tiga bulan kemudian, September. Proses berjalan normal namun sempat ada satu lagu yang belum benar-benar rampung, Pesta Durga, Kegelapan Adalah Surga Terakhir. Belum lagi, proses mengajak Doddy Hamson juga butuh waktu, dia memang langsung menyanggupi, tapi bikin lirik dan latihannya yang menempuh proses beberapa minggu,” cerita Bobby tentang proses pembuatan Sumpal yang turut melibatkan Doddy Hamson, vokalis Komunal.

Bagi Taruk, Doddy Hamson dan Komunal bagaikan pemimpin kultus rock ‘n’ roll modern Indonesia.  Kata Bobby, suaranya yang parau mampu menggema sampai ke sudut ruangan, selalu berhasil membuat tangan terkepal lalu teracung ke atas. “Sudah ambisi kami untuk mengajak dia kolaborasi di EP, dan 218 adalah pilihan yang tepat,” ungkapnya.

Lagu 218 sendiri bercerita tentang obsesi terhadap kegelapan dan tekad untuk mendobrak sesuatu sampai batas akhir kemampuan. Tema-tema di lagu Komunal adalah inspirasinya. “Versi lainnya, lagu 218 juga merupakan tribute to Jon Nodtveidt dari Dissection,” tambah Bobby. Doddy Hamson sendiri menyambut secara positif ajakan kolaborasi.

Bobby dan personil lainnya bertemu Loka Records atau kolektif Soundvision saat Taruk tengah melangsungkan pertunjukan di ISBI pada awal 2019. Usai gelaran tersebut, Karel dijumpai oleh Arya Zakaria dari Soundvision, hingga berujung pada sebuah penawaran pembuatan kaset Sumpal.

“Usai main, Karel didatangi sama Arya dari Soundvision untuk ditawari bikin kaset. Tentu saja kita senang, tapi sayangnya jadwal rilis digital sudah dipatok dan kita sudah hubungi orang agensi untuk upload materi ke platform music streaming. Akhirnya kita pakai plan lain, yaitu rilis digital dahulu, baru fisik,” ucap Bobby menceritakan asal muasal pertemuan Taruk dan Loka/Soundvision.

Kaset EP Sumpal terbagi dalam 2 jenis paket, reguler dan eksklusif. Paket reguler mematok harga 45 ribu rupiah dengan kemasan kaset dan download code, sementara paket eksklusif 50 ribu rupiah dibundel amplop isi kaset, download code, satu pak stiker, serta linear notes dari rekan musik.

Nama-nama tersebut antara lain Baruz (Godless Symptoms/Konfliktion), Doddy Hamson (Komunal) yang juga kolaborator dalam lagu “218”, Ramaputratantra (Gaung), Alikbal Rusyad (Brigade of Crow/Galaxies/Succubus/The Pandora Labs.), hingga Arya Zakaria (Soundvision).

“Bagi kami, keberadaan rilisan fisik di tengah gempuran format digital masih tetap relevan sampai sekarang. Hal ini tak terlepas dari bantuan Arya serta teman-teman Soundvision yang telah banyak membantu. Terima kasih,” tutup Bobby.

Kaset EP Sumpal bisa dibeli secara offline di Akasa Bookstore, Husted Youth, dan Quckening Bandung. Pesan online via Bandcamp, nomor ponsel, media sosial Taruk serta Soundvision sejak sejak 6 Agustus 2019.

Akhir kata, siapkan sumber penerangan bila akan mendengarkan Sumpal milik Taruk. Persiapkan nyali, karena kegelapan selalu bernyawa.

Teks: Rizki Firmansyah
Visual: Arsip Taruk