Menelisik Kemuraman Black Metal di Until The Light Takes Us

Bila kalian mencoba untuk mencari dokumenter-dokumenter yang mengarsipkan berbagai geliat pergerakan dari kancah black metal, mungkin “Until the Light Takes Us” bisa menjadi salah satu dari tujuan tersebut. Film dokumenter ini banyak menceritakan segala catatan menarik yang terjadi di kancah ini selama periode awal tahun 90-an di Norwegia. Dokumenter ini mencakup banyak kisah yang memang sudah seharusnya diperlihatkan dengan lebih baik, dan hal ini sudah diakui oleh banyak orang yang telah menontonnya.  Tidak seperti The Story of Anvil atau Some Kind of Monster, “Until the Light Takes Us” kemungkinan besar sangat tidak menarik bagi mereka yang belum pernah mendengarkan jenis musik ini, dan beberapa orang penggemar pun mengakui hal tersebut. Film ini dibuat oleh duo sutradara yaitu Aaron Eites dan Audrey Ewell, dan diproduksi oleh Field Picture, 2009. Cerita yang dihadirkan berfokus pada perjalanan panjang musik ini, idealisme yang dibangun, serta estetika dari sebuah kancah black metal Norwegia. Film ini benar-benar menjelaskan gerakan yang sampai sekarang telah diselimuti kegelapan, rumor dan bertolak belakang.

Para penyembah metal pasti sangat hafal dan tahu betul cerita perihal musik dan budaya black metal yang menghantam negara-negara Nordik di tahun 80-an, pembakaran gereja merajalela di Norwegia, band Mayhem dengan segala rentetan permasalahannya pun juga tak ketinggalan. Beberapa kasus yang ada pada tubuh band in antara lain bunuh dirinya sang vokalis, Dead, yang kemudian mayatnya di foto oleh Euronymous (gitaris) dan dijadikan sampul album yang berjudul Dawn of the Black Hearts. Tapi, bukan berarti duo sutradara Aaron Aites dan Audrey Ewell memperlihatkan dengan berlebihan porsi Mayhem di sini. Hal itu tidak akan kalian temui.

dvd dokumenter until the light takes us

Di sini, akan diperlihatkan bagaimana black metal yang berangkat dari heavy metal dan idealis pagannya hadir di tengah masyarakat luas. Ragam bentuk penolakan terhadap budaya masyarakat modern, dan keinginan untuk mengangkat kembali budaya leluhur pun juga digalakan oleh mereka para pegiat musik ini di sana. Pada dasarnya black metal adalah sebuah jati diri dan pemikiran bagi para penganutnya, tak jarang yang mengaitkan jenis musik ini sebagai sebuah ajaran sesat. Tak bisa dipungkiri, ragam jenis musik yang ada memang memiliki kebudayaannya masing-masing, atas dasar itulah sering bermunculan hal-hal yang kerap kali di luar nalar manusia. Tergantung dari sisi mana para penikmat musik melihat dan menilai itu semua.

Merunut pendapat pribadi, yang cukup disayangkan dari film ini adalah berantakannya adegan per adegan yang disuguhkan, lalu ada juga sesi wawancara yang secara acak melompati antara satu segmen dengan yang lain, tata kamera yang kurang pas, penggunaan warna hitam putih di keseluruhan video, dan banyak lainnya. Untung saja kekurangan-kekurangan yang ada ditutupi dengan ragam kisah yang memang pantas untuk diacungi jempol. Sebagian besar wawancara yang dihadirkan di sini menghadirkan sesi bersama Ferinz dari Darkthrone. Dirinya adalah seorang musisi yang eksentrik tetapi juga ramah, di film ini dirinya dengan sangat antusias menceritakan kembali berbagai kisah yang dilewatinya selama masa awal 90-an. Menceritakan permulaan terciptanya pemikiran dari subkultur musik black Metal di tanah Norwegia.

Ragam teknik bermusik dari black metal pun juga banyak diperlihatkan di sini. Yang menarik lagi adalah adanya arsip-arsip lama yang merekam ragam kegiatan dari para musisi-musisi black Metal di generasi awal, mereka adalah Mayhem, Burzum, Darkthrone, dan banyak lainnya. Tak ketinggalan menyoal riasan wajah yang disebut Corpse Paint dan dipopulerkan oleh mendiang vokalis Mayhem, Dead. Selain Ferniz, juga turut dihadirkan sosok fenomenal Varg Vikernes di sesi wawancara di film ini. Dalam cuplikan yang ada, dirinya jelas sangat terlihat senang dan biasa saja ketika berbagai pertanyaan diajukan kepadanya (termasuk menyoal kasus pembunuhan yang dilakukannya terhadap Euronymous) oleh sang sutradara. Dia menyajikan perpaduan yang menarik antara wawasan dan kebodohan, dengan sangat fasih mengartikulasikan pandangannya tentang musik dan agama sambil terlihat bodoh ketika menjelaskan motifnya saat membakar gereja. Dia jelas bersalah atas segala bentuk kebenciannya terhadap umat kristen yang ada di sana.

Film berakhir dengan cuplikan yang memperlihatkan Fenriz mengunjungi kembali sebuah tempat bernama Helvete, yang mana ini adalah sebuah toko musik milik mendiang Euronymous, yang di masa dulu sering kali digunakan oleh anggota band untuk tinggal, nongkrong, membahas banyak musik dan menyusun ragam rencana untuk perjalanan kancah black metal di Norwegia. Membahas black metal memang tidak akan ada habisnya, bila kalian merasa paling tahu tentang jenis musik ini, mungkin ada baiknya menyimak kembali film tersebut. Dokumenter ini memang menampilkan banyak sekali informasi dan trivia. Tapi, hal itu bukan berarti tidak bagus. Dari tiap kejadian itulah kita akan mengetahui secara detail, dan juga akan memberi pandangan yang lebih luas lagi dari black metal itu sendiri.

RATED: 8/10

Teks: Adjust Purwatama
Visual: Arsip Burzum.org

 

The Box Perkenalkan Formasi Baru Lewat Live Session

Pandemi yang sudah berlangsung selama dua tahun ini telah membuat kita semua kembali dari awal. Menyusun ulang rencana dan mulai menata kembali langkah-langkah yang akan diambil. Kini industri sudah mulai...

Keep Reading

Sajian Ska Berbeda dari Slowright

Slowright, unit ska dari kota Malang baru-baru ini telah melepas album mini teranyarnya bertajuk Believe. Dirilis oleh label rekaman yang bermarkas di Yogyakarta, DoggyHouse Records, lewat rilisannya kali ini Slowright...

Keep Reading

Zizi yang Menyapa Kampung Halaman Lewat Hometown Tour

Setelah menyelenggarakan showcase perdananya yang bertajuk Unelevated Intimate showcase di Bandung pada akhir Februari lalu. Kini, Zizi kembali ke rumah tempat ia tumbuh dan menemukan passion terbesar dalam dirinya. Ia...

Keep Reading

Realita Kaum Pekerja di Nomor Kolaborasi Dzulfahmi dan Tuantigabelas

Dzulfahmi, MC dari kolektif Def Bloc dan Dreamfilled yang bermukim di Jakarta baru-baru ini (6/5) telah memperkenalkan karya terbarunya bertajuk “Rotasi”. Lewat rilisannya kali ini Dzulfahmi menggaet salah satu nama...

Keep Reading