Menelisik Barasuara – Pikiran dan Perjalanan

Idealnya, menulis review sebuah album itu, perlu pengalaman yang menyeluruh. Tidak bisa sepotek-potek, karena elemen-elemen karya saling melengkapi. Musik, selalu sepatutnya keluar dari batasan suara saja. Begitu juga desain sampul dan kemasan fisik yang menyertai. Jika disandingkan, jadilah ia sebuah kesatuan. Itu kenapa ketika berbincang dengan sebuah band tertentu tentang karya mereka, satu hal yang selalu saya tanyakan adalah, “Kapan dirilis cdnya?” Atau, “Ada fisiknya nggak?”.

Jika tidak ada versi fisik dan hanya dirilis dalam bentuk digital, ya sudah mau bilang apa? Tapi ketika sebuah album ada fisiknya, sebaiknya ditengok dulu sebelum memutuskan untuk menulis pengalaman mendengarkan lagu-lagunya.

Dalam kasus album Pikiran dan Perjalanan, saya benar-benar diuji untuk sabar tidak tergoda menerabas standar yang dibentuk sendiri tadi. Untung bisa berpegang teguh dan tidak ikut-ikutan jadi Detik.com, Tirto dan teman-temannya yang perlu jadi paling cepat menulis tentang album ini dan mengendarai perbincangan dengan apapun sisi yang mereka ulas. Toh, menulis selalu tentang melihatnya kembali di masa depan sebagai referensi, bukan perlombaan adu cepat jadi yang pertama.

Entah apa yang terjadi, tapi Darlin Records, label rekaman Barasuara di album kedua ini, tidak mendistribusikan cdnya dengan cepat. Album ini dirilis pada 8 Maret 2019 secara digital dan versi fisiknya diperkenalkan pertama kali pada 13 Maret 2019, pada saat launching albumnya di Jakarta.

Saya ingin beli, tapi kemudian tidak ada yang menjualnya. Bahkan tidak ada informasi di akun toko resmi Barasuara yang ada di Instagram. Juga akun Darlin Records. Kasak-kusuk dengan beberapa kawan tukang cd yang sebenarnya merupakan tulang punggung penting industri musik juga tidak memberi hasil; kebanyakan dari mereka tidak punya informasi bagaimana mendapatkan cd itu. Pilihan terakhir akhirnya ketemu dengan meminjam cd milik adik saya yang kebetulan melakukan preorder bundling album itu.

Barasuara tidak pernah bisa dinikmati komplit tanpa rangkaian kata yang menyertai suara. Ketika akhirnya berhasil mendengarkan album Pikiran dan Perjalanan secara berurutan dari depan sampai belakang sambil membolak-balik sleevenya, maka pengalamannya jadi utuh.

Album ini, sentuhan akhirnya diselesaikan oleh Stephan Santoso, seorang teknisi statusnya super berpengalaman dan cocok dengan konfigurasi instrumen musik yang dimiliki oleh Barasuara. Tapi, saya langsung kehilangan kegarangan Taifun yang jadi terasa berkali-kali lebih mentah dan penuh energi jika dibandingkan dengan album ini.

Itu, buat saya, pilihan. Dan dari betapa lamanya penggarapan album ini, bisa jadi keputusan yang masuk akal karena waktu empat tahun yang memberi jeda antara Taifun dan Pikiran dan Perjalanan. Di lagu berjudul sama, mereka sudah memberikan disclaimer:

Belantara masa depan, pikiran dan perjalanan, biar kami yang tentukan. Biar kami yang tentukan.

Ini semacam syarat dan ketentuan yang biasa kita temukan dalam promosi marketing banyak produk. Jadi, sudah dinyatakan dengan tebal bahwa apa yang terjadi di masa depan, biar saja mereka yang tentukan. Pakai ditekankan dengan pengulangan di kalimat terakhir lagi.

Toh, Barasuara memang adalah keajaiban industri musik Indonesia. Mereka yang muncul dari dalam diam dan kemudian membuat orang berpaling melihat. Sampai masuk televisi, sampai membuat beberapa superstar musik Indonesia (di dekade-dekade yang lampau) yang mulai kehilangan slot manggung sehari-hari ingin kenal dan mendengarkan karya mereka, sampai bisa berkolaborasi dengan orang jenius model Indra Lesmana. Jasa band ini besar ketika karena mereka, banyak orang membuka mata tentang kualitas musik generasi baru.

Kesibukan yang di atas batas nalar, membuat album ini dikerjakan dalam beberapa kurun waktu berbeda. Jonathan Palempung, pemain keyboard yang mengisi sejumlah rekaman di Taifun pun masih terlibat di lagu Samara. Catatan di sleeve, memberi tahu bahwa album ini direkam sejak Agustus 2016 dan baru rampung pada Januari 2019. Berarti makan waktu nyaris dua setengah tahun.

Sulit membayangkan kapan mereka punya waktu untuk menemukan gairah mengerjakan album ini ketika jadwal misalnya membawa mereka satu hari main di Makassar dan keesokan harinya main di Palembang. Atau dalam lima hari berturut-turut punya jadwal main di Lampung, Jakarta, Surabaya, Jogjakarta dan Banjarmasin. Atau ini, bayangkan kombinasi moda transportasi yang harus ditempuh untuk main tiga hari berturut-turut di Bandung, Samarinda dan Palembang. Saya sih malas merasakannya.

Tantangan waktu sekaligus harapan banyak yang harus diladeni layaknya band yang punya album debut meledak, ada di dalam kisah Pikiran dan Perjalanan. Secara kualitas produksi, album ini sangat bagus. Terdengar digarap dengan fasilitas kelas satu dan kemewahan yang diidam-idamkan musisi.

Kalau saya pribadi sih, tidak butuh produksi yang berkelas dunia dan super bagus. Itu sih bonus sajalah. Album yang menurut saya ok banget, adalah album yang memancarkan energi orang-orang yang bekerja di baliknya. Pikiran dan Perjalanan secara keseluruhan ada di ambang batas aman; kadang bisa merasakan energi, kadang terlalu datar. Seperti sudah disinggung di atas, tidak semeledak-meledak Taifun.

Tapi, ya sama sekali jauh dari kata jelek.

Pancarona mungkin akan jadi hits yang cocok dimainkan di tengah set live Barasuara, ketika masing-masing dari mereka perlu mengambil napas tambahan. Membayangkan lagu itu dimainkan di bawah setting langit gelap dan syahdu, enaknya bukan main.

Samara bisa jadi mantra yang dirapalkan dengan konstan ketika punya masalah dengan dunia. Meskipun, penafsirannya belum tentu sama dengan apa yang dimaksud Iga Massardi yang menulis lirik:

Kita bisa tenggelam dan bisa padam. Atau bangkit berjalan lalu melawan.

Guna Manusia adalah anthem yang megah. Ketika kemudian disambungkan dengan footage milik seorang artis video yang karyanya cantik model Jay Soebiakto, ya cocok.

Barasuara, masih sesuatu yang hadir dari proses di balik layar yang tidak biasa saja. Jika mendengarkan dengan seksama, detail-detail kuat ada di dalam album ini. Aransemen gitar yang mencuri perhatian di bagian akhir Pikiran dan Perjalanan, suara petikan genit di Tirai Cahaya, synthesizer yang bersahutan dengan perkusi dan brass section di Masa Mesias-Mesias adalah tiga contoh dari sekian banyak sebarannya.

Mereka menggali untuk bisa berkembang dari era sebelumnya. Salah satu yang dominan mengambil peran adalah keberadaan permainan synthesizer Adra Karim yang sudah sering ikut beraksi di panggung dan nyaris ada di seluruh lagu di album ini. Dan dari sisi itu, Pikiran dan Perjalanan sebagai sebuah album, berhasil.

Jika perkembangannya tidak membuat orang suka, ya itu perkara lain. Toh suka dan tidak suka selalu ada layaknya kamu bebas beranggapan bumi itu datar atau bulat. Manggung di mana-mana dan berhasil membuat banyak sekali orang bernyanyi bersama jelas adalah hal yang baik dan menjelaskan ada di mana posisi Barasuara di dalam hidup orang banyak. Fakta itu tidak bisa disanggah masih menempel dengan erat pada Barasuara.

Pikiran dan Perjalanan akan memperpanjang fakta tersebut.

Yang harus dicatat dengan baik adalah kesulitan mencari cd fisik Pikiran Perjalanan hingga dua minggu setelah diluncurkan secara resmi. Bukan gara-gara laris manis tanjung kimpul, tapi lebih pada misteri kenapa cdnya tidak tersedia di banyak tempat. Hanya Darlin Records dan Barasuara yang bisa menjawabnya. Semoga tidak terulang di masa depan. Fans, terutama mereka yang tidak berdomisili di Jakarta dan kehabisan paket preorder, berhak mengakses cd fisik band yang mereka suka secepat-cepatnya. (*)

Track favorit:
Pikiran dan Perjalanan, Pancarona dan Samara

Teks dan foto: Felix Dass

Tur Jepang Bangkutaman & Logic Lost

Bangkutaman, grup asal Jogja, melanjutkan seri TauTauTur mereka dengan edisi spesial. Mereka memutuskan untuk bertandang ke Jepang. Tur ini dimulai dari tanggal 27 – 30 November tahun ini. Bukan tanpa...

Keep Reading

Video Musik Bintang Massa Aksi .Feast

Abdi Lara Insani yang merupakan single utama dari album teranyar .Feast berjudul Bintang Massa Aksi ini ternyata masih memiliki keberlanjutan dengan dirilisnya sebuah video klip resmi di kanal YouTube .Feast (22/11/22). Video klip ini melibatkan...

Keep Reading

Kolaborasi Semiotika Dan Iga Masardi

Menggunakan moniker Sagas Midair, Iga Massardi yang merupakan gitaris sekaligus vokalis grup Barasuara merilis single kolaborasi bersama Semiotika, unit Instrumental Rock dari Jambi. Diberi tajuk Iskaashi, rencananya single ini akan...

Keep Reading

Nyala Api Dari Angkatan Baru Hip-Hop Jakarta

Berawal dari hal yang tidak direncanakan, La Munai Records, label rekaman Jakarta, Pesona Experience dan Bureau Mantis kolektif dan manajemen musik dari kota yang sama akhirnya menemui kesepakatan untuk merilis...

Keep Reading