Mendobrak Stereotip Dan Batasan Dalam Segala Bentuk

Voice Of Baceprot telah memulai debut fenomenal di Wacken Open Air 2022 pada bulan Juli. Setelah itu, trio ini membuat satu lagi gebrakan dengan EP “School Revolution Remix” yang turut menggandeng enam DJ dan produser musik elektronik pada bulan September. Terbaru, VOB kembali dengan single terbaru dengan tajuk “PMS“.

PMS sendiri adalah singkatan dari “Perempuan Merdeka Seutuhnya”. Lagu ini sebenarnya sudah ditulis oleh Marsya (vokal, gitar), Widi (bass), dan Sitti (drum) selama masa SMA sekitar tahun 2017 bersama dengan guru konseling dan mentor mereka Abah Erza.

Kami menulis lagu yang didorong oleh sisa energi yang kami tinggalkan sepulang sekolah. Pada saat itu, kami sangat antusias dengan kegiatan sekolah, jadi pada dasarnya kami harus menyeret diri ke studio untuk lokakarya,” kenang Marsya.

PMS adalah sebuah ungkapan antipati, ketidaksenangan, dan kemarahan VOB terhadap situasi mereka saat itu, baik secara lirik maupun musikal. Terlepas dari kondisi yang mereka alami, tidak ada jejak kelelahan dalam lagu yang mereka hasilkan.

Inspirasi utama di balik lirik “PMS” berasal dari sederet cerpen yang ditulis oleh penulis Indonesia Feby Indirani berjudul “Bukan Perawan Maria”. Single ini berfokus pada protes VOB terhadap perilaku diskriminatif dan menghakimi yang cenderung ditujukan untuk wanita yang memiliki pola pikir, perspektif, sikap, dan bahkan keinginan atau impian yang berbeda dibandingkan dengan norma.

Berangkat dari wilayah di mana norma-norma sosial sangat dipengaruhi oleh tidak hanya nilai-nilai agama tetapi juga patriarki, VOB telah memiliki bagian yang adil dari diskriminasi berbasis gender di masa lalu. Tidak adanya pilihan hidup pasca SMA bagi banyak anak perempuan selain pernikahan akan menjadi salah satunya. Hal yang sama juga berlaku untuk pilihan karir, yang terbatas untuk VOB dan teman-teman mereka karena diskriminasi gender.

Ironisnya, bukan hanya pria yang akan menampilkan perilaku seperti itu, tetapi juga sesama wanita kita juga!” Marsya berkomentar.

Meskipun ditulis beberapa tahun lalu, lirik “PMS” tetap kontekstual dan relevan dengan situasi saat ini, tidak hanya di kampung halaman mereka tetapi juga di banyak bagian Indonesia dan bahkan dunia pada umumnya. Kenyataannya adalah perempuan masih terkekang oleh stereotip patriarki, terutama dalam hal karier dan pilihan hidup lainnya.

VOB tidak banyak melakukan perubahan pada lagu ini dari segi aransemen musik aslinya. Produser Yuka Dian Narendra (GRIBS, Anda Perdana, Bonita) meminjamkan sentuhan Midas-nya ke “PMS” dengan merapikan alirannya dan memilah-milah bagian terkuat dari lagu dari demo. Dia juga memilih suara yang tepat untuk setiap instrumen.

Vokalis Irvan “IrvNat” Natadiningrat (Tiga Diva, Krisdayanti, Indonesian Idol, X-Factor) juga memainkan peran utama dalam departemen vokal dengan meminta Marsya, Widi, dan Sitti untuk mengeksplorasi jenis nada dan melodi yang belum pernah mereka nyanyikan sebelumnya: membangkitkan semangat, cerah, dan menyenangkan, mirip dengan lagu tema anime.

Kami pasti memiliki keraguan kami pada awalnya karena tidak pernah terpikir oleh kami bagaimana sebuah lagu protes dapat memiliki melodi vokal dengan watak yang lebih cerah. Namun, setelah kami mencobanya dan mendengarkan, kami akhirnya menyukai hasil akhirnya. Rasanya ada sisi lain dari VOB yang belum pernah diungkap sebelumnya sampai sekarang, dengan pendekatan ini. Sisi yang menyenangkan, namun masih sangat banyak
VOB,” jelas Marsya.

Sama seperti [Not] Public Property, “PMS” proses mixing dilakukan oleh produser dan sound engineer Denmark Tue Madsen, yang juga pernah menangani Meshuggah, Suicide Silence, Mnemic, dan Sick Of It All. Sedangkan mastering dilakukan oleh Howie Weinberg, seorang insinyur mastering audio dari Amerika yang bertanggung jawab atas lebih dari 2,000 kredit mastering, termasuk 200+ album Gold dan Platinum bersertifikat oleh RIAA, 20 Grammy Awards dan beberapa penghargaan lainnya. Howie juga dikreditkan sebagai insinyur utama untuk Nirvana’s “Nevermind” dan “Licensed To Ill” dari Beastie Boys.

Single ini adalah teriakan berani untuk semua wanita yang mendobrak stereotip dan batasan dalam segala bentuk.

Editor : Brandon Hilton
Visual : Arsip Dari 12 Wired

Plvmb Memulai Debut Dengan Blue

Bandung kembali memiliki kuintet indiepop yang terdiri dari Vina Anesti (Vokalis), Azka Aulia Rachman (Bass), Diaz Febryan (Drum), Salman Wahid Putra Kamaludin (Gitar), Irfan Zahid Abdussallam  (Gitar). Mereka tergabung ke...

Keep Reading

Superglad Yang Kembali Melangkah

Superglad adalah band yang namanya tidak perlu lagi dipertanyakan di kancah musik tanah air. Setelah diterpa berbagai permasalahan yang sempat terjadi di dalam tubuh mereka, band yang terbentuk sejak tahun...

Keep Reading

Meramu Crossover Hardcore Ke Tahap Terbaru

Dari Sidoarjo, unit Crossover Hardcore yang tergabung dalam Voorstad akhirnya merilis mini album terbaru dengan tajuk Self-titled melalui label Greedy Dust Records. Ini merupakan rilisan kedua Voorstad setelah pada awal...

Keep Reading

Penegasan Warna Terbaru I Punch Werewolf

Penegasan eksistensi I Punch Werewolf melalui video klip lagu terbaru dengan judul Broken. Unit ini terus menggebrak kancah musik dengan beragam rilisannya. Untuk lagu ini sendiri dibuat lebih mengayun, namun...

Keep Reading