Mencicipi Nuansa Hawaii dari Ukulele Seorang Jenderal Hoegeng

“Hanya ada tiga polisi jujur di Indonesia, patung polisi, polisi tidur, dan Jenderal Hoegeng,” begitu kira-kira bunyi guyonan Gus Dur yang kesohor itu. Bagi Anda yang pernah ditilang karena SIM kadaluwarsa atau melapor kehilangan tapi urung karena mendengar alasan “aduh maaf mesin tiknya rusak”, guyonan tersebut akan terasa relevan. Namun, bagi beberapa yang lain bisa saja berbahaya. Contohnya, tahun lalu ada warga Maluku Utara yang digiring sementara lantaran mengunggah kutipan mantan presiden itu di media sosial.

Patung polisi mungkin sering bikin kaget di pos-pos lampu merah. Polisi tidur juga sering jadi gangguan berangkat kerja waktu lewat komplek tentara. Nah, bagaimana dengan yang terakhir disebut Gus Dur?

Jenderal Polisi Drs. Hoegeng Imam Santoso dulunya pernah menjabat sebagai orang nomor satu di  Kepolisian Republik Indonesia. Ia diangkat Soeharto sebagai Kapolri kelima, sejak 1968 hingga 1971. Presiden sebelumnya pun pernah mengangkat Hoegeng menjadi Menteri Iuran Negara pada 1965.

Namanya sungguh wangi selama menjalani karier sebagai penegak hukum. Ia terkenal antisuap, berani, dan pantang menyerah, bahkan saat berhadapan dengan orang penting dalam melaksanakan tugas. Hoegeng pernah menolak suapan bandar judi saat menjabat posisi penting di Medan, mencoba menguak pemerkosaan Sum Kuning yang diduga melibatkan anak orang penting, dan mencoba membongkar kasus penyelundupan mobil mewah Robby Tjahjadi.

Namun, di samping segala prestasinya sebagai penegak hukum, Hoegeng ternyata musikus yang bisa diperhitungkan.

 Jenderal Hoegeng

Kerap dijuluki The Singing General, Hoegeng tergabung dalam Hawaiian Seniors, grup musik berisi opa-opa pecinta musik pantai (yang bukan Marley). Ia membentuk grup tersebut bersama tokoh militer lain Suyoso Karsono (Mas Yos), yang di luar karier Angkatan Udaranya punya label piringan hitam, Irama Record. Bersama Irama, Mas Yos berhasil menelurkan nama-nama mahsyur di masanya, seperti Bing Slamet, Lilis Suryani,Titiek Puspa, hingga beberapa pionir jazz tanah air, Jack Lesmana, Nick Mamahit, dan Mus Mualim.

Mas Yos, juga punya julukan The Singing Commodore, lah sebenarnya yang memulai Hawaiian Seniors. Pada 1968, Hawaiian Seniors merilis sebuah piringan hitam berisi enam trek di masing-masing sisi dengan judul Somewhere in Hawaii. Saat itu, kumpulan ini menamai dirinya Yos & The Hawaiian Seniors. Lucunya, dalam kredit tercantum nama Hoogy mengisi vokal di beberapa lagu, yang nampaknya jadi nama bermusik Jendral Hoegeng saat itu.

 Jenderal Hoegeng

The Hawaiian Seniors memiliki program sendiri di stasiun radio Elshinta, yang juga dimiliki oleh Mas Yos. Di masa-masa ini, mereka lebih dikenal sebagai The Elshinta Hawaiian Seniors. Program mereka, Irama Lautan Teduh, akhirnya diangkat oleh TVRI menjadi salah satu acaranya pada 1968 di tahun yang sama dengan diangkatnya Hoegeng menjadi Kapolri.

Tim Siasat Partikelir menemukan rilisan-rilisan The Hawaiian Seniors di laman Irama Nusantara. Yayasan yang aktif mengarsipkan musik nasional itu memang tempat yang tepat untuk mencari katalog musik Indonesia yang hilang. Di sana, ada setidaknya tiga rilisan The Hawaiian Seniors, termasuk Somewhere in Hawaii.

Dua rilisan lainnya adalah The Call of Old Hawaii dan sebuah album selftitled di bawah nama The Elshinta Hawaiian Seniors. The Elshinta Hawaiian seniors kebanyakan berisi trek dalam Somewhere in Hawaii, biarpun terdapat beberapa perbedaan di susunan awal trek. Jika album sebelumnya dibuka dengan lagu berjudul sama, “Somewhere in Hawaii”, album yang lebih baru (dan juga The Call of Old Hawaii) dibuka dengan lagu pembuka khas Hawaiian Seniors, “The Seniors’ Signature Tune” atau biasa disebut “Ukulele Girl”.

“Ukulele Girl” ini dibuka dengan kocokan manis ukulele bersambut vokal Hoogy yang semi-semi falset. Alunan steel guitar pun mengiringi, melengkapi nuansa Hawaii yang memang jadi konsep. Di hadapan telinga-telinga kalcer masa kini pun, musik Hawaiian Seniors nampaknnya masih bisa masuk. Buktinya, revivalis musik semacam ini, Irama Pantai Selatan, mendapat dukungan bassist White Shoes & The Couples Company, Ricky Virgana, sebagai produser.

Selain lagu itu, Hawaiian Seniors biasa membawakan gubahan lagu asli Hawaii seperti “Akaka Falls” (Helen Parker, Johnny Noble), “Sing Me A Song of the Islands” (Harry Owens, Mack Gordon), “I Want to Learn to Speak Hawaiian” (Johnny Noble), dan “Nani (Beautiful)” (Alice Namakelua). Mas Yos dan Hoogy seringkali menjadi pengisi vokal utama. Mas Yos sambil bermain gitar, sedang Hoogy dengan ukulelenya. Mereka berdua bahkan kadang menggunakan bahasa daerah Hawaii saat bernyanyi.

Lagu “Ukulele Girl” lah yang biasa membuka penampilan Irama Lautan Teduh mereka di televisi. Kalau memerhatikan periode waktu, dapat disimpulkan bahwa Jendral Hoegeng sempat menjadi Kapolri dan mengisi Irama Lautan Teduh secara bersamaan.

 Jenderal Hoegeng

Hoegeng berhenti menjabat pada 1971 setelah mencoba membongkar kasus penyelundupan mobil mewah oleh Robby Tjahjadi yang diduga melibatkan nama-nama dekat pemerintah, diturunkan oleh presiden saat itu karena alasan peremajaan (padahal penggantinya lebih tidak remaja). Mungkin ini adalah bukti bahwa ketekunan Hoegeng menyelesaikan kasus dianggap bandel oleh beberapa pihak. Setelah itu dan menolak tawaran jadi diplomat di luar negeri, Hoegeng makin fokus dengan Hawaiian Seniorsnya.  Kebetulan, Mas Yos mengundurkan diri menjadi pimpinan The Elshinta Hawaiian Seniors dan Hoegeng pun didapuk menjadi penggantinya pada 1976, karena dikenal sebagai Senior of All the Seniors. Di masa ini, nama Elshinta di depan dihilangkan dan akhirnya benar-benar menjadi Hawaiian Seniors.

Di masa-masa pimpinannya, ada rilisan lain berbentuk kaset yang berjudul Irama Lautan Teduh Bersama Hawaiian Seniors. Nama Mas Hoegeng tercantum di bawah sampul. Kaset ini nampaknya lebih mudah ditemui ditumpukan koleksi kolektor dibanding tiga rilisan piringan hitam sebelumnya. Salah satu lagu yang tercantum di album ini adalah “I’m A Stranger in My Island” yang sebelumnya juga pernah dibawakan oleh pentolan The Tielman Brothers, Andy Tielman.

Hawaiian Seniors berhenti muncul di televisi pada 1980. Alasan mereka berhenti mengudara diduga karena kebandelan Hoegeng yang lain. Jendral Hoegeng merupakan salah satu penanda tangan Petisi 50, protes yang disampaikan oleh beberapa tokoh negara untuk menggugat Presiden Soeharto karena dianggap menodai dan menyalahgunakan filosofi bangsa sekaligus dasar negara, Pancasila. Kejadian itu terjadi pada Mei 1980, tahun yang sama para senior berkemeja kembang undur diri dari TVRI.

Di zaman ini, nampaknya selera musik dan keprogresifan pikiran berbanding lurus. Jendral Hoegeng bisa jadi tunas-tunas dari keadaan itu. Jadi, akankah ia turun ke jalan setiap May Day dan Women’s March jika hidup menjadi pemuda umur tanggung hari ini?

Teks: Abyan Nabilio
Visual: iramanusantara.org, kasetlalu.com

My Bloody Valentine Kritik Spotify Soal Lirik yang Salah

Di antara kalian pasti ada dong yang pernah memutar lagu di Spotify sambil menikmati fitur lirik yang disediakan. Lewat fitur ini, para pengguna Spotify bisa sambil bernyanyi sesuka hati. Tapi,...

Keep Reading

Patahan Imajinasi Masa Kecil di Nomor Terbaru Latter Smil

Latter Smil, duo asal kota Palu yang dihuni oleh Dian dan Eko, dipermulaan tahun 2022 ini kembali melepas karya teranyarnya bertajuk “Kalila”. Lewat single ini Latter Smil mencoba untuk memberikan...

Keep Reading

Perjalanan Skena Musik Ambarawa dalam Album Kompilasi They Hate Us

Terlihat dalam beberapa tahun terakhir, produksi album kompilasi skena musik lokal mulai kembali marak. Tercatat ada beberapa deretan kompilasi yang terbit pada setahun-dua tahun ke belakang, seperti Bikin Kompilasi: Bless...

Keep Reading

Dua Album Milik Semiotika Akhirnya Dilepas Secara Digital

Usai merilis album penuh bertajuk Eulogi, unit post-rock asal Jambi, Semiotika akhirnya merilis dua album terdahulunya Ruang (2015) dan album mini Gelombang Darat (2018) ke dalam format digital. Sementara album...

Keep Reading