Hindia Menari Dalam Tur Bayangan

Pada 16 Februari 2020, Daniel Baskara Putra beserta rombongan berhasil menepi di Bandung. Ini adalah perhentian terakhir setelah mereka berhasil melewati empat titik lainnya yaitu Malang, Surabaya, Yogyakarta, serta Semarang. Perjalanannya tersebut dilalui dalam rangka menunaikan rangkaian konser Hindia yang diberi tajuk Tur Bayangan 2020.

Baskara, beberapa tahun terakhir ini memang bukan main sibuknya. Setelah Feast yang merupakan band rintisannya sukses, proyek solonya pun tidak kalah hebatnya. Salah satu buktinya, beberapa saat setelah tiket Tur Bayangan diumumkan, semuanya langsung ludes terjual. Tidak perlu waktu lama. Hal tersebut pada akhirnya membuat pergerakan para calo tiket menggila. Di salah satu kota, bahkan ada yang menjual tiket seharga 1,5 juta. Itu sangat jauh dari harga asli.

“Dan gilanya, harga segitu pun ada yang beli,” kata seorang panitia dari pihak Mula Creativa yang merupakan salah satu penggagas perjalanan konser Hindia tersebut.

Mungkin, kehebatannya dalam menghasilkan penggemar-penggemar loyal tersebut dikarenakan kepiawaiannya dalam meracik lirik yang mampu mewakili suara banyak orang. Lalu secara terampil, ia juga memperkuatnya dengan tata kelola media sosial yang baik. Pesannya pun pada akhirnya menjadi buah bibir dan tersebar kemana-mana hingga mengantarkan Baskara ke titik dimana ia banyak dipuja sekaligus dicerca. Untuk ukuran abad 21, dia adalah pendongeng yang baik.

Walau kurang begitu cocok dengan musik dari Feast maupun Hindia, saya kagum dengan kepandaian Baskara dalam bercerita. Contohnya di lagu bermuatan kisah personal berjudul “Rumah Ke Rumah” yang terdapat di album Menari Dengan Bayangan. Siapa juga yang tau soal Indisya, Panda, Anggra, Caca, Sismita? Tanpa mengenal sederet nama tadi, para hadirin di Tur Bayangan Bandung tetap bernyanyi bersama saat tembang tersebut didendangkan.

Ia berhasil membuat para pendengar turut larut ke dalam ceritanya.

Tur Bayangan Bandung diberi tajuk “Semua yang Sirna di Bandung”. Bukan tanpa sebab, penamaan tersebut berasal dari pengalaman Baskara yang sering mengalami patah hati di Kota Kembang.

“Saya selalu mengasosiasikan Bandung dengan patah hati. Penolakan pertama dalam hidup saya terjadi di kota ini, saat keinginan saya di SMA dahulu untuk masuk salah satu perguruan tinggi negeri di sana kandas. Patah hati pertama saya juga terjadi di Bandung bertahun-tahun lalu, saat kota ini membantu menambah jarak yang ada selain jurang antara pilihan hidup saya dan beliau dulu di penghujung sekolah menengah akhir,” tuturnya tentang alasan penamaan tersebut melalui unggahan Instagram pada tanggal 5 Februari 2020.

Oh iya, di tiap kotanya Tur Bayangan ini dikepalai oleh salah satu anggota Lomba Sihir atau band pengiring konser Hindia. Bandung dikomandoi Enrico Octaviano si penggebuk drum. Tristan Juliano, Natasha Rosanie, Rayhan Noor, dan Wisnu Ikhsantama kebagian kota-kota sebelumnya.

Tur Bayangan Bandung dimulai oleh pertunjukan atmospheric dari Loner Lunar yang pada tanggal 27 September 2019, berhasil meluncurkan album penuh perdananya yaitu A Brief Tale of Long Search. Setelahnya dilanjut dengan aksi dari Aldrian Risjad yang sudah ikut sejak awal Tur Bayangan 2020 berlangsung dengan berbekal nomor-nomor rock andalannya. Di tengah penampilannya, ia membawakan gubahan ulang dari lagu “Pikiran dan Perjalanan” milik Barasuara secara lebih baik dibandingkan aslinya.

Selanjutnya, barulah Hindia dan Lomba Sihir muncul. Kehadiran mereka membuat banyak penonton memadati area depan panggung. Dimulai dengan “Membasuh” yang diisi oleh Baskara dan Rayhan, selanjutnya adalah giliran Natasha Rosanie dan Tristan Juliano untuk tampil membawakan tembang milik Mantra Vutura bertajuk “Biar”.

Di beberapa sesi istirahat, mereka mengisinya dengan interaktif dan penuh kelakar. Beberapa penonton terlihat mengacungkan handphonenya untuk memperlihatkan apa yang mereka ingin sampaikan kepada artist di atas panggung. Sebuah tradisi unik yang bisa menyebabkan interaksi dua arah saat konser berlangsung.

Sepanjang penampilan Hindia, penonton mengisinya dengan bernyanyi bersama. Hal itu membuat Baskara tampak mengalah beberapa kali untuk membiarkan para penggemarnya mengisi beberapa bagian dari lagu-lagunya. Kejadian romantis terjadi ketika tembang “Rumah Ke Rumah” diperdendangkan. Sosok yang saya duga adalah Meidiana muncul ke atas panggung untuk memberi bunga kepada Baskara ketika namanya disebutkan.

Penutupan konser pun berlangsung secara meriah. Tiba-tiba, panitia beserta beberapa penonton berhamburan ke atas panggung untuk sama-sama menyanyikan lagu “Secukupnya”. Sebuah klimaks yang menggambarkan perasaan lega karena telah berhasil menyelesaikan rangkaian tur padat ke lima kota. Semuanya senang, semuanya menari.

Teks: Rizki Firmanysah
Visual: Arsip Sun Eater

Siap-siap Mocca Friends! KelasMocca Akan Berlanjut di Tangsel

Tangerang Selatan dipilih untuk memulai KelasMocca, tepatnya di Kandank Jurank Creative Park sebuah ruang alam terbuka yang cocok untuk bermain dan belajar.

Keep Reading

The Saltfish yang Mengajak Pendengar Memikirkan Kembali Siklus Hidup

Wabah virus Corona adalah fenomena global yang kian meresahkan. Indonesia pun juga merasakan dan terkena dampak dari penyebaran virus ini. Virus bermutasi ke dalam berbagai varian, yang terakhir adalah varian...

Keep Reading

Betapa Indahnya Bayangan Masa Kecil di Lagu Terbaru re:NAN

Ketika masih kecil, selalu menyenangkan membayangkan kehidupan orang-orang dewasa, di mana menjadi dewasa artinya sudah bebas menentukan pilihan hidup, mendapatkan uang secara mandiri, bebas berkegiatan bersama teman, dan lain sebagainya....

Keep Reading

Kepedulian Dere Kepada Bumi Lewat Nomor "Rumah"

Cara menunjukkan kepedulian akan bumi sebenarnya dapat kita tunjukkan melalui platform apapun yang ada. Salah satunya adalah melalui musik. Itulah yang sedang berusaha ditunjukkan oleh musisi asal Indonesia, Dere. Lewat...

Keep Reading