Sosok: Dancing Departement

Bila membicarakan soal geliat pesta, maka Samarinda tidak bisa dikatakan tertinggal. Beberapa orang di sana ada yang tau persis bagaimana cara bersenang-senang di lantai dansa, bahkan tak sekedar itu saja. Di antara iringan musik menghentak, ada pula yang dengan lantang membicarakan independensi.

Dancing Departement adalah salah satu kolektif pegiat pesta Samarinda yang tidak mau diatur. Di saat semua rekan sejawatnya berjibaku menjilat pantat pemodal, maka mereka memutuskan untuk lebih mengeraskan lagi batok kepalanya agar tetap teguh pada etos kemandirian.

“Dulu Nama Kita Sunday Service, tapi karena namanya sudah di-trade mark oleh Kanye West, jadi kita ubah Jadi Dancing Departement,” cerita Aan yang merupakan salah satu penggagas komunitas yang baru di dirikan pada awal bulan Juli 2019 tersebut.

Dancing Departement juga dibentuk karena musik-musik arus pinggir sudah mulai digandrungi di Samarinda. “Perkembangannya cukup pesat, orang-orang di sini sudah mulai menikmati musik-musik underground. Awalnya yang diterima di sini tuh cuma genre-genre pop saja, cuma sekarang sudah mulai beragam, mulai dari elektronik dan masih banyak lagi,” Kata Onal yang juga merupakan bagian dari Dancing Departement.

Meski selalu menyenangkan, Aan dan Onal kerap pula menemui kendala saat berproses di komunitasnya tersebut. Mereka bercerita bahwa banyak teman-teman di lingkarannya yang pada akhirnya memutuskan untuk rela disetir oleh korporasi penyuntik dana. “Padahal, harusnya komunitas lah yang perlu menunggangi korporat, bukan sebaliknya,” ungkap Aan.

Dengan hanya beranggotakan dua orang yaitu Aan dan Onal, Dancing Departement juga sering berkolaborasi bersama komunitas lain semisal Mahakam Jazz River yang berhasil melahirkan sebuah perhelatan musik jazz dan elektronik bertajuk Sekumpul Academy pada 9 Agustus 2019 lalu.

Lalu masalah juga datang dari pemerintah kota yang menurut Aan dan Onal kurang melirik potensi-potensi kreatif di kota Samarinda. “Apalagi di ranah musik elektroniknya, mereka sama sekali nutup mata. Itu mungkin gara-gara image dari scene musik tersebut di mata masyarakat yang jelek, sih. Nah, Dancing Departement ini juga bertujuan ingin mengubah image tersebut,” jelas Onal.

Selain gemar membuat acara-acara musik berskala mikro, Dancing Departement pun dibuat sebagai usaha mempromosikan artist-artist lokal. “Saya tuh pengen banget mempromosikan seniman-seniman seperti Onal ke luar Samarinda. Saya pada akhirnya membangun jaringan di luar kota ini agar nantinya bisa membawa seniman-seniman lokal ke luar Samarinda,” kata Aan.

Dancing Departement adalah apa yang mereka tuliskan pada halaman Instagram-nya, yaitu “lembaga khusus yang mendengarkan keluhan party”. Bila hidup sudah mulai banyak diatur oleh kendali di luar diri, maka memang ada baiknya untuk berkeluh kesah pada tempatnya. Lalu supaya lengkap, teguk satu atau dua sloki minuman agar masalah tersapu bersih oleh goyangan.

Jantung pesta memang harus tetap berdetak meski hanya disokong oleh tenaga dari satu atau dua orang.

Teks: Rizki Firmansyah
Visual: Arsip Achmad Soni Adiffa

Program Menarik Bernama Women Composser Weekend

Merayakan Hari Perempuan Internasional yang jatuh di tanggal 8 Maret lalu, untuk pertama kalinya, Yayasan Bandung Philharmonic berkolaborasi dengan Komunitas Perempuan Komponis: Forum & Lab untuk meluncurkan dua program webinar...

Keep Reading

Libatkan Seniman Lokal, SOCA Wheels Luncurkan Program Luring SOCA Spinning Wheels Vol.1

Tak bisa dipungkiri, pandemi yang sudah terjadi selama lebih dari dua tahun ini sudah berhasil membuat repot semua lini, termasuk lini hiburan. Selama dua tahun itu pula kita disuguhi dengan...

Keep Reading

Bandcamp Resmi Bergabung dengan Epic Games

Bagi yang menggandrungi musik, tentu gak bakal asing dengan platform pemutar musik digital bernama Bandcamp. Dengan adanya platform tersebut para musisi bisa dengan mudah mendistribusikan karyanya, lewat platform itu pula...

Keep Reading

Sandal Jepit Swallow yang Berevolusi Menjadi Sepatu

Untuk rilisannya sendiri, sneaker unik ini hadir dalam 4 series warna, yakni tersedia dalam warna merah-putih, hijau-putih, hitam-putih, dan biru-putih. Warna-warna yang khas dengan sandal jepit yang biasa kita pakai sehari-hari. Keempat series ini dibanderol dengan harga 129.900 dan tersedia dengan ukuran 37-44.

Keep Reading