Theo Nugraha adalah seorang pemuda berusia 27 tahun asal Samarinda yang memiliki ketertarikan lebih terhadap bebunyian. Dari sederet julukan, ia lebih senang bila menyebutkan sound activist sebagai nama untuk aktivitasnya dalam mengksplorasi suara.

“Dari pada sound artist, saya lebih senang dijuluki sound activist, untuk merambah wilayah eksplorasi dan mengaktivasi bebunyian yang lain, tidak sebatas jadi performer saja,” ungkapnya.

Kegiatannya saat ini lebih terfokus di Jakarta. Selain menjadi editor sebuah media, Theo sejak awal 2018 menyibukkan diri di Forum Lenteng pada proyek Milisifilem dan 69 Performance Club, lalu ia masih belum berhenti dalam membuat mixtape serta beragam rilisan karya bebunyiannya.

Saat gelaran The All Time Tour leg Samarinda, kami bertemu dengannya di sebuah café di Samarinda. Berbincang banyak hal perkara dunia eksplorasi suara yang ia geluti.

Sejak kapan berkecimpung di dunia sound activist?

Kira-kira sejak 2013 saya mulai aktif ngulik sound experiment. Jadi sejarahnya, dulu Indra Menus, salah satu pegiat sound dari Yogya datang ke Samarinda. Waktu itu aku masih aktif di kolektif musik elektronik bernama Samarinda Electricity. Nah, Menus datang ke Samarinda bawa eksperimen noise, dan bikin penasaran temen-temen disini, termasuk saya. Itulah titik awal saya jadi getol mempelajari apa itu experimental sound, di tahun 2013 lah saya mulai masuk ke skena experimental sound dan aktif disana. Setelah saya, muncul juga beberapa nama yang aktif pula di ranah experimental sound di Samarinda semisal Jeritan dan Sarana. Di tahun itu juga saya aktif merilis beberapa seni bebunyian di internet dan sejumlah split album sound experiment bersama beberapa nama seperti Indra Menus juga Shit Noise Bastard dari Malaysia. Di tahun itu juga jejaringku mulai terbentuk, karena saat itu saya memutuskan untuk tur tiap tahun.

Kegiatan sound activist ini sudah membawamu kemana saja?

Yang pasti beberapa kota di Indonesia seperti Yogya, Jakarta, serta Bandung. Lalu beberapa negara di Asia semisal Malaysia, Singapura, dan Thailand. Pernah juga secara tidak langsung berkontribusi di sebuah acara  di Eropa, tepatnya Italia untuk merayakan hari TBC sedunia. Disana saya tampil secara live streaming dari Samarinda. Terakhir saya main di Jogja Noise Bombing 2019 dan sempat residensi di Bangsal Menggawe, Lombok, serta pameran di Orbital Dago, Bandung, bersama Milisifilem.

Apa hal yang biasanya kamu angkat dalam tiap karyamu?

Tentu saja hal-hal yang ada disekitaran saya, karena kalau soal berkarya saya gak mau jauh-jauh dan takut di cap sebagai orang sok tahu. Saat ini saya sedang tertarik mengangkat bebunyian di sungai Mahakam semisal suara sungai, kelotok serta mengangkat interpretasiku terhadap suara mahluk-mahluk legenda disana untuk dituangkan kedalam komposisi suara dan dicatat pada partitur agar bisa dimainkan ulang oleh orang lain. Untuk hal itu aku melakukan riset juga mendengar pendapat warga sekitar terhadap suara-suara tersebut. Suara-suara tersebut juga sempat saya tuangkan ke dalam proyek bertajuk Mahakam Graphic Score. Selain itu saya juga sering meng-explore soundscape atau suara-suara disekitar kita semisal suara jalan, suara orang berbicara, suara angin, dan masih banyak lagi dengan menggunakan teknik rekaman lapangan.

Tentang Forum Lenteng, kenapa kamu bisa terlibat disana?

Awalnya karena presentasi proyek Makaham Graphic Score saya di awal tahun 2018, yang berlanjut dengan residensi di Forum Lenteng untuk karya Sinyal Selatan, yaitu hasil rekaman dari suara-suara di Jakarta Selatan, khususnya Forum Lenteng, dekat tempat saya bermukim. Lalu saya pun melibatkan diri di proyek Milisifilem, karena saya ingin belajar tentang teori dan sejarah dunia perfilman bukan sekedar teknis pembuatannya. Dari sana saya jadi tahu betapa berpengaruhnya sebuah suara terhadap kesan visual.

Kenapa mengexplore soundscape menjadi menarik buat kamu?

Suara-suara yang kita dengar saat ini belum tentu sama di waktu kedepan meski tempatnya sama. Faktor-faktor pengubahnya bisa dari perubahan bentuk ruang, perubahan struktur kota, dan juga sifat-sifat orangnya. Entah kenapa, fakta tersebut membuat saya tertarik untuk merisetnya, mengolahnya menjadi karya, dan mengarsipkannya.

Menurut kamu, bagaimana perkembangan scene sound experiment di Samarinda?

Agak malas sih, hahaha. Dalam artian, komunitasnya harus menunggu ada moment dulu baru melakukan sesuatu bukan menciptakan moment itu sendiri, padahal potensinya besar banget. Semua Daerah di Kalimantan menurutku sama saja kondisinya, karena saya cukup terkoneksi dengan teman-teman di tiap daerah tersebut daan sempat membuat mixtape dari karya-karya teman-teman disana, kecuali Tarakan yang data-datanya saya tidak punya sama sekali. Intinya, mungkin gara-gara sound experiment ini sangat sedikit sekali penikmatnya disini, jadi pertanyaan yang munculnya adalah, buat apa capek-capek memperjuangkannya? Hahaha.

Lalu, alasan kamu untuk bertahan di ranah eksplorasi sound?

Karena menurut saya, ketika industri musik pop-nya jalan, harusnya ranah eksplorasi sound juga jalan juga. Menurut aku dua hal tersebut harus bergerak beriringan agar maisng-masingnya tidak stuck di perihal gagasannya, dan karena kebetulan saya lama di mengeksplorasi bebunyian, ya jadinya sekalian saja serius disana.

Respon masyarakat Samarinda terhadap aktifitas para pegiat sound art disini bagaimana?

Tentu masih banyak yang bingung, tapi justru itu tantangannya. Kami disini harus bisa menjelaskan tentang aktifitas kami terhadap masyarakat disini, dan harus tetap membumi, tidak memposisikan diri sebagai seniman, tapi sebagai masyarakat biasa juga, agar terciptanya hubungan yang tanpa jarak.

Untuk melihat karya-karya darinya, kalian bisa berkunjung di halaman website miliknya yaitu www.theonugraha.com.

Teks dan Wawancara: Rizki Firmansyah
Foto: Aditya Shorea Pratama/Faturrahman Alifadzri Arham/School Of The Arts Usm