Mempertanyakan Banyak Hal dengan Komunalisme Festival

Rumah Hutan Drupadi, sebuah ruang alternatif asal Palu, baru saja menggelar perhelatan rutinnya. Ruang yang mendedikasikan diri bagi para seniman untuk berkumpul dan berkarya ini, menyelenggarakan Komunalisme Festival pada 13 Juni 2019 kemarin. Tahun ini, festival tersebut memasuki kali ketiga. Secara khusus, Komunalisme Festival berfokus pada gerakan kolektif untuk mempersembahkan karya lintas media dengan semangat komunal. Caranya dengan mengawinkan beragam pertunjukan kesenian. Festival ini kemudian punya tujuan untuk mengekspos keberadaan keberagaman disiplin seni yang makin beragam di Palu. Scene kesenian di Palu, sedang berkembang dan variasinya jadi makin banyak.

Acara dimulai pukul tiga sore. Rio Simatupang jadi penampil pertama. Performing art dipilih sebagai mediumnya saat itu. Pertunjukannya dimulai dengan melumuri badannya dengan cat dan pigmen warna sambil duduk di sebuah kursi kayu yang diletakan di atas beberapa genteng yang sengaja disusun. Tema yang ingin disampaikan adalah mandi.

Rio menganalogikan mandi sebagai sesuatu yang sangat pribadi, sedangkan cat dan pigmen warna-warni sebagai sumber informasi yang masuk terus-menerus. Lalu genteng menggambarkan bagaimana fungsinya sebagai pelindung diri untuk bisa menyaring informasi yang masuk. Pertunjukan ini menarik, bagaimana Rio yang biasa mengkritisi sebuah isu melalui gambar-gambar yang ia hasilkan, kali ini melakukan sebuah pertunjukan secara langsung.

Selanjutnya ada Arfan Maraulo, seorang solois noise experimental. Dengan dua buah mic yang disambungkan pada sebuah efek vokal yang diletakan di atas wastafel, Arfan memulai dengan suara bising yang ia mainkan secara spontan. Mengenakan kaos bertuliskan Tolak Tanggul Teluk Palu, Arfan ingin menegaskan kritiknya terhadap upaya betonisasi sepanjang Teluk Palu oleh pemerintah yang menurutnya sangat tidak ramah dan bukan menjadi solusi.

Momen festival ini juga dimanfaatkan sebagai ajang silaturahmi antar sesama pengunjung yang berdatangan. Komunalisme Festival 2019 ditutup oleh pembacaan puisi dari Rohmat Yani. Puisi pertama berjudul Kepala Membantu, sajak yang sengaja ia ciptakan khusus untuk penampilannya di festival ini. Puisi ini berisi keresahannya akan pemegang kebijakan yang seolah absolut dalam mengambil keputusan walaupun sebelumnya sudah diadakan pertemuan yang melibatkan banyak pihak.

Dengan suara agak berat Rohmat membuka secarik kertas yang berisi puisinya lalu mulai membaca, serentak pengunjung hening dan menyimak bait demi bait. Setelah menyelesaikan puisi pertama Rohmat membuka sebuah buku yang masih tersegel, ia menjelaskan bahwa buku itu bernama Antologi Puisi, berisikan kumpulan puisi dari beberapa penyair di Indonesia, tiga diantaranya adalah orang Palu. Rohmat membuka satu halaman yang berisi puisi dengan judul Setiap Nama puisi yang ia tulis sendiri.

Di dalam puisi Setiap Nama, Rohmat menyampaikan bahwa mitigasi bencana di kota Palu sudah bisa ditebak dari jaman dahulu. Bagaimana orang tua dulu menamai beberapa daerah di Sulawesi Tengah berdasarkan kondisi alam yang terjadi pasca bencana besar beberapa tahun silam dalam bahasa Kaili (bahasa dari suku asli penduduk kota Palu). Rohmat mengkritisi kebijakan pemerintah melakukan pembangunan yang terkesan menyepelekan hal tersebut dan akhirnya berakibat fatal.

Ada yang spesial pada penampilan Arfan dan Rohmat pada sore hari itu. Sebuah karya cukil yang terpampang menjadi latar penampilan mereka berdua. Karya yang menggambarkan situasi belantara dengan pepohonan habis ditebang, di atas gambar pahatan itu bertuliskan ‘Manusia Dan Alam Itu Setara’ yang juga menjadi judul karya tersebut. Okta selaku pembuat karya ingin merespon perilaku manusia dalam memperlakukan alam, baik itu tumbuhan, hewan dan juga sesama manusia itu sendiri. Manusia yang seharusnya mengambil peranan untuk merawat justru terkesan mengeksploitasi dengan sangat tamak.

Sore itu sangat khidmat, suasana Rumah Hutan Drupadi yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan membuat orang-orang melupakan masalah sejenak. Tempat itu begitu dirindukan, beberapa tahun belakangan sempat ramai dengan aktivitas kreatif lalu seketika redup karena mulai sepinya kegiatan yang mereka selenggarakan. Komunalisme Festival mengembalikan keramaian itu. Semoga dengan adanya Komunalisme ini tempat yang terkenal dengan semangat berkomunalnya itu bisa aktif kembali, lalu semangat mereka untuk bangkit bersama bisa membantu memulihkan kondisi para korban bencana yang sekarang menjadi tetangga mereka. (*)

 

Teks: Inuputra Pratama
Foto: Arsip Komunalisme Festival

 

Geliat Kreatif Dari Sulawesi Tengah Dalam Festival Titik Temu

Terombang-ambing dalam kebimbangan akan keadaan telah kita lalui bersama di 2 tahun kemarin, akibat adanya pandemi yang menerpa seluruh dunia. Hampir semua bentuk yang beririsan dengan industri kreatif merasakan dampak...

Keep Reading

Memaknai Kemerdekaan Lewat "Pasar Gelar" Besutan Keramiku

Di pertengahan bulan Agustus ini, ruang alternatif Keramiku yang mengusung konsep coffee & gallery menggelar acara bertajuk “Pasar Gelar” di Cicalengka. Gelaran mini ini juga merupakan kontribusi dari Keramiku untuk...

Keep Reading

Semarak Festival Alur Bunyi Besutan Goethe-Institut Indonesien

Tahun ini, Goethe-Institut Indonesien genap berusia 60 tahun dan program musik Alur Bunyi telah memasuki tahun ke-6. Untuk merayakan momentum ini, konsep Alur Bunyi tetap diusung, namun dalam format yang...

Keep Reading

Head In The Clouds Balik Lagi ke Jakarta

Perusahaan media serta pelopor musik Global Asia, 88rising, akan kembali ke Jakarta setelah 2 tahun absen karena pandemi pada 3-4 Desember 2022 di Community Park PIK 2. Ini menandai pertama...

Keep Reading