Memorabi-Liar dalam Buku ‘Menanam Padi Di Langit’

“Menanam Padi di Langit” adalah sebuah novel biografi yang mengupas tentang tiga sosok perupa yang tumbuh di Yogyakarta dengan mengambil latar waktu pra-reformasi sampai dengan pasca reformasi, sebuah buku yang merekam geliat dunia seni rupa yang berkelindan dengan kondisi ekonomi, politik, dan budaya. Dalam buku ini sang penulis Puthut EA –yang juga kepala suku dari situs web Mojok.co- berhasil secara paripurna menguraikan perjalanan tiga orang sosok ikonik perupa asal Yogyakarta yang sekaligus tokoh kunci dari kolektif Taring Padi, yaitu Bob ‘Sick’ Yudhita Agung, Yustoni Volunteero, dan S Teddy Dermawan. 

Dengan pendekatan jurnalisme sastrawi yang cenderung mudah di pahami dan gaya bahasa yang sederhana dan cukup detail tanpa mengurangi keseriusan, Puthut berhasil menyita perhatian pembaca  untuk larut dalam tulisannya, maka tak pelak pembaca tak perlu waktu lama untuk mengkhatamkan buku yang berisi 313 halaman ini. Terlebih Phutut pun turut menjadi pelaku dan saksi dari beberapa peristiwa yang ia tulis. Tak luput ketika reformasi meletup pun di ulas secara beringas dalam buku ini beserta tetek bengek perlawanan yang nyentrik a-la seniman Yogyakarta kala itu. Di sini kita seakan-akan larut dalam pelbagai peristiwa penting ihwal jatuhnya rezim Orde Baru.

Kampus ISI (Institut Seni Indonesia) Yogyakarta menjadi gelanggang pertemuan semua tokoh yang ada dalam buku ini, dan seni rupa menjadi medium pertemanan antara Bob, Toni dan Teddy yang juga menjadi gerbang atas prestasi dan ke-gila-an (secara harfiah ataupun konotasi) hidup ketiga pemuda ini. Kehidupan masing-masing ketiga tokoh ini dengan apik di tuturkan satu persatu oleh penulis yang di bagi ke dalam beberapa bagian di awal.

Sedari kenakalan ketika duduk di bangku SMP sampai dengan masuk periode milenial yang dimana para tokoh sudah tidak lagi menjadi pemuda yang konyol namun telah berhasil menjadi perupa yang cukup di perhitungkan dalam segi karya dan gerakan. Bahkan Bob Sick yang di juluki presiden tattoo Indonesia ini telah berhasil meletakan kakinya di tanah suci –bahkan sempat viral di media sosial-. yang sebelumnya sempat mendapat penolakan dari beberapa agency umroh tak lain karena tattoo yang memenuhi sekujur tubuh dan mukanya

Sebagai pembuka kepada wacana yang lebih serius pada bagian ‘Mozaik Eksterior’ Puthut EA menguraikan beberapa keganjilan yang terjadi pada tahun 1965 yang sering kita kenal dengan istilah Gestok atau G 30 S dan bagaimana keterkaitannya dengan kreatifitas dan dinamika pergerakan para seniman di Yogyakarta pada saat itu, lalu kemudian diuraikan secara gamblang dan khusus pada bagian ‘Mozaik Interior’ dimana bagian ini lebih fokus kepada gerakan-gerakan mahasiswa Pra dan Pasca peristiwa Malari (Peristiwa 15 Januari) yang dimana gelagat diktatorian Soeharto telah terendus  oleh para aktivis mahasiswa dibeberapa kota khususnya Jakarta dan Yogyakarta.

(Bob Sick)

Sampai dengan generasi selanjutnya, puncak dari kemarahan mahasiswa dan massa rakyat  kepada rezim orde baru meletup pada tahun 1998. Koletif seniman Taring Padi menjadi salah satu wadah yang cukup vokal dalam  menggelorakan semangat perlawanan, tentu melalui corong seni yang dimana mereka aktif membuat  karya-karya visual yang cenderung bernuansa propaganda dan agitasi. Pergolakan dalam gerakan menumbangkan rezim orde baru di Yogya menunjukan bahwa seni memiliki perananan penting dalam hal tersebut. Gerakan-gerakan radikal yang  menghiasi panggung perlawanan ini tidak lain menggunakan  seni sebagai panglima (meminjam istilah Njoto) dalam melawan dan menggerakan massa. Dalam bagian ini pembaca akan berjumpa dengan beberapa istilah  yang sudah tidak asing lagi ketika sering membaca literatur tentang aksi 1998, seperti misal PRD (Persatuan Rakyat Demokratik), SMID (Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi), Pusat Perjuangan Buruh Indonesia (PPBI), Serikat Tani Nasioal (STN), dan Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (Jaker) juga tokoh-tokoh kunci seperti Widji Thukul, dan lain sebagainya.

Kembali lagi kepada ketiga tokoh sekawan bohemian Bob, Teddy dan Toni beserta kekonyolan yang di tuliskan secara terbuka di dalam buku ini. Jangan heran dari mulai halaman pertama sampai dengan akhir buku pembaca akan sering menjumpai kata mabuk, pil, alkohol, seks, dan kekonyolan lainnya yang di selingi dengan perjalanan personal sang tokoh dalam urusan cinta, keluarga, pertemanan yang begitu emosional.

Tak luput perihal musik yang terjadi pada pertengahan tahun 1990’an pun turut di bicarakan dalam bagian ‘Steak Daging Kacang Ijo’ yang tidak lain SDKI adalah nama band kuartet eksperimental –karena dalam band hanya Edo Pillu (drum) saja yang bisa bermain musik?- Bob (gitar), Toni (bass) , Teddy (vocal) dan Edo (drum). Demam musik grunge sedang merajai skena musik di  seluruh negeri, maka hambar rasanya membicarakan periode tersebut tanpa ada nama Kurt Cobain yang mati bunuh diri –dengan gayanya yang khas Puthut pun mengulas secara singkat kematian Kurt Cobain.

Peristiwa dalam buku ini di bagi ke dalam 20 bagian. Dari awal sampai akhir saya tidak menemui korelasi antara isi dan judul buku Menanam Padi di Langit yang terdengar begitu surealis, sampai pada bagian halaman akhir pertanyaan saya pun terjawab. Ternyata judul Menanam Padi di Langit di ambil dari sepenggal lirik lagu yang di buat oleh ‘Steak Daging Kacang ijo’ yang dinyanyikan dalam bahasa Jawa yaitu Nandur pari neng awang-awang. Hanya lirik itu saja yang dinyanyikan oleh Teddy dari awal sampai dengan akhir lagu diiringi dengan aransemen musik yang (barangkali) tidak karuan tapi berhasil menorehkan kenangan kepada generasi yang mereka wakili khususnya para seniman muda di Yogyakarta pada saat itu. 

Dari ketiga tokoh yang dibicarakan dalam buku ini, hanya Bob Sick saja yang hari ini masih hidup. 2016 lalu S Teddy Darmawan menghembuskan nafas terakhirnya di usia 46 tahun karena penyakit kanker, kemudian disusul oleh Yustoni Volunteero yang wafat pada 9 Juni 2018 pada usia 48 tahun. Tentu, kabar kepergian dua sekawan itu menyisakan banyak kenangan dan duka mendalam bagi para seniman di Indonesia. 

Teks: Dicki Lukmana
Visual: Arsip dari Berbagai Sumber

Terhubung Langsung di Collabonation Creative City Edisi Bandung

Setelah mengunjungi Makassar, Medan, dan Malang, Collabonation Creative City kembali melanjutkan perjalanannya. Kali ini Bandung yang menjadi titik pemberhentiannya. Collabonation Creative City hadir membawa semangat baru melalui rangkaian kegiatan salah...

Keep Reading

Program Menarik Bernama Women Composser Weekend

Merayakan Hari Perempuan Internasional yang jatuh di tanggal 8 Maret lalu, untuk pertama kalinya, Yayasan Bandung Philharmonic berkolaborasi dengan Komunitas Perempuan Komponis: Forum & Lab untuk meluncurkan dua program webinar...

Keep Reading

Libatkan Seniman Lokal, SOCA Wheels Luncurkan Program Luring SOCA Spinning Wheels Vol.1

Tak bisa dipungkiri, pandemi yang sudah terjadi selama lebih dari dua tahun ini sudah berhasil membuat repot semua lini, termasuk lini hiburan. Selama dua tahun itu pula kita disuguhi dengan...

Keep Reading

Bandcamp Resmi Bergabung dengan Epic Games

Bagi yang menggandrungi musik, tentu gak bakal asing dengan platform pemutar musik digital bernama Bandcamp. Dengan adanya platform tersebut para musisi bisa dengan mudah mendistribusikan karyanya, lewat platform itu pula...

Keep Reading