Memburu Hantu di Kaliurang

900mdpl akan kembali dilaksanakan. Sebagai proyek seni site-specific dua tahunan, gelaran tersebut menawarkan berbagai ruang kemungkinan sambil mendukung kelestarian dan persebaran memori lintas generasi. Kali ini judul yang dipilih adalah “900mdpl: Hantu-Hantu Seribu Percakapan” (Ghosts of a Thousand Conversations)”.

Melalui ingatan orang-orang yang hidup di sekitaran Kaliurang, sebuah desa di lereng selatan Gunung, Proyek tersebut berupaya membuat arsip alternatif dari situs-situs terkait dengan mengumpulkan mitos, kearifan lokal, kisah, dan sejarah alternatif.

900mdpl akan terdiri dari dua bagian: pertama, masa residensi yang menghasilkan berbagai proyek tunggal berbeda bagi tiap senimannya; kedua, presentasi proyek dari semua seniman di berbagai tempat di sekitar Kaliurang yang membawa pengunjung berjalan melewati rute pameran sebagai bentuk praktik spasial—menjadikan tempat fisik sebuah ruang pengalaman.

Judul edisi kedua “900mdpl: Hantu-Hantu Seribu Percakapan” (Ghosts of a Thousand Conversations) diambil berdasarkan metode penelitian yang menggunakan percakapan-percakapan dengan para tetua masyarakat di sekitar desa; dengan fokus pada apa yang terjadi di Kaliurang dalam lini masa sejarah Indonesia yang lebih luas.

Penggunaan kata “hantu” pada penamaan judul pun tidak hanya digunakan sebagai metafora atas memori dan ingatan, melainkan karena istilah tersebut sering pula digunakan untuk menormalisasi sesuatu yang belum dipahami, suara-suara tak terdengar, dan kumpulan kefanaan yang terus menjadi gema di masa lalu yang menghubungkan dunia kita dengan dunia yang tak terlihat.

Acara akan berlangsung dengan format penjelajahan area jalan raya yang pertama dibuat untuk menghubungkan kota Yogyakarta dan Kaliurang pada tahun 1923, fasilitas transportasi publik dan hiburan di masa itu pun akan tersedia di berbagai titik pada perjalanan.

Pengunjung akan diajak berkumpul di situs pasar tempo dulu sebelum perjalanan dimulai, sebuah tempat pertemuan Komisi Tiga Negara yang menghasilkan Notulen Kaliurang pada 13 Januari 1948 silam; berlanjut ke area Ngloji, tempat berdirinya bangunan kolonial tertua yang masih tersisa; dan berhenti di sebuah rintisan museum komunitas sementara di tengah-tengah perkampungan penduduk.

Proyek seni yang dikuratori oleh Mira Asriningtyas ini berlangsung dari 18 hingga 27 Oktober 2019 dan akan memamerkan sejumlah karya dari Paoletta Holst, Agung Kurniawan, Jomped Kuswidananto, Yudha Sandy, Arief Budiman, Lala Bohang, Rara Sekar, Mark Salvatus, Fyerool Darma, dan Maryanto.

Teks: Rizki Firmansyah
Visual: Arsip 900mdpl

Program Menarik Bernama Women Composser Weekend

Merayakan Hari Perempuan Internasional yang jatuh di tanggal 8 Maret lalu, untuk pertama kalinya, Yayasan Bandung Philharmonic berkolaborasi dengan Komunitas Perempuan Komponis: Forum & Lab untuk meluncurkan dua program webinar...

Keep Reading

Libatkan Seniman Lokal, SOCA Wheels Luncurkan Program Luring SOCA Spinning Wheels Vol.1

Tak bisa dipungkiri, pandemi yang sudah terjadi selama lebih dari dua tahun ini sudah berhasil membuat repot semua lini, termasuk lini hiburan. Selama dua tahun itu pula kita disuguhi dengan...

Keep Reading

Bandcamp Resmi Bergabung dengan Epic Games

Bagi yang menggandrungi musik, tentu gak bakal asing dengan platform pemutar musik digital bernama Bandcamp. Dengan adanya platform tersebut para musisi bisa dengan mudah mendistribusikan karyanya, lewat platform itu pula...

Keep Reading

Sandal Jepit Swallow yang Berevolusi Menjadi Sepatu

Untuk rilisannya sendiri, sneaker unik ini hadir dalam 4 series warna, yakni tersedia dalam warna merah-putih, hijau-putih, hitam-putih, dan biru-putih. Warna-warna yang khas dengan sandal jepit yang biasa kita pakai sehari-hari. Keempat series ini dibanderol dengan harga 129.900 dan tersedia dengan ukuran 37-44.

Keep Reading