Melihat Nuklir Bekerja Bersama Joko in Berlin

Facing straight into the flame

I’m stricken

Burn the atoms into place

I’m shapeless

Penggalan kalimat di atas adalah lirik untuk sebuah lagu teranyar dari kuartet pop elektro, Joko in Berlin. Membicarakan nuklir, tentu ingatan kita akan langsung mengarah ke hal-hal yang beririsan dengan kekacauan –semisal perang atau segala sesuatu yang bersifat kehancuran. Melalui single ke 10-nya yang berjudul ‘Vermillion Sky’ yang baru-baru ini dilepas, kuartet yang diisi oleh Mellita Sarah (vokal), Popo Fauza (keyboard), Fran Rabit (bass) dan Marlond Telvord (drum) ini membagikan sudut pandangnya tentang singkat keindahan rona merah langit tatkala nuklir meledak.

Lagu yang ditulis oleh Fran Rabit, digubah oleh Mellita Sarah dan PopoFauza ini merupkan sebuah aksentuasi dari sentuhan keajaiban Popo Fauza dalam aransemennya, ‘Vermillion Sky’ menampilkan karya epik tentang kehancuran dari perang nuklir. Dari judulnya sendiri, ‘Vermmillion Sky’ mengisyaratkan tentang keindahan langit  ketika nuklir meledak, warna vermilion yang memiliki padanan kata merah terang ini menonjolkan pemandangan yang indah untuk membuat kagum orang-orang yang putus asa dalam sepersekian detik lagi dari malapetaka yang akan segera terjadi.

“Semua hal yang terjadi berhenti dan berakhir dalam sepersekian detik. ‘Vermillion Sky’ adalah tentang sepersekian detik yang hanya bisa kita jalani, hari dimana mereka yang berkuasa memutuskan untuk meledakkan bom nuklir di atas kepala kita” terang Joko in Berlin dalam rilsan persnya

Pada dasarnya, lagu tunggal ini bercerita tentang warna langit di detik-detik terakhir saat terjadi ledakan nuklir. Secara visual barangkali kalian bisa memperegas bayangan kalian dengan melihat artwork dari single ini. Di lain sisi, “Vermillion Sky” juga adalah sebuah perumpamaan tentang orang-orang yang kerap menghabiskan waktunnya dengan bermalas-malasan atau melakukan segala aktivitas yang tidak produktif. Ya, barangkali ledakan nuklir di sini bisa diartikan juga sebagai bom waktu atas kemalasan yang kita lakukan hari ini.

“Kita suka tidak menyadari kalau kita sudah menghabiskan waktu kita dan saat kita sadar, waktu kita sudah habis” pungkas Joko in Berlin.

Memiliki nama grup yang cukup unik, Joko in Berlin merupakan penghormatan terhadap latar belakang band sebagai produk dari 2 budaya yang berasimilasi bersama. Yakni, Joko; Nama yang khas jawa, merupakan representasi dari lokasi asal band yaitu pulau jawa. Berlin adalah representasi dari pengaruh Eropa yang kuat di mana band mendapatkan ide-ide musiknya. Dibentuk pada tahun 2016 oleh Popo Fauza, Fran Rabit dan Mellita Sarah; Joko di Berlin dimulai sebagai pernyataan eksplorasi musik yang tidak terikat oleh pelbagai batasan –termasuk batasan dalam sebuah genre musik. Pada pertengahan 2019, Marlond Telvord bergabung sebagai drummer. Penambahan baru ini memantapkan Joko di Berlin sebagai kuartet musik dengan komitmen tak henti-hentinya untuk mengeksplorasi lebih dalam eksperimen musik yang tak terbatas dan tak terbatas.

Teks Dicki Lukmana
Visual: Arsip dari Joko In Berlin

Bersama Ello dan Virzha, Dewa19 Rilis Ulang Materi Lama "Still I’m Sure We’ll Love Again"

Dewa19 melanjutkan perilisan karya-karya lama mereka dalam format baru. Kali ini, mereka merilis “Still I’m Sure We’ll Love Again”, sebuah lagu dari album Format Masa Depan yang aslinya menampilkan vokal...

Keep Reading

Langkah Berikutnya dari Bilal Indrajaya

Usai melepas beberapa materi singel dan album mini Purnama (2019) solis dari Jakarta, Bilal Indrajaya, akhirnya melanjutkan perjalanannya dengan meluncurkan karya terbarunya bertajuk “Saujana” lewat label rekaman legendaris yang kini...

Keep Reading

Themilo Rangkum Perjalanannya di Nomor "Flow"

Dua dekade berlalu dan Themilo tetap berjalan dengan syahdu. Pada akhir Juli 2022, unit shoegaze dari Bandung yang berdiri sejak 1996 ini baru saja merilis single terbaru mereka berjudul “Flow”....

Keep Reading

Adaptasi Kehidupan Digital di Koleksi Terbaru Monstore

Jenama pakaian dan gaya hidup Monstore mengumumkan koleksi terbaru mereka dengan nama “New Fictional Temptation”. Koleksi ini diluncurkan sebagai rilisan ‘solo’; non-kolaborasi dari Monstore setelah berbulan-bulan lebih fokus bekerja sama...

Keep Reading