Melihat Jejak Monster yang Bernama Metallica

Pada tahun 2001, Metallica masuk ke sebuah studio di Presidio San Francisco, untuk mengerjakan album barunya di masa itu. Mereka memulai dengan “tanpa riff, tanpa lagu, tanpa judul, tanpa apa pun.” Untuk alasan yang pasti, hal tersebut tampak sangat luar biasa pada saat dulu. Kemudian, dalam proses rekaman tersebut mereka mengundang dua pembuat film dokumenter untuk merekam segala kegiatan yang mereka lakukan di dalam proses rekaman tersebut. Joe Berlinger dan Bruce Sinofsky adalah dua orang yang bertanggung jawab dalam sesi perekaman itu. Keduanya telah membuat beberapa dokumen terbaik di beberapa tahun silam, seperti “Paradise Lost: The Child Murders at Robin Hood Hills” (1996), yang dalam film tersebut mereka mengikuti segala gerak gerik dari tiga penggemar heavy metal yang hampir pasti tidak memiliki apa pun untuk dilakukan.

Sinofsky dan Berlinger mungkin berpikir ini adalah sebuah tugas rutin yang akan terus mereka lakukan di dunia musik. Pada kenyataannya, dalam dokumenter ini hanya ada sedikit musik dari “Metallica” dan lebih banyak menampilkan adegan berbicara yang memperlihatkan tiga anggota band (vokalis James Hetfield, drummer Lars Ulrich dan gitaris Kirk Hammett) saat mereka merekrut seorang produser, Bob Rock, untuk bermain bass. Selain itu, terdapat satu orang rekrutan lain yaitu seorang terapis bernama Phil Towle. Fungsinya adalah untuk membawa hawa kedamaian serta menenangkan hubungan antara Hetfield dan Ulrich yang pada saat itu keduanya sedang tidak akur dan bisa berakibat buruk untuk penampilan serta proses produksi dari album yang akan datang.

Para anggota band di rekaman tersebut benar-benar sangat frontal, mereka secara lugas menunjukkan berbagai kegilaan tertentu dibiarkan untuk difilmkan dengan ragam emosi yang berkobar, kata-kata menyakitkan yang mereka lontarkan antar satu dan yang lainnya, dan juga keterampilan Towle sebagai seorang terapis membuat kita bertanya-tanya apakah adegan-adegannya dihapus dari “This Is Spinal Tap.” Ada gosip yang mengatakan bahwa dia dibayar sebesar $ 40.000  perbulan untuk membuatnya merasa ingin mempertahankan pekerjaan tersebut, dan  sampai akhirnya Hetfield dan Ulrich bersepakat untuk menyingkirkannya dari sesi rekaman tersebut

Kemajuan produksi album terputus ketika Hetfield tiba-tiba masuk rehabilitasi selama berminggu-minggu dan berbulan-bulan, yang lain bahkan tidak tahu berapa lama dia akan pergi; dia kembali dalam setahun, sadar dan sungguh-sungguh mengikuti instruksi dari pusat rehabilitasi. Dia hanya bisa bekerja empat jam sehari, misalnya. Hal ini membuat Ulrich kesulitan: “Bagaimana Anda bisa membuat album bila saat malam kemaren tanpa tidur?. Sekarang, di waktu luangnya, kami melihatnya sering menghadiri kelas balet putrinya dan sebaliknya mencoba belajar bagaimana menjadi suami dan ayah.” Terang Ulrich saat mengatakan Hetfield sebagai “mementingkan diri sendiri.”

Ada petunjuk dalam film bahwa rehabilitasi Helfield sangat tidak benar, menurut Ulrich. Dia mendapat kunjungan dari ayah hippienya yang memiliki rambut panjang, yang masih memperlakukannya seperti anak kecil dan sering memberikannya sebuah pelajaran tentang musik, dan ada satu titik di mana dia menyarankan untuk menghapus lagu dari album karena “Itu tidak terdengar benar.”

Begitu banyak pertanyaan yang tidak terjawab, tentang bagaimana perasaan mereka menyoal Cliff Burton yang malang? Bagaimana perasaan mereka terhadap satu sama lain setelah 20 tahun? Bagaimana perasaan Ulrich perihal penyerangan situs download gratis bernamaNapster dan dibenci oleh para penggemar? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak pernah sepenuhnya dieksplorasi. Yang menarik di dokumenter ini tentu saja semua personel Metallica yang sangat amat masa bodoh dengan kelakuan mereka yang terekam oleh kamera dalam film ini. Dokumenter ini mungkin tidak dapat menjadi pelipur lara ketika album St. Anger tidak menghasilkan sesuatu yang memuaskan dan malah terdengar biasa saja. Namun, dari sini para penggila Metallica dapat melihat ragam kelakuan, hal-hal yang mengganggu dan membuat para personil menggila saat proses rekaman pada saat itu, dan turut merasakan susahnya suatu proses dalam sebuah rekaman.

RATED: 7/10

Teks: Adjust Purwatama
Visual: Arsip dari Berbagai Sumber

Efek Rumah Kaca Bawakan Ulang Lagu Candra Darusman

Candra Darusman, Signature Music Indonesia dan demajors merilis album kompilasi yang menampilkan karya-karya Candra Darusman: seorang musisi, pencipta lagu, penyanyi dan pemerhati hak cipta Indonesia. Kompilasi ini mengedepankan Efek Rumah...

Keep Reading

Ketika BLCKHWK Gambarkan Sisi Alami Sifat Manusia

Di awal tahun 2022 ini, BLCKHWK telah melepas album debutnya bertajuk Decomposing Rotting Flesh. Untuk memperpanjang nafas album, baru-baru ini unit yang dihuni oleh Arison Manalu (vokal),  Billy Rizki (gitar),...

Keep Reading

Karya Baru dan Rangkaian Tur Musik Isman Saurus

Di sekitar akhir 2021 lalu, solis asal Lumajang Jawa Timur, Ismam Surus telah melepas album penuh bertajuk Orang Desa. Sebagai rangkaiannya, di tanggal 24 Maret lalu ia telah melepas sebuah...

Keep Reading

Nuansa Anime di Karya Terbaru Moon Beams

Inspirasi untuk membentuk sebuah band bisa datang darimana saja, termasuk dari sebuah  anime. Jika kalian pernah menonton anime lawas berjudul BECK tentu tak akan asing dengan original soundtrack-nya bertajuk Moon...

Keep Reading