Melihat Detail Karya Leonardo Da Vinci

Royal Academy of Arts London telah menjadi lembaga seni besar terbaru yang bermitra bersama Google Arts and Culture untuk mendigitalkan lebih dari 200 karya-karya koleksinya. Dari karya-karya itu, 20 telah diarsipkan menggunakan teknologi Seni Kamera Google, yang bisa memberikan akses kepada para pengunjung ke situs dan melihat secara dekat detail dari masing-masing karya. Boleh dibilang karya yang paling menonjol yang berhasil diarsip dengan teknologi ini adalah salinan karya “The Last Supper” milik Leonardo da Vinci. Lukisan itu dibuat oleh sang seniman berkebangsaan Italia tersebut, bersama dengan murid da Vinci, Giampietrino, dan diyakini telah dibuat tak lama setelah atau bersamaan dengan karya aslinya yang sangat terkenal di dunia. Murid Leonardo yang lain, Giovanni Antonio Boltfraffio, juga kerap disebut-sebut telah mengerjakan salinannya.

Perbedaan utama antara kedua karya tersebut adalah bahan yang digunakan. Da Vinci melukis karyanya dalam tempura dan minyak di dinding, sementara salinannya diproduksi menggunakan cat minyak yang lebih tradisional di atas kanvas. Metode tradisional ini dimaksudkan dan berarti bahwa salinan tersebut telah berumur jauh lebih baik dan ragam detail yang ada bisa didapatkan kembali walaupun telah hilang dimakan waktu. Rinci detail karya ini sekarang dapat dilihat melalui versi digital yang memiliki resolusi tinggi, termasuk di sana adalah nampak kaki dari Yesus dan jari Thomas yang terangkat. Detail lainnya adalah gudang garam yang dihancurkan oleh Yudas, sebuah referensi untuk pengkhianatan yang nantinya akan dilakukannya.

Diluncurkan pada 2011 oleh Google Cultural Institute, Google Arts & Culture telah bermitra dengan ratusan museum dan galeri yang ada di seluruh dunia. Aplikasi ini secara nyata menghadirkan pameran dan koleksi dari sederet museum dan galeri secara digital dengan menggunakan pencitraan resolusi tinggi dan teknologi Street View yang sangat canggih. Hanya berbekal gadget, cari posisi nyaman, buka aplikasi, dan kalian dapat langsung menjelajahi berbagai macam tempat semisal Musée d’Orsay di Paris,  melihat lebih dekat buku harian Frieda Kahlo di Museo Dolores Olmedo di Mexico City, mengintip Rosetta Stone di British Museum di London, atau menjelajahi barang-barang antik Jepang di Museum Nasional Tokyo.

Tetapi Google Arts & Culture tidak hanya terbatas pada dunia seni saja. Setelah menguji teknologi Street View, Google Arts & Culture juga turut menawarkan tampilan dekat dari berbagai landmark di seluruh dunia, termasuk Piramida Giza, Gedung Opera Sydney, Teater Air Wuzhen, dan Colosseum. Hal tersebut dilakukan agar sensasi dan pengalaman yang didapatkan benar-benar nyata. Selain itu juga aplikasi ini menawarkan tur virtual Street View dari Stasiun Luar Angkasa Internasional.

Selain itu, terdapat dua buah fitur pintar yang diberi nama “Art Recognizer”  dan “Art Selfie”. Fungsi dari Art Recognizer adalah untuk melihat dengan jelas berbagai info dari setiap karya seni yang ada di beberapa galeri semisal Dulwitch Picture Gallery di London, Art Galley of South New Wales, dan National Gallery of Art di Washington DC. Caranya menggunakannya pun cukup mengarahkan ponsel kita ke sebuah lukisan, dan kecanggihan dari aplikasi ini akan menghadirkan semua informasi dari lukisan tersebut.

Teks: Adjust Purwatama
Visual: Arsip dari Google Art and Culture

Tentang Syukur dan Hidup yang Tak Tertebak di Lagu Terbaru Alahad

Beranjak menjadi solis, Alahad, moniker dari Billy Saleh yang sebelumnya dikenal sebagai gitaris dari band rock-alternative Polka Wars akhirnya kembali melanjutkan perjalanannya. Kali ini ia melepas sebuah nomor tunggal teranyar...

Keep Reading

Tambah Line Up, Hammersonic Siap Hadirkan 53 Band Metal dan Rock Dunia!

Setelah mengalami beberapa kali penundaan, festival musik metal raksasa Hammersonic akhirnya dipastikan siap digelar pada awal tahun 2023. Sebelumnya salah satu headliner yakni Slipknot telah mengumumkan konfirmasi lewat unggahan twitter...

Keep Reading

Kolaborasi Selanjutnya Antara Yellow Claw dan Weird Genius

Duo Belanda Yellow Claw kembali berkolaborasi dengan Weird Genius mengusung lagu baru bertajuk ‘Lonely’ bersama finalis Indonesian Idol Novia Bachmid. Weird Genius dan Yellow Claw sebelumnya pernah berkolaborasi di lagu...

Keep Reading

Reruntuhan Akhir Dunia di Album Keempat Extreme Decay

Usai melepas beberapa materi pemanasan menuju album barunya, unit Grindcore kota Malang, Extreme Decay, akhirnya secara resmi melepas album keempatnya pada 29 April 2022 lalu yang diberi tajuk Downfall Of...

Keep Reading