Meliantha Muliawan adalah seniman muda yang mulai muncul namanya beberapa tahun terakhir. Semenjak menyelesaikan studi di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (FSRD ITB) pada tahun 2014 silam, ia memulai petualangannya dengan bekerja di wilayah manajemen seni. Pekerjaan itulah yang membuat ia mengenal segala detil tentang dunia seni yang digelutinya saat ini. Dari situ, titik tolak karir kesenimanannya dimulai.

Pada awal Januari 2017, ia melakukan pameran tunggal yang didukung oleh REDBASE Foundation Jogjakarta. Pada pameran tersebut, ia menghadirkan figur anak-anak dalam setiap karyanya. Selepas itu, ia terus menciptakan karya dan mengikuti berbagai galeran seni lainnya. Di pertengahan tahun lalu misalnya, ia berpartisipasi di Art Jakarta.

Meliantha, sebagai seniman, kerap mengambil objek yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia sebagai si subtek atas karya, sadar betul bahwa setiap benda memiliki tempat masing-masing di dalam ruang imajinasi manusia. Dalam karya kain putih yang dipamerkan di Art Jakarta itu misalnya, pengunjung diajak untuk membebaskan ekspresi sesuai dengan sudut pandang mereka. Karya-karyanya juga suatu bentuk bagaimana ia memparalelkan imaji yang berangkat dari kesadaran tiap-tiap orang yang menikmati hasil karyanya.

Siasat Partikelir mendapatkan kesempatan untuk mewawancarai seniman yang sekarang menetap di Jogjakarta ini. Ia menjelaskan bagaiamana proses kreatif yang dilaluinya sebagai seniman. Selamat menikmati.

Pertanyaan standar yang harus ada. Sejak kapan mulai tertarik terjun ke dunia seni?

Dari kecil sih. Soalnya dari kecil memang sudah les dan hobi gambar-gambar. Tapi sekedar ketertarikan teknis. Baru suka secara kontekstual itu dari tingkat dua kuliah. Tahun 2011.

Ketertarikan itu yang membuat kamu mengambil kuliah di senirupa ITB ya?

Iya. Dan baru masuk ke dunia seni dan art scene ya setelah lulus kuliah. Pas aku kerja di manajemen seni dulu. Di situ aku kenal kolektor, kurator dan pelaku selain seniman. Nah, dari situ aku belajar mengenal sudut pandang sebagai orang yang nggak memproduksi karya seni, tapi sebagai penikmat seni. Dari situ aku makin suka suka sih. Jadi seni nggak melulu tentang teknis dan pengetahuan, melainkan juga menikmati, memahami dan sharing.

Di awal 2017, kamu melakukan residensi di REDBASE Foundation membahas isu anak-anak. Kalau boleh tahu apa yang membuatmu tertarik dengan isu itu?

Aku angkat isu anak-anak cuma dari redisensi saja. Karena menyesuaikan dengan program yang ada di sana. Tapi sebenarnya mostly karya aku nggak tentang anak-anak, tapi tentang benda sehari-hari. Yang nggak simbolis tapi cukup merepresentasikan hal yang ingin aku sampaikan.

Sebelum masuk ke benda sehari-hari, dari hasil residensi tentang anak-anak tersebut, tentu ada yang bisa diceritakan.

Iya. Aku jadi ada ketertarikan untuk menggali gambar figur anak-anak saat itu. Dan berbarengan dengan program REDBASE Foundaton yang memang memfasilitasi anak-anak penduduk sekitar untuk les menggambar setiap hari jumat. Figur anak-anak menarik saja buat aku. Karena dalam wujud anak-anak kadang mereka bisa berekspresi dan menunjukkan gesture yang dilakukan orang dewasa. Dan melihat anak-anak selalu membuat orang dewasa flashback mengenai dirinya di masa lalu dan dirinya saat ini. Semacam refleksi sih.

Konteksnya sekadar nostlagia atau ada sesuatu yang lain?

Nostalgia sih. Tapi di saat bersamaan menemukan persamaan antara hidup dan cara pikir anak-anak dengan apa yang orang dewasa lakukan.

Kadang orang dewasa kerap membunuh anak kecil di dalam kepala mereka ya. Oke, kita lanjut ke soal yang tadi, apa yang membuatmu memutuskan bahwa benda-benda sehari ini bisa diangkat sebagai sebuah karya?

Sebenarnya sampai sekarang membangun ambiance surreal masih jadi tantangan buat aku. Karena hasil akhirnya selalu nggak bisa diprediksi. Antara apa yang aku bayangin, ide dan uang dari spacenya. Cuma aku berpegang pada benda-benda keseharan yang umumnya tidak simbolis. Dan paling mudah ya benda-benda domestik. Dari sini aku berkesperimen bisa nggak ya benda-benda yang umumnya tidak dihiraukan dalam keseharian bisa menjadi benda penting untuk merenungkan suatu hal, dengan cara mengubah sifat dari objek tersebut di dalam karyaku. Nggak ada limit benda itu dirasa tepat untuk mengungkapkan suatu konteks. Dan kadang benda-benda yang remeh-temeh banget, menariknya dia nggak direct menuju suatu konteks, tapi bisa memunculkan beberapa layer sih ke publik. Entah dia menghubungkan dengan pengalaman pribadi dan memori akan benda itu. Jadi ya, nggak sekadar menghasilkan visual, tapi lebih dari itu bisa membuat publik merenung, refleksi dan berpikir mengenai kehadiran suatu benda menjadikan aku berpikir kalau ambiance surreal adalah approaching yang tepat. Dan itu semakin bikin karya dan audiance tidak berjarak.

Tapi, bukankah semua benda bisa membuat kita merenung?

Bisa. Kayak kamu ke dapur, kamu lihat kain lap. Terus kamu pasti cuek, nah PR aku gimana supaya kau jadi fokus ke kain lap itu dan dari lihat kain itu kamu ingat ibumu. Itu contoh kecilnya. Dari situ kamu bisa disaat bersamaan mengamati motif kain itu, ingat ibumu, nostalgic, lalu memikirkan fungsi kain juga. Semua itu membuat kamu refleksi, observasi dan semakin peka akan lingkungan dan yang terjadi di sekitarmu. Penggunaan benda sehari-hari sebenarnya bukan cara baru dalam seni rupa. Penggunaanya juga sudah common banget. Tapi yang berbeda dari tiap seniman bagaimana cara memperlakukan benda itu dan menghadirkan kembali di ruang seni. Walau semua karya berdasarkan perspektif aku, tapi sudut pandang dan respon publik selalu jadi nilai lebih untuk aku mengetahui sejauh mana benda dan pendekatan yang aku ambil bisa berdampak ke aku, ke lingkungan sosial, dan kembali ke aku lagi sebagai feedback. Seperti itu.

Sejauh ini, kamu mash meyakini bahwa surreal atau mengusung benda sehari-hari sebagai karya akan menjadi sesuatu yang yang kamu karyakan terus?

Iya sih. Karena surreal itu kan ketertarikan aku. Sedangkan tema yang dekat denganku adalah tema yang aku alami. Jadi merasa lebih dekat dan jujur saja ketika membuat suatu karya berdasarkan hal yang dialami dan disukai. Dan juga lebih menyenangkan proses penciptaanya.

Sejauh ini belum sampai titik jenuh?

Hmm. Aku biasa jenuh sih (Tertawa). Tapi motivasinya bukan jenuh terus ditinggalin profesi atau kerjaannya, tapi kayak habis ini apa ya? Jenuh kayak indikator buat next step sih. Jadi bawaanya ingin lebih banyak belajar dan cari possibilty baru.

Berarti sudah memantapkan diri menjadi seniman?

Bukan mantepin sih, aku sambil jalan saja (Tertawa). Jalanin apa yang sudah diplih. Soalnya kedepannya jadi apa di bidang apa kan masih belum ada yang tahu. Tapi sejauh ini aku menikmati profesi ini.

Kapan pameran dalam waktu dekat?

Nanti tanggal 6 Februari 2019 di Pacific Place, Jakarta dan tanggal 6 Maret 2019 di Sullivan and Stumpf, Sydney. (*)

 

Teks: Rio Jo Werry
Foto: Dok. Meliantha Muliawan