Bila diperhatikan, istilah “Matamu” memang mengandung ambiguitas. Pertama, bisa dimaknai sebagai sebuah kekaguman terhadap suatu bagian tubuh tertentu, sedangkan di sisi lain kata itu bisa berubah menjadi umpatan khas budaya Jawa. Christabel Annora, seorang pianis asal Malang, hadir kembali dengan single paling barunya. Ia sedang melekatkan tafsiran ganda pada single instrumentalnya yang bertajuk Matamu.

“Lagunya menceritakan tentang dua sisi kehidupan manusia. Multi interpretasi, sih. Kalau yang saya rasakan waktu mainin lagu ini, ada dua emosi berseberangan tapi dia ada di satu tempat yang sama. Ya seperti emosi ketika bilang ‘matamu!’ dan ‘matamu…’ tadi,” terang Ista, sapaannya.

Keinginan untuk membuat sebuah tembang instrumental sudah terpendam lama, namun baru bisa merealisasikannya di tahun 2019. Ista menceritakan bahwa Matamu dibuat secara tidak sengaja ketika ia sedang tes piano pada sebuah sesi rekaman di Edinburgh, Skotlandia, tempat ia sempat hidup.

Single ini juga disertai sebuah artwork visual yang dibuat sendiri oleh sang musisi. Ia membocorkan bahwa gambar seorang wanita tampak belakang yang tengah memperhatikan pemandangan alam, akan menjadi salah satu adegan di video klip Matamu. Ia juga berencana merilis album kedua di tahun ini. Semuanya akan menggunakan lirik Bahasa Indonesia.

Pilihan yang tidak populis dan fakta untuk memasukkan emosi ke dalam komposisi instrument merupakan tantangan tersendiri. Ia pun banyak mendapat inspirasi dari musik pop era 70-80an, terutama dari musisi asal negeri sendiri. (*)

Teks: Rizki Firmansyah
Foto: Megifanani/ Arsip Christabel Annora