Mari Bahu Membahu Membantu Klub Racun

Kebanyakan kota memiliki beragam venue mulai dari yang memadai, sampai yang biasa saja. Venue musik adalah salah satu hal paling krusial yang dimiliki negeri ini. Saking krusialnya, kadang banyak tempat yang beralih fungsi menjadi sebuah venue. Bukan tanpa sebab kondisi itu terjadi, paling besar sih di persoalan tidak adanya venue yang cukup memadai di banyak kota. Alhasil, inovasi-inovasi seperti ini kerap terjadi, dan terus berkelanjutan. Memadai di sini dalam artian, tempat yang bagus, tersedia toilet untuk transaksi besar ataupun kecil, alat-alat musik yang oke, dan banyak lainnya. Tempat-tempat kecil tersebut terus memberikan kesempatan yang tiada akhir bagi para musisi baru. Mereka selalu mempersilahkan siapa saja untuk mengembangkan dan mengasah bakat-bakat musik mereka yang masih muda dan segar. Sembari untuk terus menghidupi dapur mereka juga tentunya. Venue-venue musik ini juga sangat membutuhkan band-band muda agar bisa menjaga kancah musik lokal tetap menarik dan hidup untuk semua orang di daerah tersebut. Salah satu yang sampai saat ini masih ada adalah Klub Racun yang terdapat di Bandung.

Bandung adalah salah satu kota yang dari dulu hingga sekarang sangat menarik untuk dibahas. Musisi dan pergerakan industri pakaian di sana seakan tak ada habisnya. Satu hal yang cukup disayangkan, jumlah venue acara secara perlahan mulai berkurang. Tentu saja  kehilangan venue, berarti kehilangan sumber penghasilan dan sebuah taman bermain untuk unjuk karya masing-masing. Tak sedikit pula banyak sekali geliat kolektif yang mulai berkurang jumlahnya. Bentuk-bentuk seperti ini memang sering kita temui di mana-mana, paling gawatnya lagi adalah bila tidak ada yang melanjutkan semangat yang pelan tapi pasti akan segera padam ini.

Satu dari sekian banyak venue acara yang ada di Bandung, nama Klub Racun pastinya sangat dikenal oleh para penikmat musik. Mereka adalah tempat bernaung banyak band dari segala penjuru negeri ini bila sedang ke Bandung. Geliat mandiri dan kolektif adalah apa yang mereka gaungkan. 13 tahun lamanya tempat ini menjaga kokohnya semangat para pendiri, tapi lagi-lagi, tempat ini dihadapkan dengan masalah finansialnya di masa pandemi seperti sekarang. Jahkunx tetap konsisten memegang teguh jargon “Dari teman untuk teman”, “Gigs must go on!”, dan “Kalau bukan saya sendiri, mau siapa lagi?”. Dirinya adalah salah satu orang yang rela mengubur ego oportunisnya, memilih mengingat dan berpikat pada mimpinya dan sudah tentu pandai merawatnya. Maka tak aneh jika Klub Racun dan dirinya sudah terlibat dalam ratusan atau mungkin ribuan gigs.

13 mungkin banyak yang mengatakan adalah angka sial, ada benar dan tidaknya. Tapi bagi Klub Racun, di tahun yang ketiga belas ini, mereka diterjang badai covid yang menghancurkan banyak sektor industri. Namun karena komitmen akan menjaga dan merawat mimpinya, Jahkunx memilih memasang badannya lagi untuk Klub Racun, untuk kalian unjuk kreativitas, dan untuk tetap bisa kalian jadikan ‘taman bermain’ (kembali).

Salah satu caranya adalah dengan membuat merchandise khusus yang dimaksudkan untuk memberikan hawa segar bagi keberlangsungan hidup dari Klub Racun. Bersama Mad Merchandise dan seniman Bandung bernama Irvine Jasta, ketiganya merilis sebuah desain yang memiliki pesan “Equality” ke dalam dua buah kaos berwarna kuning dan putih. Kaos ini sendiri bisa kalian pesan dan lihat dengan mengklik di sini. Keuntungan dari hasil penjualan kolaborasi ini 100% akan disalurkan pada Klub Racun untuk menyiasati biaya operasional dan uang sewa tempat yang menjadi permasalahan utama Klub Racun akibat terjadinya pandemi. Apa yang dilakukan Mad Merchandise dengan Klub Racun kali ini  hanyalah sekedar bukti; jika memang mimpi dan obsesi berkolektif itu masih harus ada dan belum sempat mati, kami pikir hal-hal itu harus terus disemai dan harus terus tumbuh, hingga mengakar kuat dan sulit untuk rubuh atau terbunuh.

Teks: Adjust Purwatama
Visual: Arsip dari Klub Racun

The Box Perkenalkan Formasi Baru Lewat Live Session

Pandemi yang sudah berlangsung selama dua tahun ini telah membuat kita semua kembali dari awal. Menyusun ulang rencana dan mulai menata kembali langkah-langkah yang akan diambil. Kini industri sudah mulai...

Keep Reading

Sajian Ska Berbeda dari Slowright

Slowright, unit ska dari kota Malang baru-baru ini telah melepas album mini teranyarnya bertajuk Believe. Dirilis oleh label rekaman yang bermarkas di Yogyakarta, DoggyHouse Records, lewat rilisannya kali ini Slowright...

Keep Reading

Zizi yang Menyapa Kampung Halaman Lewat Hometown Tour

Setelah menyelenggarakan showcase perdananya yang bertajuk Unelevated Intimate showcase di Bandung pada akhir Februari lalu. Kini, Zizi kembali ke rumah tempat ia tumbuh dan menemukan passion terbesar dalam dirinya. Ia...

Keep Reading

Realita Kaum Pekerja di Nomor Kolaborasi Dzulfahmi dan Tuantigabelas

Dzulfahmi, MC dari kolektif Def Bloc dan Dreamfilled yang bermukim di Jakarta baru-baru ini (6/5) telah memperkenalkan karya terbarunya bertajuk “Rotasi”. Lewat rilisannya kali ini Dzulfahmi menggaet salah satu nama...

Keep Reading