Manipol Vs Orba: Nasib Rock N’ Roll Di Dua Kutub Berbeda

Agaknya musik selalu mejadi sasaran strategis para elit politik untuk melancarkan aneka macam kepentingan –termasuk menggalang dukungan. Riuh rendah persoalan di sekitar musik senantiasa mewarnai situasi politik pada zamannya masing-masing. Musik rock n’roll merupakan janin dari eksperimentasi musik blues yang selalu memukau bagi kaum muda yang terus berhasrat akan kebebasan. Barang tentu dalam persoalan, lain hal ini akan menjadi masalah tersendiri jika bersinggungan dengan penguasa.  

Di Indonesia sendiri, Pemerintahan Soekarno menganggap musik rock n’ roll sebagai racun yang akan merasuki jiwa pemuda dan budaya yang mengancam persatuan nasional. Beda halnya dengan Soeharto, yang malah menganggap rock n’ roll bisa menjadi alat kendali untuk  stabilisasi negara dan alat propaganda.  Apakah musik memang memiliki peran yang begitu penting? Hingga akhirnya masuk ke dalam medan yang lebih besar (baca: politik) yang (sama sekali?) tidak bertautan dengan hal-hal musikal.

Hal-hal diatas hanyalah sebuah asumsi dasar tentang pertautan yang dipaksakan antara musik dan politik di masa lampau. Lalu bagaimana nasib rock n’ roll di Indonesia pada era kepemimpinnan yang berbeda itu? 

De-Rock n’ Roll-isasi a la Soekarno

Kita sedikit kembali  ke awal mula musik rock n’ roll lahir. Di pelopori dengan munculnya artis kenamaan macam Elvis Presley, Bill Hailey and The Comets, The Beatles, dll. Lagi-lagi  negara Nekolim (Neo Kolonialisme) bernama Amerika dan Britania Raya atawa Inggris menjadi rahim musik ini lahir dan tumbuh. Penghujung tahun 1950-an, musik rock n’ roll berkecambah di seantero belahan dunia. Wabah musik ini kian merambat, termasuk  ke  dalam tubuh kebudayaan  Indonesia. Dengan sigap  sang pemegang otoritas  saat itu bersikap tegas akan situasi yang terjadi. 

Melalui MANIPOL-USDEK (Manifesto Politik – Undang-Undang Dasar 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia) lalu di tegaskan dengan Panpres Nomor 11 Tahun 1965, Soekarno menghalau segala bentuk kebudayaan yang datang dari barat. Tentu hal ini dilakukan untuk terlebih dahulu menggalang kekuatan budaya di tingkat nasional sebelum akhirnya maju ke langkah yang lebih jauh, Internasional. 

Dalam pidatonya Soekarno berkata dengan nada yang pasti menggebu-gebu:

“Dan Engkau, hai pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi. Engkau yang tentunya anti imperialism ekonomi dan penentang imperialisme ekonomi, engkau yang menentang imperialism politik, kenapa di kalangan engkau banyak yang tidak menentang imperialism kebudayaan? Kenapa di kalangan engkau banyak yang masih rock-n-roll rock-n-rollan, dansa-dansian ala cha-cha-cha, music-musikan ala ngak-ngik-ngok, gila-gilaan, dan lain sebagainya?”      

Idiom “Ngak-Ngak-Ngik” yang dipredikatkan untuk musik rock n’ roll mendadak menjadi polemik. Media dan kaum revolusioner menjadi begitu alergi kepada mereka yang memainkan musik gila-gilaan itu. Namun tidak demikian bagi anak muda yang nakal, yang selalu berhasrat tentang kebebasan. Di sekitar senjakala Demokrasi Terpimpin, budaya yang datang dari barat akan selalu dicurigai dan dianggap subversif –bahkan di ganjang. Kita ambil contoh sederhana tentang kasus dijebloskannya Koes Bersaudara ke dalam bui. Suatu ketika Koes Bersaudara sedang mengisi panggung pada sebuah pesta di daerah Petamburan, Jakarta Pusat. Ketika sedang membawakan lagu The Beatles, “I Saw Her Standing There”, tak disangka lemparan batu menghujani atap rumah, tentu dengan diikuti teriakan yang begitu revolusioner saat itu, “Ganjang Nekolim!”, “Ganjang Ngak-Ngik-Ngok!”, “Ganjang Manikebu!”. –kalau teman-teman suka baca buku sejarah pasti tau kelompok mana yang paling Revolusioner dan benci Manikebu-

Pertunjukan pun terhenti. Koes Bersaudara (Tony, Nomo, Yon dan Yok) pun dipaksa untuk meminta maaf atas kejadian itu, Tony akhirnya memenuhi permintaan, lalu dipaksa berjanji untuk tidak memainkan lagi lagu Ngak-Ngik-Ngok. –saat inipun kejadian semacam ini masih terjadi dengan konteks dan teriakan lain-. Berselang 4 hari, 29 Juni 1965. melalui Surat Perintah Penahan Sementara Nomor 22/023/K/SPPS/1965 yang dikeluarkan Kejaksaan Negeri Istimewa Jakarta, akhirnya Koes Bersaudara dijebloskann ke dalam penjara Glodok selama 100 hari dan baru keluar pada 27 September 1965.

Wartawan dan penulis senior Mochtar Loebis (7 Maret 1922-2 Juli 2004) merespon kejadian itu dengan gaya kritis nya yang khas: 

“Suratkabar2 di Djakarta menjiarkan penahan pemain musik Koes Bersaudara. Alangkah dungunja. Lagi pula tuduhan terhadap mereka melakukan aksi subversive karena main musik a la Beatle. Masalah resim Soekarno dgn segala alat kekuasaanja jang begittu hebat takut pada dua orang pemain music jang muda. Apakah Nasakom begitu rapuh hingga takut pada musik a la Beatle?”     

Disini kita bisa melihat bagaimana pemerintah berperan sebagai “penjaga budaya” yang hendak menyelamatkan nilai-nilai budaya adiluhung bangsa Indonesia. Mengingat saat itu Negara kita masih menjadi pemula dalam hal konsepsi karakter bangsa dan pembangunan nasional. 

Rock n’ Roll-isasi Orde Baru

Usai tumpuk kekuasaan di rebut, semua sektor kebangsaan diambil alih dan di dekontruksi. Soeharto adalah anti-thesis dari Soekarno. Perihal kebudayaan, Soeharto menghalalkan nila-nilai modernisasi  barat untuk mengekang pengaruh budaya daerah yang berpotensi mengancam dengan kecenderungan munculnya separatisme daerah. Sebaliknya, Soekarno selalu menggalang kekuatan budaya-budaya daerah untuk membentuk karakter bangsa yang nasionalis. Untuk urusan musik, Soeharto justru menyokong segala bentuk musik modern yang disiarkan di radio-radio. Saat itu banyak bermuculan radio-radio swasta yang dipermudah ijin siarannya, hal ini berhasil menggeser arus budaya yang sebelumnya eksis –termasuk musik.  pertunjukan-pertunjukan musik yang digagas anak muda tak luput didukung. 

Bahkan militer pun campur tangan dalam urusan ini. Pembentukan Badan Koordinasi Seni Komando Cadangan  Strategis Angkatan Darat (BKS-Kostrad) adalah pengejawantahan dari campur tangan ini. Lembaga ini giat berkeliling ke kota-kota besar di Indonesia untuk menampilkan jenis-jenis musik yang sempat dilarang pada masa pemerintahan Soekarno, semacam rock bising, tarian cha-cha-cha dan balada cengeng. Konon, mereka pun masuk desa. Sempat juga Angkatan Darat mengundang grup rock kenamaan asal Belanda, The Blue Diamonds, untuk melaksanakan tur musik di Indonesia dan berkolaborasi dengan biduan lokal seperti Titiek Puspa dan Ernie Djohan.

Ketika Orde Baru tampil berkuasa, kritik dan polemik yang disuarakan oleh musik mulai muncul dipermukaan. Band-band rock kian subur bermunculan. Fase ini seperti bulan madu, dimana para seniman yang dulunya terkekang lalu diberikan peluang untuk berkarya sesuka hati. Namun sayang, kebebasan itu hanya ejakulasi-dini semata alias “tak tahan lama”. Sebelum akhirnya naluri militerian Soeharto muncul.

Musik Rock n’ Roll akhirnya keluar sebagai pemenang atas sejarah percaturan budaya yang dilakukan penguasa politik lama. Kendati demikian, kemenangan itu hanya bias semata. Awal tahun 1970-1997 akhir teramat banyak musik yang dilarang beredar. Dalihnya pun beraneka ragam. Sampai pada tarap yang lebih serius pengendalian ini diatur secara konstitusional dan bisa saja berakhir didalam bui seperti Koes Bersaudara.

Teks: Dicki Lukmana
Visual: Arsip dari Berbagai Sumber

Plvmb Memulai Debut Dengan Blue

Bandung kembali memiliki kuintet indiepop yang terdiri dari Vina Anesti (Vokalis), Azka Aulia Rachman (Bass), Diaz Febryan (Drum), Salman Wahid Putra Kamaludin (Gitar), Irfan Zahid Abdussallam  (Gitar). Mereka tergabung ke...

Keep Reading

Superglad Yang Kembali Melangkah

Superglad adalah band yang namanya tidak perlu lagi dipertanyakan di kancah musik tanah air. Setelah diterpa berbagai permasalahan yang sempat terjadi di dalam tubuh mereka, band yang terbentuk sejak tahun...

Keep Reading

Meramu Crossover Hardcore Ke Tahap Terbaru

Dari Sidoarjo, unit Crossover Hardcore yang tergabung dalam Voorstad akhirnya merilis mini album terbaru dengan tajuk Self-titled melalui label Greedy Dust Records. Ini merupakan rilisan kedua Voorstad setelah pada awal...

Keep Reading

Penegasan Warna Terbaru I Punch Werewolf

Penegasan eksistensi I Punch Werewolf melalui video klip lagu terbaru dengan judul Broken. Unit ini terus menggebrak kancah musik dengan beragam rilisannya. Untuk lagu ini sendiri dibuat lebih mengayun, namun...

Keep Reading