Manifestasi Kebenaran Laissez-Faire dalam Album Penuh Parrhesia

Setelah berjibaku selama dua tahun pengerjaan album, unit hardcore-punk asal kota Malang, Laissez-Faire, akhirnya melepas album penuh keduanya bertajuk Parrhesia di bawah panji label rekaman Samstrong Records. Parrhesia konon alahir dari sebuah kondisi yang serba tak mendukung, kegagagalan tur akibat pandemi adalah salah satu pemicunya.

Parrhesia lahir ditengah keresahan mereka lantaran kondisi yang tidak mendukung, dimana seharusnya mereka melakukan agenda tour album pertamannya namun harus terhalang oleh virus covid-19 yang menyebabkan seluruh dunia lumpuh” tulis Laissez-Faire dalam keterangan pers.

Secara garis besar diksi “Parrhasia” sendiri sepadan dengan makna umum “Menyatakan Kebenaran” dengan menautkan antara kepercayaan dan kebenaran itu sendiri. Lebih jauh, Laissez-Faire juga mengartikan “Parrhasia” secara lebih dalam dan ekstrim dengan meminjam pemahaman filsuf kelahiran Prancis, Paul-Michel Foucault, yang menyatakan bahwa kebenaran adalah ‘permainan’ hidup dan mati, karena setiap kebenaran itu pasti membawa akibat menyakitkan bagi lawan bicaranya.

Pemahaman Foucault tersebut Laissez-Faire manifestasikan dalam sebuah penggalan lirik di nomor “Delusi”; Tanpa kesalahan, manusia akan tetap menjadi binatang, tetap terbang bersama kebencian pada nilai.

Dikabarkan, album yang memakan waktu pengerjaan cukup lama ini merupakan langkah Laissez-Faire menuju agenda besar yang sudah dirancang, salah duanya adalah agenda perayaan satu dekade Laissez-Faire berdiri dan agenda South East Asia Tour di penghujung tahun 2022 mendatang.

Laissez-Faire sendiri merupakan unit yang sudah berdiri sejak tahun 2012. Sedikit ke belakang, unit yang kini dihuni oleh Yusuf (vokal), Hisyam (gitar), Adul (gitar), Alomo (bas), dan Bagus (drum) ini telah merilis demo pertamanya di tahun 2013 ketika mereka masih menamakan bandnya Heuristik. Sekian waktu berjalan perpecahan pun tak bisa terelakan, ditandai dengan hengkangnya sang vokalis. Di sekitar tahun 2017 akhirnya Heuristik berevolusi menjadi Laissez-Faire.

Menyandang nama Laissez-Faire, akhirnya mereka kian serius tancap gas dan mulai mengerjakan debut album perdananya yang diberi tajuk Kamuflase (2019) secara mandiri yang dicetak terbatas 500 copy ke dalam format fisik.

Dipermulaan 2022 ini mereka kembali hadir dengan Parrhesia yang kini sudah tersedia di berbagai kanal pemutar musik digital.

Teks: Dicki Lukmana
Visual: Arsip dari Laissez-Faire

Tambah Line Up, Hammersonic Siap Hadirkan 53 Band Metal dan Rock Dunia!

Setelah mengalami beberapa kali penundaan, festival musik metal raksasa Hammersonic akhirnya dipastikan siap digelar pada awal tahun 2023. Sebelumnya salah satu headliner yakni Slipknot telah mengumumkan konfirmasi lewat unggahan twitter...

Keep Reading

Kolaborasi Selanjutnya Antara Yellow Claw dan Weird Genius

Duo Belanda Yellow Claw kembali berkolaborasi dengan Weird Genius mengusung lagu baru bertajuk ‘Lonely’ bersama finalis Indonesian Idol Novia Bachmid. Weird Genius dan Yellow Claw sebelumnya pernah berkolaborasi di lagu...

Keep Reading

Reruntuhan Akhir Dunia di Album Keempat Extreme Decay

Usai melepas beberapa materi pemanasan menuju album barunya, unit Grindcore kota Malang, Extreme Decay, akhirnya secara resmi melepas album keempatnya pada 29 April 2022 lalu yang diberi tajuk Downfall Of...

Keep Reading

KIAMAT Bagi Rekah di Album Perdananya

Sejak kemunculannya di medio 2015 lalu, unit skramz/blackgaze Rekah sudah mencuri perhatian dengan materi-materi musiknya. Tujuh tahun berlalu, bertepatan dengan Hari Buruh Internasional yang jatuh di awal Mei 2022 lalu,...

Keep Reading