Malik dan Mesinsuara Dalam Kancah Kreatif di Sukabumi

 

Gotong royong adalah ciri khas bangsa ini sejak dulu kala. Maka dari itu, tak heran bila kita kerap kali melihat beragam geliat dari kolektif-kolektif yang tersebar di seluruh wilayah Nusantara. Tak hanya bergerak secara individu, kolektif ini pada kenyataannya saling bersinergi dan menjalin hubungan antar satu dan yang lainnya. Lalu dalam perkembangannya, mereka tidak hanya sebagai gerakan semisal penggagas gigs dan pameran, lebih dari itu mereka juga menghadirkan sebuah wadah untuk bisa mengabarkan apa yang sedang dikerjakan. Salah satunya adalah media daring.

Hal serupa juga terjadi di Sukabumi. Pergerakan kancah independen di sana bisa dibilang bukan main berkembang dengan pesat dan juga baik. Jika kita saat ini mengunjungi kota tersebut, bisa dipastikan akan dibawa untuk mengunjungi sebuah tempat bernama Rumah Mesra dan Mesinsuara. Keduanya diurus oleh orang yang sama, tapi fungsinya sedikit berbeda. Bila Rumah Mesra digunakan sebagai ruang alternatif  untuk semua orang yang ingin berkegiatan dan berkarya, Mesinsuara difungsikan sebagai media daring baik radio maupun platform lainnya.

 

 

Dari kedua wadah tadi, mereka selalu aktif untuk menggelar kegiatan dengan bermacam komunitas kreatif yang ada di dalam ataupun dari luar Sukabumi. Intensnya melakukan kegiatan-kegiatan tersebut yang membuat jaringan yang mereka miliki tak hanya di seputar kota tersebut. Musik yang menjadi salah satu gairah mereka pun telah menjadi gerbang untuk menuju ke ragam pertemuan dan pertukaran ilmu serta informasi yang dibutuhkan. Keistimewaan apa yang dimiliki oleh Mesinsuara yang memiliki fungsi sebagai sebuah media daring? Di kesempatan ini kami mencoba untuk mengulik banyak hal bersama Nasrullah Abdul Malik yang memiliki peran penting dari semua hal yang terjadi di kedua wadah tersebut. Silahkan disimak.

 

Seperti pada umumnya, semua orang pasti ingin tahu awal mula hadirnya media ini. Seperti apa ceritanya?

Sukabumi 2014, Kami dikelilingi teman-teman yang bermain musik, selagi Malik bekerja di radio lokal, kami berpikir, “Kalau semua kawan-kawan ngeband, terus yang ngurusin sisanya siapa ya?”. Yang bikin gigs, yang bantu promo, yang bikinin videoklip, yang bikin berita pers dan lain-lain. Dari situ kami fokus, keluar kerja deh dan membangun sesuatu yang bisa menjadi support system untuk musik. Munculah ide Mesinsuara. 

Kami suka dengan pertanyaan ini, boleh ya cerita lebih panjang, karena mengingat lagi gimana waktu itu berdarah-darah. 

Kami sewa kosan RP 700 ribu per bulan, untuk bikin studio rekaman amatir, bantu temen-temen mixing, mastering, rekaman dengan alat sederhana, uangnya dari mana? Muterin dari teman-teman band yang bayar sukarela, dan tabungan dari kerjaan sebelumnya. Saat itu kami belum benar-benar paham apa itu kolektif dan budaya DIY – Do It Yourself .Ed –, kami hanya paham bahwa kami senang melakukan ini, enggak ada visi besar disana, hanya menjalani apa yang sepertinya kami ditunjuk untuk melakukan itu.

Pada awalnya Mesinsuara dikenal sebagai radio online. Apakah di awal memang dirancang untuk menjadi bentuk itu atau ada bentukan lainnya?

Radio bagi kami waktu itu cukup dekat ya, selain beberapa orang bekerja di radio. Juga kayaknya keberangkatan yang cocok, karena radio dan musik mempunyai hubungan yang  mesra. Ya pada saat itu radio masih jadi media pemutar musik. Semua serba kebetulan saja, enggak ada arah yang spesifik Mesinsuara harus jadi radio dan selalu jadi radio.

Cuma kami cukup sadar kalau radio itu secara kedekatan, tidak bisa tergantikan. Seperti contoh kamu mendengarkan musik di Spotify itu akan beda rasanya, kedekatannya.

Sebagai sebuah media, apakah Mesinsuara sudah cukup berperan di ranah tersebut?

Yang kami lakukan hanyalah memanfaatkan konvergensi budaya populer yang bermigrasi ke ranah media baru yaitu situs jejaring sosial. Indikator yang terukur untuk media baru hanyalah engagement rate dan kami rasa kami belum memiliki pengaruh yang besar untuk itu. Namun, di balik itu semua, ada kesamaan fundamental untuk media baru dan skena kolektif yang selama ini kami upayakan yaitu semangat kolaborasi yang terus-menerus digaungkan agar dapat setidaknya mengisi kekosongan sehingga tidak lagi ada kesenjangan generasi dari perubahan pola hidup analog menuju digital.

 

 

Cakupan yang dirangkul oleh Mesinsuara sejauh apa hingga saat ini? Boleh diceritakan?

Media pemberitaan musik: Kami masih intens membuka e-mail dan saling mengabari untuk berita-berita baru musisi-musisi seluruh Indonesia, tentu saja treatmentnya adalah pertemanan, membantu semaksimal mungkin mengabarkan berita itu dengan gaya kami.

Talent Manajement/Supporting:  Kami beberapa kali membuat dan membantu tur mandiri untuk beberapa musisi, seperti Joe Million tour Indonesia dan Eropa. Lalu ada membantu tur teman-teman Dialogsenja, Suar & Temaram dan lain-lain. Kami hanya mengandalkan jaringan pertemanan yang dibangun dari 2015, lalu membantu beberapa musisi untuk merilis album, membuat launching musisi, dan membantu membuat strategi hingga pengemasan dari album mereka, sebenernya sebagai peran sih lebih seperti label.

Radio Online : Hingga saat ini radio sudah kayak mainan utama saja. Kadang format dan platformnya berubah-ubah. Di era pandemi ini kami justru mengakali siaran melalui Instagram Live, eksplorasi kedalam bentuk tv, tujuannya sih agar lebih gampang diakses

Gigs Organizer : Sejak 2015 setidaknya  hampir tiap bulan sampai saat ini kami intens membuat gigs, dari mulai musik underground hingga musik elektronik. Beberapa orang di Sukabumi malah menganggap kami event organizer, tapi kayaknya enggak tepat saja sih, karena yak tidak cuan di sana hahaha.

Apa yang membedakan Mesinsuara dengan media lain yang ada di Sukabumi?

Pertemuan.

Bagi kami media lebih dari tentang pemberitaan tetapi sebuah ekosistem yang berkelanjutan dengan segala irisannya, kami rutin membuat gigs musik dari 2015 hingga kemarin, bagi kami itu sebuah media, ajang pertemuan informasi. Disitu ada arus jejaring juga, jadi ketika kita ketemu langsung dan mengabarkan langsung dan bercerita langsung, itu juga sebagai media pemberitaan. Itu yang kami yakini dan kami amini sampai sekarang.

Malik sebagai seseorang yang berperan penting di Mesinsuara, bagaimana melihat Sukabumi dari kacamata seorang penggiat musik/media?

Membingungkan sih yak, sulit banget ditaklukan ini kota. Mungkin karena secara geografis juga Sukabumi ini kecil dan terletak diantara dua kota yang mempengaruhi secara budaya pop, Jakarta dan Bandung. Tapi saya melihat bahwa Sukabumi sedang seksi, akhirnya titik titik yang ada mulai terrhubung. Mulai banyak musisi baru lahir. Secara visi dan misi saya sebenarnya belum menaklukkan kota ini, masih sering terjadi kesenjangan informasi. Tapi saya enggak punya pilihan, saya lahir di Sukabumi, saya harus membuat suar berupa suara di kota yang nol persen alkohol ini.

 

 

Apakah Sukabumi sebelum adanya kalian, pernah memiliki media alternatif dan art space?

Saya rasa sudah ada, art space di pelosok Sukabumi juga masih ada, media alternative di era fanzine juga itu yang menginspirasi kami. Contoh ada Sidik Jari dan lainnya

Respon terhadap Mesinsuara seperti Bagaimana dari awal hingga kini?

Tentunya bermacam-macam, mengingat dari brand positioning Mesinsuara kurang kuat di satu sisi, karena banyaknya bentuk kegiatan yang kita lakukan. Citra yang paling kuat bahwa Mesinsuara adalah “Anak-anak yang sering bikin acara”, itu cuitan dari masyarakat Sukabumi. Di beberapa kasus, banyak yang tidak menyadari bahwa Mesinsuara berangkat dari Sukabumi.

Peran dan fungsi suatu media menurut Malik sendiri seperti apa?

Menurut pendapat saya pribadi, media hari ini benar-benar bias, arus informasi kan kencang banget tuh. Peran dan fungsinya sih lebih kearah arena pertukaran informasi saja, makanya saya enggak melihat bahwa media itu hanya sekedar di Instagram. Di setiap gigs adalah media, bahkan di tiap botol-botol alkohol yang dikonsumsi bersama teman baru itu sudah menjalankan peran media sebagai arena bertukar informasi.

Tiap media pasti ada formula tersendiri untuk merilis suatu berita. Kalo Mesinsuara seperti apa proses kurasinya?

Tidak ada. Kami hanya mengibaratkan setiap karya dan peristiwa sebagai sebuah deck presentasi yang akan kami pelajari. Bukan tentang kesesuaian personal taste ataupun kedekatan isu, namun lebih kepada sekuat apa hal tersebut dapat memberikan sebuah alasan dan call-to-action terhadap kami.

Ada hal menarik enggak selama masa perkembangan Mesinsuara hingga saat ini?

Tiap perjalanannya menarik, justru orang yang bertahan di Mesinsuara adalah anak-anak yang enggak ngeband. Yang selalu menarik adalah kita tiap tahun sering membuat silaturahmi ke teman-teman beberapa kota dengan balutan program tur. Inti dari program itu ya ingin lebih kenal dan eksplorasi tukar informasi. Alhasil dari silaturahmi itu enggak sedikit menghasilkan program baru seperti tur Eropa Joe Million bersama Indra Menus, lalu bisa ada di Synchronize dan Soundrenaline, bagi kita itu pengalaman yang menarik, bertemu orang-orang baru.

 

 

Oh ya, konten seperti apa yang paling banyak diminati oleh orang-orang pada umumnya bila dilihat dari traffic yang dimiliki oleh kalian?

Kalo lihat di analytics, justru konten yang banyak diminati itu konten ngawur dan sembarang ya. Jadi kita sering make up konten rilisan baru dengan penggunaan meme yang viral.

Apakah konten harus merepresentasikan sosok dari si media itu? Boleh dijelaskan?

Untuk mencapai suatu identitas, citra dan branding biasanya harus selaras. Namun, bukan berarti model tersebut adalah sebuah hukum alam atau hukum fisika. Fleksibilitas dan kemampuan pivoting sebuah media kami rasa juga dibutuhkan pada saat tertentu. 

Kedepannya Mesinsuara ingin berkembang ke arah seperti apa?

Sebenarnya kami sedang menyusun sebuah kelas singkat bernama “File Transfer” untuk pelaku musik di Sukabumi. Jadi kami berperan sebagai keran, kami yang mencari sumber airnya yaitu pemateri dan tinggal tunggu siapa saja nanti yang haus (musisi lokal Sukabumi). Kami harap sih Mesinsuara tidak hanya sebagai media pemberitaan, kami ingin Mesinsuara menjadi gejala, peristiwa penting kebudayaan.

 

Teks: Adjust Purwatama
Visual: Arsip dari Mesinsuara

Semarak Festival Alur Bunyi Besutan Goethe-Institut Indonesien

Tahun ini, Goethe-Institut Indonesien genap berusia 60 tahun dan program musik Alur Bunyi telah memasuki tahun ke-6. Untuk merayakan momentum ini, konsep Alur Bunyi tetap diusung, namun dalam format yang...

Keep Reading

Head In The Clouds Balik Lagi ke Jakarta

Perusahaan media serta pelopor musik Global Asia, 88rising, akan kembali ke Jakarta setelah 2 tahun absen karena pandemi pada 3-4 Desember 2022 di Community Park PIK 2. Ini menandai pertama...

Keep Reading

2022, Jazz Gunung Kembali Lagi!

Setelah lebih dari dua tahun berjibaku beradaptasi dengan pandemi, kini pertunjukan musik kembali mendapatkan ruangnya kembali. Satu persatu festival musik muncul lagi. Salah satunya adalah Jazz Gunung yang tahun ini...

Keep Reading

Turtles. Jr Bakal Jajal Rebellion Fest di Inggris

Grup punk rock asal Bandung, Turtles Jr, baru-baru ini telah berbagi kabar gembira. Unit yang dihuni oleh Boentar (drummer), Boodfuck (vokal), Dohem (bass), dan Buux Frederiksen (gitar) ini di tanggal...

Keep Reading