Perkembangan zaman adalah keniscayaan. Cepat atau lambat, arus deras perubahan akan menyembur ke berbagai sisi kehidupan. Industri musik pun pasti bakal mengalaminya. Maka dari itu, sudah seharusnya para praktisinya terus mengupgrade diri agar senantiasa dapat menyesuaikan diri dengan waktu yang berputar kencang.

Relevansi adalah kuncinya. Agar dapat bertahan para pelaku di bidang apa pun mesti bisa menjaga karya, profesi, jasa, hingga karirnya supaya tetap relevan dalam situasi yang serba dinamis. Major Label misalnya, apakah perkembangan zaman mampu menggeser singgasananya dalam industri musik?

Sebagian orang pastinya sudah tau bahwa dulu, ada masanya major label menjadi destinasi impian bagi para musisi seantero jagat. Pasalnya, mereka memiliki cakupan pasar yang luas, daftar titik distribusi yang lengkap, lalu jaringan partnershipnya pun meliputi banyak badan-badan penting dalam skala industri musik. Semua itu merupakan paket ekslusif yang dimiliki oleh label arus utama. Mereka memonopoli jaringan.

Saat itu, bisa dibilang bahwa dipinang oleh Major label adalah mimpi basah bagi band atau para musisi. Pada akhirnya terjadilah sebuah kompetisi yang tak terhindarkan diantara mereka, dan di saat itu pula, tersiar kabar bahwasanya label arus utama seringkali mengintervensi  hingga ke wilayah kreatifitas senimannya, atas nama kepentingan pasar.

Selanjutnya, tibalah kita di suatu era dimana ruang dan waktu bukanlah masalah untuk sebuah pertemuan. Kehadiran internet, membuat jarak tak lagi jadi soal. Lantas, masing-masing orang membuat jaringannya sendiri. Tanpa tergantung dengan institusi-institusi besar, kemandirian dalam memasarkan suatu karya bukanlah sesuatu kemustahilan.

Kehadiran band-band arus pinggir dalam kancah musik Indonesia jelas memberikan warna baru. Tidak hanya dari Ibu Kota, talenta-talenta berbakat yang terdapat di tiap sudut Indonesia memberikan sumbangsih dalam tren ini. Perlahan selera pasar musik di Indonesia semakin beragam. Sentralisasi distribusi musik di bawah naungan major label ikut berkurang. Tren ini juga beriringan dengan mencuatnya label-label independen yang menjadi motor distribusi dari beberapa band.

Bisa dibilang kemunculan internet menimbulkan banyak pergeseran dalam berbagai sisi kehidupan. Gerakan label independent yang tadinya terpojokkan dan nyaris semaput, kini malah dapat menggaungkan namanya hingga ke taraf internasional. Jaringan yang tadinya hanya dikuasai oleh golongan-golongan raksasa dalam industri musik, kini dapat di akses banyak pihak.

Label independen dinilai lebih fleksibel dan memberikan rasa nyaman kepada band yang mereka orbit, bahkan beberapa label rekaman juga lahir dari band itu sendiri hingga merambah untuk mengorbitkan band-band lainnya. Contohnya, Euforia Records milik Erix Soekamti dan Doggyhouse Records milik Shaggydog. Tak heran jika band-band yang pernah tumbuh di lingkungan major label sekelas Sheila On 7, Project Pop hingga Naif memutar haluan untuk mengelola semuanya secara mandiri.

Tapi meski tidak lagi jadi primadona, major label masih memiliki posisi yang menjanjikan. Tentu saja itu karena idealisme pasar yang mereka anut. Hanya saja, kini treatmentnya menjadi beragam. Mereka juga melakukan banyak penyesuaian. Namun yang pasti, saat ini label independent pun memiliki kesempatan sama dalam mencakup pasar yang sebelumnya sama sekali tidak tersentuh.

Jawaban-jawaban atas pertanyaan tentang kedua label ini telah kami rangkum dari sesi Festitalks saat Soundrenaline 2019 kemarin. Berikut video lengkap dari Festitalk: Tarung Major vs Indie.

 

Teks: Rizki Firmansyah dan Inuputra
Visual: Arsip Foto Dari Google & Arsip Video Dari Siasat Partikelir